About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Wednesday, August 29, 2012

Books "MONSTERS"


Judul Asli : MONSTER
Copyright © 2005 by Frank Peretti
Penerbit Inspirasi ( BPK Gunung Mulia )
Alih Bahasa : Yenny Halim & Siska Primaningrum
Editor : B. Wahyunarso ; Budyarsa ; Kristihandari P.K.
Desain Sampul : Hendry Kusumawijaya
Cetakan I : 2011 ; 504 hlm

Setelah menyelesaikan bacaan “House”  ( kolaborasi Frank Peretti & Ted Deker ) yang rilis bersamaan waktunya, dengan hasil penuh kekecewaan akan sebuah ekspetasi tinggi dari maestro thriller ini, maka diriku tak berharap banyak dari kisah berikut ini. Perlu diketahui bahwa novel ini merupakan karya pertama sang penulis setelah vakum hampir 6 tahun lamanya ( tercantum di dalam halaman pengantar oleh penerbit ), maka kembali diriku berharap dengan cemas, apakah kisah ini mampu mengembalikan daya tarik karya-karya beliau sebelumnya ?

Dibuka dengan adegan seorang pemburu, yang semula tampak menelusuri jejak buruannya, namun justru menemukan sosok mayat yang terbunuh dalam kondisi aneh. Alih-alih berusaha membantu, sang pemburu justru melakukan suatu tindakan guna menutupi kondisi awal mayat tersebut, merekayasa agar tampak seperti sebuah kematian akibat kecelakaan, bukan sebagai suatu pembunuhan mengerikan ...

Kemudian kisah berpindah pada pasangan suami istri, Reed dan Rebecca ‘Beck’ Shelton, yang sedang dalam perjalanan untuk mengikuti program ‘survival-camp’ di hutan belantara. Reed adalah pria tinggi, tangguh dan atletis, suka dengan aktifitas di luar ruangan, apalagi dengan tugasnya sebagai wakil sheriff. Namun tidak demikian halnya dengan Beck, wanita mungil, pendiam, lebih suka berdiam diri tanpa adanya interaksi aktif secara sosial. Adalah usulan Reed yang ingin ‘membantu’ istrinya keluar dari ‘cangkang’ yang dibentuk selama hidupnya, salah satunya dengan ide ‘outbound’ yang diharapkan akan membuat Beck lebih membuka dirinya terhadap dunia sekelilingnya.

Pasangan ini akan bergabung dengan pasangan lain, Dr. Michael Capella dan istrinya Sing Coeur d’Alene, namun karena sesuatu hal, Reed dan Beck Shelton berangkat dan tiba terlebih dahulu di pondok tetirah – tempat di mana mereka semua akan berkemah dan menjalani kehidupan di alam bebas. Saat mereka berdua akhirnya tiba di tempat tujuan sesuai petunjuk dalam peta, pondok yang mereka harapkan sebagai tempat beristirahat, justru ditemukan dalam kondisi rusak berat, dengan perbekalan makanan porak-poranda, berserakan di luar pondok, tampak telah dimakan oleh hewan-hewan liar. Sang pemandu Randy Thompson, yang seharusnya berada di lokasi itu, tak dapat ditemui di mana pun.

Karena hari menjelang malam, Reed memutuskan agar mereka berkemah di dekat wilayah pondokan tersebut sembari menunggu kesokkan harinya, saat hari terang untuk mencari tahu kondisi sebenarnya yang terjadi. Meski sangat takut dan keberatan dengan kondisi yang tidak diharapkan itu, Beck terpaksa menuruti nasehat Reed. Saat kepekatan malam menyelimuti keberadaan dua pasang manusia ditengah hutan belantara, berbagai suara serta bunyi-bunyi aneh menyeruak di tengah keheningan malam yang mencekam. Meski berusaha menahan rasa takutnya, pada akhirnya Beck tak mampu menahan ketika ia mendengar adanya ‘keberadaan sesuatu’ di luar sana, seakan mengamati dan menanti mereka. Kengerian semakin memuncak saat terdengar jeritan nyaring, menyayat sekaligus menakutkan, disertai sergapan bau busuk memuakkan, mendekati perkemahan mereka. 

Saat berusaha menyembunyikan diri di atas pepohonan, mereka justru mendapati sosok mayat tergantung di atas pohon itu. Mayat dalam kondisi kepala hampir putus itu adalah Randy Thompson – sang pemandu yang hilang dari lokasi kamp. Tak salah lagi, sesuatu yang ganas akan menyerang mereka, maka tanpa menunggu lebih lama, Reed dan Beck berlari dalam kegelapan, berusaha menjauh dari makhluk mengerikan yang mengejar mereka. Meski berusaha lari secepat dan sejauh mungkin, mereka berdua masih mendengar keberadaan makhluk yang memburu mereka, hingga suatu saat Beck tergelincir jatuh dari atas tebing yang curam, pingsan dalam kondisi terluka. Reed yang berusaha turun ke tebing guna menolong Beck, harus menyaksikan pemandangan yang menjadi ‘teror’ mengerikan : makhluk raksasa hitam kelam, memungut sosok Beck yang pingsan, dan kemudian menghilang dalam kegelapan.

Kesan :
Wow ... dari permulaan hingga menjelang pertengahan, ketegangan serta alur yang cepat mewarnai kisah ini. Yes !!! Ini ciri khas Frank Peretti yang kutunggu-tunggu, sungguh mampu mengobati kekecewaan akan “House”  --- mungkin lain kali sebaiknya tidak dilakukan sebuah kolaborasi penulisan, jika ternyata justru menghilangkan ciri khas penulisan beliau. Okay, kembali ke dalam kisah ini, lewat alur yang cepat serta sangat detil, dimulai perjalanan Reed beserta kawan-kawannya dalam menelusuri jejak makhluk yang menculik Beck  ke dalam hutan belantara. Terjadi pro dan kontra dalam kelompok penyelamat, sebagian besar percaya bahwa penyebab peristiwa itu adalah seekor beruang, namun Reed tahu bukan beruang yang mengejar dan menculik Beck, meski ia tak mampu memberikan definisi jelas apakah makhluk itu.

Dalam kisah ini dituturkan pula pengalaman Beck saat ia ‘sadar’ dari pingsan, mendapati dirinya di bawah oleh sosok makhluk aneh. Dan bukan hanya satu, tetapi ada beberapa makhluk aneh dari berbagai jenis kelamin dan usia yang ia lihat. Beck mendapati dirinya untuk sementara tidak dalam kondisi ‘berbahaya’ asalkan ia mengikuti kelompok makhluk aneh tersebut. Beck  Shelton yang terbiasa hidup dalam kenyamanan serta gangguan,  kini mendapati bahwa satu-satunya cara untuk bisa bertahan hidup adalah beradaptasi dan berjuang demi kehidupan. Beck tidak tahu bagaimana kondisi Reed, tapi ia tahu bahwa Reed pasti menghendaki dirinya untuk bangkit berdiri, terlepas dari cidera serta ketidaknyamanan yang ia alami, berjuang berebut haknya. Apalagi kini ia hidup bersama makhluk-makhluk yang masih menggunakan hukum rimba, siapa yang kuat, ia memiliki kekuasaan.

Sembari meneruskan bacaan yang lumayan tebal, semakin lama mulai jelas, bayangan serta pesan-pesan yang disampaikan oleh penulis dalam alur yang menegangkan ini. Dengan memadukan gaya thriller-suspense serta padanan sci-fi lewat tehnologi rekayasa genetika ( mengingatkan diriku akan kisah NEXT by Michael Crichton, tentang eksperimen mutasi genetika ), penulis memberikan peringatan keras tentang apa sebenarnya kehidupan, bagaimana kita harus berjuang alih-alih hanya sekedar menerima apa adanya alias ‘menumpang-lewat’ di dunia ini. Sesuai dengan judulnya “Monster” – bayangan tentang sosok menakutkan serta mengerikan justru akan terhapus, karena ‘monster’ yang sebenarnya seringkali muncul dalam wujud tak terduga, wujud yang tampak ramah, intelektual, serta beradab. Namun jika berada dalam kondisi terpojok, justru mampu bertindak sangat brutal melebihi makhluk liar, menghabisi siapa saja yang menghalangi tujuannya.

~ Monster. Inc by Pixar | similar theme's stories ~  ( source )
Lewat karakter Beck yang semula pemalu, gagap, anti-sosial, justru mampu berkembang dalam kondisi berat, dan menemukan makna dan arti kehidupan lewat kasih sayang dan pemahaman yang diberikan oleh makhluk-makhluk aneh tersebut. Dan pada akhirnya, mereka menjadi bagian dari ‘keluarga’ bagi Beck, mereka adalah Rahel, Lea, Ruben dan Yakub, bersama-sama mereka melarikan diri dari monster sebenarnya, yang memburu dan mengejar tanpa henti, dengan satu tujuan, memusnahkan jejak keberadaan mereka demi ketamakan, keserakahan dan permainan menjadi sosok ‘Sang Pencipta’ --- mampukah Beck kembali bersatu dengan Reed jika kedekatan mereka justru akan membahayakan keselamatan jiwa salah satu diantara mereka ?

“Kau punya nama. Kau adalah seseorang, seorang manusia ; kau lebih daripada makhluk yang kau ciptakan. Dan lihatlah dirimu sekarang. Seorang manusia atau sesosok monster ?”
[ from ‘Monster’ by Frank Peretti | p. 485 -486 ]

Tentang Penulis :
Frank Peretti, adalah penulis Monster serta Internasional Bestseller “The Oath” dan “This Present Darkness, juga “The Prophet”, “Hangman’s Curse” yang telah terjual lebih dari 12 juta copy. “The Oath” yang rilis pada tahun 1995, telah terjual lebih dari satu juta copy dan memperoleh pengharagaan ECPA Gold Medallion Award 1996 untuk kategori fiksi terbaik. Peretti tinggal bersama sang istri, Barbara, di daerah Pasific Northwest. Kunjungi situs webnya di www.frankperetti.com.

Best Regards, 
* Hobby Buku * 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...