About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Friday, March 16, 2012

Books "DEATH IN THE AIR"


Judul Asli : The Boy Sherlock Holmes 2nd Case – DEATH IN THE AIR
Copyright © 2009 by Shane Peacock
Penerbit : Qanita  
Alih Bahasa : Maria Lubis
Editor : Tisa Anggraini
Illustrasi Isi & Sampul : Sweta Kartika
Cetakan I : Januari 2012 ; 352 hlm 
Rate : 4 of 5 

Sinopsis :
Sherlock Holmes berhasil memecahkan kasus pembunuhan di Whitechapel. Namun impian akan penghargaan atas jerih-payahnya, justru diambil dan dimiliki oleh Inspektur Lestrade. Tiada yang tahu keterlibatan Sherlock dalam menangkap sang pembunuh, bahkan kematian ibunya akibat membantu dirinya, justru memperburuk situasi Sherlock saat ini. Ya, dia tidak lagi buronan, tapi akan kemana ia pergi ? Ibunya tewas terbunuh, ayahnya menjauhi dirinya, menyalahkan Sherlock karena melibatkan kekasih hatinya, Irene Doyle yang sempat dekat dengannya pun terpaksa ia jauhi, agar tidak mengalami nasib serupa dengan ibunya … apalagi semenjak percobaan pembunuhan yang dialami oleh Irene sebelumnya. Sherlock tak memiliki siapa pun, ia tak tahu apa yang akan dilakukan kemudian. Tapi satu yang pasti – janjinya pada sang ibu menjelang kematiannya, Sherlock akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengungkap kejahatan yang ada muka bumi ini.

Dan kesempatan tersebut datang tanpa diduga, bagaikan mendapat “harta jatuh dari langit” maka Sherlock pun mendatangi kasus berikutnya jatuh dari langit ke bawah di dekat kakinya. Seorang pemain trapeze terkenal, tewas jatuh karena luput meraih balok trapeze, namun mata tajam Sherlock mengamati bahwa ada kejanggalan pada potongan balok yang terjatuh itu. Saat Sherlock berusaha melihat balok itu lebih jelas, sang pemain trapeze ‘Monsieur Mercure’ berusaha berbicara, tapi Sherlock hanya menangkap sedikit : “Bungkam …aku”, kemudian ia tergeletak terbaring kaku. Sherlock berdiri, gemetar melihat kejadian nyata di depan matanya, apalagi ia sadar bahwa tubuh yang terbaring kaku itu belum mati, karena ia masih bernapas !!!  Saat itu tanggal 1 Juli 1867, enam minggu setelah peristiwa tragis yang dialaminya, dan kini Sherlock tahu kasus kedua yang harus ditanganinya. 

Sherlock bertekad meningkatkan kemampuannya. Karena itu ia melamar sebagai asisten toko farmasi milik Sigerson Trimegistus Bell – seorang apoteker tua yang eksentrik, bukan sekedar ahli medis belaka namun lebih menjurus sebagai seorang ilmuwan – ahli alkimia – seorang penyihir yang mempelajari hal-hal magis. Keunikan dan keanehan Sigerson itu menarik perhatian Sherlock sehingga ia bersedia menjadi asisten tanpa bayaran, hanya mendapat tempat berteduh dan makanan secukupnya. Dan tentunya ia dapat mempelajari ilmu-ilmu aneh dari si Tua Sigerson lewat penemuan-penemuan yang diciptakan setiap minggunya. Sigerson Bell tidak menyangka bahwa pemuda kurus dengan tampang sedih itu mampu mengimbangi pembicaraan tentang penelitiannya. Lama kelamaan, Sigerson  mulai menaruh perhatian lebih pada Sherlock, ia memberikan pelajaran bahasa, ilmu anatomi, serta teori-teori psikologis pada manusia.

Sherlock, sembari menjalankan tugasnya pada Sigerson, berusaha mencari masukan baru bagi penyelidikannya. Namun polisi pun tidak menemukan petunjuk baru, selain berita tentang kondisi Mercure yang masih hidup namun dalam kondisi tak sadarkan diri karena gegar otak yang parah ( istilah sekarang dalam kondisi koma ). Maka Sherlock berencana menemui sumber beritanya : Malefactor – Pimpinan Anak-Anaka Jalanan. Tapi ketika ia sedang dalam perjalanan mencari Malefactor, Sherlock justru tanpa sengaja melihat Sigerson Bell berjalan dengan langkah-langkah berat seakan-akan beban berat menimpanya, kemudian ia duduk di alun-alun, termenung sedih dengan pandangan jauh. Sungguh belum pernah Sherlock melihatnya seperti itu, karena Pak Tua tersebut senantiasa riang gembira, bahkan setiap pagi ia keluar dari tokonya untuk menemui para langganannya dengan ceria.

Dari ocehan anak-anak di dekat alun-alun, Sherlock tahu bahwa Sigerson Bell sudah berminggu-minggu melakukan hal itu. Kemudian ia teringat peristiwa sekitar tiga minggu sebelumnya, ada seorang tamu datang ke toko, namun keluar dalam kondisi marah dan mengancam Mr. Bell. Sewaktu Sherlock bertanya siapa gerangan orang itu, dijawab bahwa ia adalah Lord Redhorns – pemilik seluruh bangunan di kawasan toko sekaligus tempat tinggal Sigerson Bell. Sepertinya penyelamat Sherlock telah berutang sewa dan hanya dalam tempo kurang dari seminggu pelunasan harus dilakukan, atau mereka berdua tidak akan memiliki tempat berlindung.  

Sherlock berpikir keras bagaimana caranya membantu Mr. Bell. Satu-satunya cara yang bisa ia pikirkan hanyalah segera menemukan jawaban dari misteri ini dan meminta imbalan yang pantas atas informasi yang ia miliki. Maka ia segera bergegas mencari Malefactor, dan sungguh di luar dugaan, ia menemukannya bersama Irene Doyle – yang selama ini berusaha ia hindari. Akibatnya bukan informasi yang ia dapatkan, justru bentrokan kecil antara mereka bertiga terjadi, sehingga Sherlock meninggalkan mereka semua dengan geram. 

Maka Sherlock kembali ke tempat terjadinya perkara, guna mencari bukti-bukti tambahan dan mendapati The Swallow – anak laki-laki Mercure berada di lokasi itu. Tapi The Swallow justru mengucapkan kata-kata yang menambah kebingungan Sherlock. Pertama – ia ternyata bukan anak Mercure sebagai selama ini diberitakan. Kedua – ternyata semua orang membenci Mercure, berarti daftar musuhnya semakin bertambah, dan Sherlock tidak tahu lagi harus kemana mencari petunjuk baru. Satu-satunya yang cukup jelas baginya adalah, di tempat itu sekali lagi ia bertemu Inspektur Lestrade, yang memberikan peringatan keras agar Sherlock tidak mencampuri penyelidikan polisi dan menjauhi tempat kejadian perkara, kecuali ia mau dijebloskan ke dalam tahanan.

Kesan :
Dalam kasus kedua ini penggambaran tentang karakter Sherlock Holmes semakin berkembang. Dalam menghadapi tragedi kematian ibunya, penolakan ayahnya, perselisihan serta persaingan antara dirinya – Malefactor – Irene Doyle semakin memuncak. Sherlock digambarkan sebagai anak muda yang penuh kepahitan serta tekad membalas dendam pada siapa saja yang menghalangi jalannya – terutama dalam mewujudkan permintaan ibunya, bahwa ia : Sherlock Holmes harus mendapat pengakuan atas jerih payahnya mengungkap kebenaran dan keadilan serta menumpas segala jenis kejahatan.

Jika dalam kasus pertama ia dibantu oleh Irene Doyle dan Malefactor, kali ini justru mereka berdua seakan berperan sebagai stimulan kemarahan serta emosi Sherlock … menimbulkan sedikit konflik kepentingan, terutama peran Irene Doyle sedikit membingungkan – apakah ia sekedar ingin membuat Sherlock cemburu atau ingin agar Sherlock memohon kembali kepadanya ???

Namun Sherlock tidak mau dipusingkan oleh hal tersebut – maka aku pun beralih pada sosok-sosok baru yang tampil kali ini. Keberadaan Sigerson Bell sebagai majikan sekaligus mentor dan pelindung Sherlock sungguh menarik dan sangat tepat jika ia muncul sebagai jalan perwujudan nyata tokoh legendaris Sherlock Holmes yang tidak sekedar mengandalkan kekuatan fisik tapi kecerdasan serta kekuatan otak, terutama hal-hal ilmiah serta penemuan-penemuan yang dilakukan. Sosok Sigerson Bell yang eksentrik benar-benar mirip dengan karakter Sherlock Holmes aslinya …. Termasuk kemampuannya menyamar (^_^), sungguh aku tertarik bagaimana penggambaran metode pangajaran yang akan diberikan oleh Sigerson Bell ( sayang dalam kisah ini hanya diceritakan sekilas ).

Dan peran pembantu yang pemberani dan kuat, kali ini ditampilkan lewat karakter El Nino – bocah ajaib, pemain trapeze yang memiliki masa lalu kelam namun mampu bangkit dan menata hidup yang lebih baik, dan ia sangat cocok sebagai partner ‘diam-diam’ yang membantu Sherlock Holmes. Selain itu yang juga menarik, hubungan Sherlock dengan Inspektur Lestrade Senior yang semakin memburuk, tapi justru sang putra Lestrade Junior memberikan penghargaan dan rasa hormat atas kerja keras Sherlock, ini berarti Lestrade Junior inilah yang akan menjadi penghubung Sherlock Holmes di kasus-kasus mendatang di saat ia sudah mulai terkenal ( sesuai dengan karakter dalam kisah aslinya karangan Sir Arthur Conan Doyle ). 

Dengan penataan alur yang lambat kemudian mulai meningkat ketegangan serta konflik yang terjadi, serta masuknya karakter-karakter baru yang mengasyikkan, dan akhirnya menuju klimaks dengan ending yang sekali lagi menggantung … membuat diriku ingin segera membaca kelanjutannya. Penulis memang sengaja membuat serial ini ibarat chapter dalam buku, sehingga penjelasan atau anti-klimaks baru akan terungkap pada episode berikutnya, membuat pembaca kecanduan serta penasaran …. Dan kelihatannya rasa penasaran akan kejanggalan hubungan segitiga Malefactor- Sherlock – Irene Doyle ( terutama cewek satu ini, bikin jengkel atas tindak-tanduknya ) akan terungkap lebih jauh di kasus ke-3 ( lihat ‘sneak-peak’ buku kelanjutannya he..he.. )

Tentang Penulis : 

Shane Peacock lahir di Thunder Bay, Ontario tahun 1957. Ia memulai karir menulisnya sebagai seorang jurnalis dan menerbitakan beberapa hasil tulisannya di Saturday Night, Reader’s Digest dan Sport Illustrated. Karyanya “The Boy Sherlock Holmes”, telah meraih beberapa penghargaan, di antaranya :
·         Booklist “Top Ten in Young Mysteries”
·         Pemenang Arthur Ellis Award for Juvenile Crime Fiction
·         Pemenang Medali Emas dalam Penghargaan Foreward Magazine’s Book of the Year
·         Pemenang Penghargaan IODE’s Violet Downey Book
Saat ini Shane tinggal dengan istrinya, Sophie Kneisel, dan ketiga anaknya di sebuah lahan pertanian dekat Cobourg, Ontario. Di saat senggangnya, Shane suka bermain hoki, membaca buku dan berimajinasi bahwa dirinya adalah pahlawan dalam setiap cerita. 

Best Regards,
* HobbyBuku * 

2 comments:

  1. hmmm....spin off nya Holmes ya?
    Sebenernya sih dr reviewnya kayak menarik nih cerita, mbak. Tapi kayaknya aku gak mo baca dulu aahh. Takut merusak image Sherlock versi Doyle yg udah ketanam banget di otakku X)

    Mo liat endingnya dulu kayak apa.
    Ditunggu review buku ke-3 ya

    ReplyDelete
    Replies
    1. memang beda banget dgn karya Sir Arthur Conan Doyle, tapi lumayan menarik karena ini menelusuri riwayat young Sherlock sehingga ia menjadi detektif handal yang terkenal...

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...