About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Friday, March 16, 2012

Books "EYE OF THE CROW"


Judul Asli : The Boy Sherlock Holmes 1st Case – EYE OF THE CROW
Copyright © 2007 by Shane Peacock
Penerbit : Qanita  
Alih Bahasa : Maria Lubis
Editor : Ananta
Illustrasi Isi & Sampul : Sweta Kartika
Cetakan I : Oktober 2011 ; 368 hlm  
Rate : 4 of 5

Sinopsis :
London, 1867, seorang anak muda berusia tigabelas tahun dengan tubuh tinggi kurus dan kulit pucat, berpenampilan rapi dan bersih, mantel panjang hitam dengan dasi serta rompi dan sepatu bot yang disemir mengilap, tatapannya sedih namun jika dilihat dari dekat mata kelabunya tampak selalu siaga. Anak itu seharusnya berada di sekolah saat itu, tapi dia malah berkeliaran di sepanjang jalan, berputar-putar bergerak pada suatu pola tertentu, untuk mengamati keadaan di sekelilingnya, cara dirinya melatih ketangkasan serta kecermatan dalam analisa tentang perilaku seseorang. Anak itu bernama Sherlock Holmes, dan saat ia menekuni surat kabar The Illustrated Police News, sebuah berita tertangkap matanya …telah terjadi pembunuhan brutal semalam di Whitechapel, seorang wanita muda yang cantik ditemukan tewas dalam genangan darahnya, tak diketahui siapa wanita tersebut, mengapa ia berada di bagian kota tua yang terkenal kumuh dan berbahaya pada malam hari, hanya sebilah pisau panjang yang ditemukan di dekatnya – diduga sebagai senjata pembunuh.

Sherlock Holmes tertarik dengan misteri pembunuhan itu, karena wajah sang korban mengingatkan Sherlock akan ibunya ( terutama saat ibunya masih muda ), dan rasa ingin tahu yang sangat besar membuat dirinya bertekad menyelidiki kebenaran akan pembunuhan itu. Namun bukan hal yang mudah untuk memulai penyelidikannya. Pertama, ia masih dianggap anak-anak yang seharusnya bersekolah ( kedua orang tuanya, Rose dan Wilber Holmes, meski dalam keadaan serba kekurangan, tetap berusaha menyekolahkan Sherlock secara layak ), dan Sherlock membolos bukan karena malas, bahkan ia termasuk sangat pandai dan cerdas, kecuali dalam hal pergaulan sosial … membuat dirinya bosan dan tertantang mencari pengalaman lain dari berkeliaran di saat ia seharusnya ada di sekolah. 


Alasan lain Sherlock tidak menyukai sekolahnya, selain ia merasa tidak mendapat tambahan ilmu yang berarti atau menarik perhatiannya, ia sering mendapat gangguan dari anak-anak lain yang iri akan kecerdasannya dan mengoloknya sebagai ‘bocah setengah Yahudi’. Ibunya dulu bernama Rose Sherrinford, putri tunggal keluarga bangsawan dengan campuran Prancis, ahli waris kekayaan yang melimpah, sangat cantik dan menyukai menyanyi di opera. Namun semuanya berubah saat ia bertemu pemuda Yahudi yang genius bernama Wilberforce Holmes – anak imigran miskin, yang mendapat kesempatan langka untuk menempuh ilmu di sekolah ternama, bahkan menjelang masa studinya selesai, ia sudah mendapat penawaran untuk bekerja sebagai tenaga pengajar di salah satu institusi terkenal.
Keduanya bertemu di gedung opera, saling jatuh cinta hingga nekad kawin-lari ke Skotlandia. 

Sekembali mereka ke Inggris, segalanya berubah. Keluarga Rose tak mau mengenal atau mendengar apa pun yang berhubungan dengannya, dan Wilber mendapati masa depannya yang semula cerah, menjadi kosong, semua kesempatan dan tawaran yang pernah ada ditarik kembali. Pasangan muda ini pindah ke wilayah Southwark, menempati flat di atas toko pembuat topi, hidup serba kekurangan namun mereka mampu mempertahankan pernikahan serta keutuhan keluarga. Rose bekerja sebagai guru penyanyi dan juga menerima jahitan, Wilber yang genius namun tak bisa melamar di universitas mana pun akibat pengaruh ayah mertuanya, harus bisa menerima pekerjaan mengajar anak-anak di sekeliling tempat tinggalnya. Mereka memiliki 3 orang anak, yang tertua Mycroft  yang setelah cukup usia memperoleh pekerjaan rendahan di pemerintahan, tidak pernah pulang ke rumah. Kemudian Sherlock, tujuh tahun lebih muda, anak yang eksentrik dengan ketertarikan yang aneh dan Violet – si kecil yang berusia pendek, meninggal sebelum mencapai usia empat tahun.   
    

Saat ia memutuskan untuk mulai kembali ke sekolah, demi kedua orang tuanya, Sherlock menghadapi dilema. Ada kabar bahwa sang pembunuh sudah tertangkap, seorang pria Arab bernama Mohammad Adalji. Sherlock terbawa arus penonton yang berminat melihat wajah sang pembunuh saat dibawa dari tahanan menuju penjara Newgate. Sherlock terkejut melihat bahwa si pembunuh masih sangat muda, dan ketika ia diseret melewati kerumunan massa, ia terjatuh di depan Sherlock … sembari mengangkat wajahnya yang berurai air mata, Mohammad Adalji sempat berucap ada Sherlock : “Bukan aku pelakunya!” – membuat Sherlock terkesan karena ia seakan-akan benar tidak bersalah.   

Maka Sherlock Holmes berusaha mencari jalan untuk mencari tahu lebih banyak tentang pembunuhan itu. Dan satu-satunya cara untuk mendapatkan fakta-fakta yang jelas, ia harus mendatangi tempat kejadian perkara … tempat wanita itu terbunuh, di suatu sudut wilayah London yang kumuh juga berbahaya. Namun Sherlock membulatkan tekad, tak ada yang dapat menghalanginya dalam mengungkap fakta, termasuk menghadapi rasa takutnya … Dan ketika akhirnya ia tiba di tujuan, sekelompok gagak yang seperti mengikutinya, mengelilingi tempat pembunuhan. Di dekat tempat di mana seekor gagak mematuk-matuk paruhnya, di dekat bekas genangan darah wanita itu, Sherlock mendapati sebuah bola mata – menatapnya, membuat dirinya merasa seram, namun tetap dipungutnya benda itu, hingga ada seruan yang menarik perhatiannya … teriakan yang mengundang rasa takutnya, maka Shelock berlari sembari mengantongi bola mata itu.

Ternyata yang berteriak adalah polisi, yang mengawasi tempat kejadian perkara, dan pihak kepolisian mencurigai Sherlock sebagai seseorang yang berkaitan dengan peristiwa pembunuhan. Dan malam harinya, Sherlock mendapati polisi dipimpin oleh Inspektur Lestrade – mendatangi kediaman keluarga Holmes dan menangkap Sherlock dengan tuduhan sebagai konspirator. Sherlock Holmes ditahan dipenjara !!! Berdampingan dengan sang tertuduh utama, Mohammad Adalji. Bagaimana ia dapat mengungkapkan kebenaran jika ia juga ditahan ? Sherlock berusaha memutar otak, memikirkan caranya, namun tak ada yang mampu menyelesaikan masalahnya saat itu. Satu-satunya cara, Sherlock harus keluar dari penjara, tapi bagaimana caranya ??? Sherlock Holmes sungguh tak menduga bahwa kesempatannya akan datang saat kedatangan kunjungan tamu khusus : Mr. Andrew C. Doyle dan putrinya Irene Doyle. 

Sherlock Holmes harus mampu mengarahkan segenap kemampuannya untuk meyakinkan Irene Doyle, agar membantunya lolos dari penjara. Sherlock harus segera menemukan jawabannya, ia berlomba dengan waktu, karena batas eksekusi hukuman bagi Mohammad Adalji telah ditetapkan. Sherlock sadar bahwa ia membutuhkan sekutu, yang bisa membantu percepatan penyelidikannya. Siapa kira-kira yang memiliki informasi luas terutama tentang hal-hal yang brhubungan dengan kejahatan, serta meiliki pengaruh untuk melakukan sesuatu tanpa terdeteksi … hanya satu yang terpikirkan olehnya : Malefactor – pimpinan Anak-Anak Jalanan yang menguasai jaringan luas di London. Hanya ada satu masalah, antara Sherlock Holmes dan Malefactor terbentuk hubungan tidak suka namun menghormati satu sama lain.  Dan Sherlock yakin, Malefactor tidak akan memberikan bantuan jika tidak ada imbalan yang memuaskan, apa yang dapat ia tawarkan  pada Malefactor sedangkan ia sendiri dalam pelariannya …

Kesan :
Sebagai penggemar Sherlock Holmes – karakter unik kreasi Sir Arthur Conan Doyle, rasa ingin-tahu yang besar membuatku memutuskan membaca buku ini, kisah tentang Shelock Holmes sebagai seorang remaja miskin, berbekal hanya pada kecerdasan dan ketajaman pikiran serta tekad membaja, ia berusaha menempuh berbagai jalan yang tidak mudah, guna menyelesaikan tujuannya … memecahkan setiap misteri yang ada di hadapannya sampai tuntas. Dan penulis patut diakui, cukup bagus dalam membangun karakter-karakter sembari tetap menyelipkan dasar kisah riwayat Sherlock Holmes versi asli. Meski semula alur terasa bergerak sangat lambat, namun kemudian mulai bergerak bak film bergerak, sehingga pembaca mulai dapat membayangkan menonton kisah ini lewat pandangan Sherlock Holmes, ikut merasakan kengerian-ketakutan-rasa putus asa- serta perjuangan pemuda Sherlock Holmes dalam setiap langkahnya.

Jangan mengharapkan paparan analisis mutakhir ala Sherlock Holmes, karena penulis berupaya mewujudkan perjalanan Sherlock Holmes jauh sebelum ia terkenal sebagai detekti no. satu di Inggris ( versi Sir Arthur Conan Doyle ). Saat ini, sang tokoh utama justru mengalami banyak jatuh-bangun-jatuh lagi demi tercapainya tujuannya. Sosok Sherlock sebagai remaja muda, yang masih memiliki semangat berapi-api, terutama bersumber dari kesedihan dan kemarahan akan nasib buruk yang menimpanya. Harga dirinya sebagai keturunan bangsawan serta rasa hormat akan dirinya (kemungkinan karena pengaruh cerita-cerita sang ibu – Rose, yang terkadang membawanya pada kisah masa lampaunya sebagai putri bangsawan) menjadi suatu pergulatan tersendiri saat ia dalam pelariannya, sebagai buronan. Terpaksa bekerjasama dan menerima bantuan dari kelompok Anak-Anak Jalanan pimpinan Malefactor – sosok pemuda yang lumayan berperan dalam setiap agenda kegiatan Sherlock.

Bahkan persahabatan serta perseteruan unik antara Malefactor – Sherlock Holmes – Irene Doyle (suatu contoh bahwa penulis berusaha memasukkan versi asli ke dalam karyanya, sang ayah Andrew C. Doyle mungkin persamaan dengan Sir Arthur Conan Doyle (^_^) sedangkan Irene Doyle … well besar kemungkinan  persamaan dengan Irene Adler ) meski terkadang sedikit membingungkan, namun cukup menarik untuk mencari tahu bagaimana perkembangan hubungan di antara ketiganya. 

Dengan ending yang cukup mengejutkan, menurutku kisah ini sangat menghibur dan lumayan menarik, meski tidak luar biasa …mungkin juga karena pengaruh karakter Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle begitu melekat dibenak-ku, ibarat Hercule Poirot-nya Agatha Christie, sosok karakter unik yang tak ada tandingnya (^_^), maka seringkali diriku tanpa sadar membandingkan kedua karakter Sherlock Holmes yang “sometimes” menimbulkan kontradiksi. Sebagai contoh antara karakter Malefactor yang serba berteka-teki, tidak langsung pada sasaran, justru sedikit mengingatkan akan ke-eksentrikkan Sherlock Holmes versi asli, dan karakter Sherlock Holmes muda yang berapi-api, tanpa tedeng aling, tidak suka berputar-putar justru merupakan mixed karakter Dr. Watson – partner sejati Sherlock Holmes. But anyway, it just my opinion … so far this stories quite interesting to read, enjoy it !!

Tentang Penulis : 

Shane Peacock lahir di Thunder Bay, Ontario tahun 1957. Ia memulai karir menulisnya sebagai seorang jurnalis dan menerbitakan beberapa hasil tulisannya di Saturday Night, Reader’s Digest dan Sport Illustrated. Karyanya “The Boy Sherlock Holmes”, telah meraih beberapa penghargaan, di antaranya :
·     ~    Booklist “Top Ten in Young Mysteries”
·     ~    Pemenang Arthur Ellis Award for Juvenile Crime Fiction
·     ~    Pemenang Medali Emas dalam Penghargaan Foreward Magazine’s Book of the Year
·     ~    Pemenang Penghargaan IODE’s Violet Downey Book
Saat ini Shane tinggal dengan istrinya, Sophie Kneisel, dan ketiga anaknya di sebuah lahan pertanian dekat Cobourg, Ontario. Di saat senggangnya, Shane suka bermain hoki, membaca buku dan berimajinasi bahwa dirinya adalah pahlawan dalam setiap cerita. 

Best Regards,
* HobbyBuku * 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...