About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Sunday, February 24, 2013

Books "GREEN FRIDAY"



Books “JUM’AT HIJAU”
Judul Asli : Groene vrijdag
Copyright © 2004 Elvin Post and Ambo|Anthos uitgevers, Amsterdam
Penerbit Pionir Books [ www.pionirbooks.co.id ]
Alih Bahasa : Laurens Sipahelut
Foto Sampul Muka © Mike Slocombe urban75.com
Foto Sampul Belakang © 2010 Merlijn Doomernik
Cetakan I : Januari 2013 ; 342 hlm
Rate : 1

[ Warning : contain Spoiler-Alert ]
Sudah lama sekali diriku tidak membaca atau menemukan buku yang bisa kuberi bintang 1, jika pun tidak terlalu suka, biasanya kuberi bintang 3. Dan untuk buku bintang 1 – 2 tidak pernah atau jarang kubuat reviewnya, karena isinya pasti tidak lain hanya ‘caci-maki’ karena tidak puas dengan isinya. Namun kali ini diriku ingin membuat reviewnya karena ada beberapa poin penting yang patut disimak lebih lanjut, tentang penulis, isi cerita maupun tampilan keseluruhan.

Pertama – diriku tidak terlalu suka dengan sistim rating karena kepuasan membaca setiap buku berbeda-beda untuk dinilai dengan sebuah angka. Namun secara sederhana, bintang 1 disini kuberikan sebagai penghargaan terhadap sang penulis, yang mampu menyajikan kisah misteri dengan bumbu humor serta konflik drama kehidupan masyarakat menengah kebawah. Jika penulisan di sampul muka ‘Thriller Terbaik Belanda’ benar adanya (bukan sekedar manipulasi penulis maupun penerbit untuk mendongkrak popularitas seperti yang terjadi pada isu terakhir dunia perbukuan indonesia dua minggu terakhir ini), maka harus kuakui, ini adalah salah satu kisah yang layak mendapat perhatian lebih.


~ Dutch edition ~ [ source ]
Kisah ini tentang Winston Malone – pria kulit hitam yang secara tiba-tiba memperoleh ide cemerlang untuk mengatasi masalah besar yang menghimpit kehidupannya. Ia adalah pria baik hati, yang mencintai istrinya Cordelia, dan berusaha memenuhi nafkah keluarga dengan bekerja di kantor kas kecil yang dipimpin oleh Wayne Higley – manager yang selalu berusaha mencari jalan untuk menyulitkan Winston. Pengabdiannya selama bertahun-tahun, ditindas oleh atasan yang semena-mena, keinginan membahagiakan sang istri dengan membelikan sofa impian yang harganya menguras pemasukan setiap bulan tanpa sisa.

Pepatah besar pasak daripada tiangnya, merupakan contoh tepat bagi kehidupan masyarakat golongan menengah kebawah. Demi mewujudkan Impian sesaat, mereka meminjam dana dari rentenir, yang akhirnya justru mencekik mereka dengan bunga yang semakin tinggi. Winston juga terperosok, saat ia memutuskan meminjam uang untuk membeli sofa dari Leo Roma – wiraswasta yang dikenal dengan julukan Si Tukang Es Krim (ia memang berjualan Es Krim keliling, namun isi kotaknya bervariasi, tergantung permintaan, misalnya Anda meminta Magnum Gold atau Magnum 9 mm). Dan ketika Winston terlambat pertama kali dalam membayar cicilannya, sebuah kunjungan peringatan pertama, menyusul kedua dan ketiga, mengingatkan dirinya bahwa nasib akan jauh lebih buruk jika tidak segera ia selesaikan. Dan sebuah solusi ‘cemerlang’ muncul di benaknya.

~ Spanish edition ~ [ source ]
Meminjam sebuah tas olahraga Star Wars yang cuku besar, beserta pistol dari Leo Roam, Winston memasuki kantornya tepat pada hari dimana Wayne Higley dengan gembira mengumumkan bahwa Winston dipecat tanpa pesangon. Dengan tenang ia ‘meminta’ rekan kerjanya mengisi tas olahraga kosong dengan semua dana tunai yang ada di dalam kantor tersebut, tentunya dengan pistol diarahkan ke kepala Wayne. Anehnya aksi ini berjalan dengan mulus, meski kemudian tersiar kabar bahawa telah jatuh korban – Wayne Higley terluka akibat tembakan di kakinya. Dan Winston keluar dari kantor kas setenang mungkin, berjalan kaki membawa tas penuh dengan uang, mampir ke restoran langganan untuk menyantap hidangan kesukaaannya, kemudian mampir menjemput sang istri untuk menginap di hotel termewah di kota itu.

Masalah ini sudah cukup rumit, ditambah dengan kemunculan Jimmy Roma – putra Leo yang ditugaskan mengikuti kegiatan Winston setelah ia mengambil tas serta pistol dari kediaman Leo. Jimmy adalah putra yang tak pernah dianggap oleh Leo karena kebodohan, kemalasan serta keserakahannya. Bahkan setelah peristiwa ini, Winston mampu mengembalikan seluruh hutang dengan bunganya kepada Leo, ia juga ditawari tempat persembunyian serta pekerjaan khusus oleh Leo Roma. Winston belum menyadari bahwa Leo memiliki agenda tersendiri, ia hendak ‘mencicipi’ Cordelia – istri Winston yang menarik, dan selalu menolak dirinya dengan tegas, membuat Leo semakin penasaran (Leo meskipun pria Itali tapi  memiliki ketertarikan aneh terhadap wanita-wanita berkulit gelap).

[ source ]
Di sisi lain, Jimmy yang sakit hati dengan perlakuan sang ayah serta penjaga pribadinya, Caesar  Malvi – pria cebol mantan juara gulat, kini harus menelan kemarahan saat Leo seakan-akan lebih menghargai Winston – pria berkulit hitam miskin daripada putra kandungnya. Jimmy berusaha mencari jalan keluar dari kewajiban yang akan dibebankan kepadanya oleh sang ayah. Ia tak sudi berjualan es krim keliling, ia ingin kaya dengan cepat tanpa harus membanting tulang. Maka sebuah ide muncul berkat saran temannya Dario Lopez – ajudan pribadi Jack Gardner, seorang bintang film ternama.  Idenya adalah menculik putra Jack dan meminta tebusan sebesar-besarnya, dan ia akan melibatkan Winston untuk membantu dirinya sekaligus menjadi ‘calon-kambing-hitam’ setelah misi itu berjalan sukses. Pasangan Winston dan Cordelia terjabak dalam situasi yang tak bisa dihindari, terutama berhadapan dengan ayah-anak Roma yang sama gila dan memiliki kuasa besar. Bagaimana akhir kisahnya ?

Cukup menarik bukan? Ide unik serta adegan-adegan antar karakter muncul silih berganti secara cepat, seharusnya mampu menarik minatku untuk membaca hingga selesai. Tapi yang terjadi semenjak halaman-halaman awal, rasa enggan sekaligus jengkel membuatku harus melewati secara cepat halaman demi halaman demi mengurangi pusing yang melanda saat berusaha menyelesaikan bacaan ini. Entah apa gerangan yang ‘merasuki’ sang penerjemah untuk melakukan berbagai variasi gaya bahasa dalam melakukan alih bahasa kisah ini. Meski tidak memahami bahasa Belanda, sangat kuragukan sang penulis sanggup menulit kalimat atau dialog seperti ini :
“Dengar enggak suara beker?” tanya Cordelia.

Winston terpaksa melek. [ p. 11-12 ]
“Mau tahu enggak apa yang mau aku bilang?”
Enggak mau, Winston. Mungkin sebaiknya aku jangan tahu. Mau bilang kau enggak butuh lagi sama pekerjaanmu, itu yang mau kau bilang?”
Tuh, kan? Batin Winston. Benar dia, Cordelia enggak mau tahu. [ p. 14 ]
Apa pun, dia memutuskan bahwa dia tidak membutuhkan peredam suara, dan lagi pula kemungkinan besar di toh tidak akan memakai pistolnya. Namun kemudian dia tidak sreg sama cara dia mengeluarkan dan mengacungkan pistol ke bayangan cermin dia. [ p. 35 ]
“Terus, aku enggak suka kalau kau mempertanyakan pertanyaan aku. Kalau aku bertanya, aku ingin jawaban. Biarpun menurut kau pertanyaannya enggak penting. Apalagi melihat hasil kerja kau hari ini. Apa aku menuntut terlalu banyak dari kau? Aku kirim kau cuma untuk melakukan satu tugas, yaitu mengembalikan uang aku. Terus, apa yang terjadi? Kau dikadali sama orang goblok.” [ p. 97 ]
“Lalu tiba bagian yang Caesar selalu ikut nyanyikan di bawah pancuran, bagian kala trol itu mengambil kendali penuh. Caesar demen gaya trol itu bilang play, yang membuat gentar Tony Joe dan anggota band-nya sehingga mereka tidak memprotes lagi. [ p.  303-304 ]
“Belum lagi ulah Malone yang membuka tas olahraganya di tengah-tengah perno untuk mengambil saweran si pemain konga. Akan tetapi, Jimmy menahan diri dan tidak menanyakan sesuatu apa pun. Tidak ada gunanya ribut sama katro itu.” [ p. 306 ]
[ source ]
Ini adalah beberapa contoh ‘alih-bahasa’ yang mewarnai sepanjang kisah setebal 342 halaman. Karena menggunakan gaya bahasa ‘campu-aduk’ seperti ini, muncul bayangan film Naga Bonar dibenakku, karena mirip sekali dengan cara si Naga Bonar (yang diperankan oleh Deddy Mizwar) berbicara. Bukan berarti diriku tak menyukai film tersebut, tetapi konteksnya sangat berbeda dengan kisah ini. Harus diakui, beberapa penerbit sengaja menggunakan cara ini untuk menarik minat pembaca kalangan muda (maksudnya remaja), namun harus diingat ada perbedaan nyata antara karya asli dengan hasil terjemahan. Walaupun memiliki makna serupa, buka berarti harus ‘dipaksakan’ menyerupai karya tulis penulis lokal – yang justru membuat buku tersebut menjadi tidak menarik. Bayangkan jika hal ini dibalik, misalnya karya Raditya Dika, atau serial Lupus karya Hilman H. dan serial Bobi karya Gola Gong, berusaha diterjemahankan ke dalam bahasa asing, konteks serta makna kalimat-kalimat tertentu tidak bisa dialih-bahasakan begitu saja.

Hal seperti ini bukan semata kesalahan sang penerjemah, karena keputusan hasil akhir tentunya berada di tangan penerbit. Maka sangat disayangkan jika penerbit justru ‘melanggar’ tata bahasa Indonesia dan bukannya memberikan edukasi yang baik bagi karya tulis yang bermutu serta menyajikan sesuai nilai serta kualitasnya. Apakah tolak ukur marketing itu berarti harus menghancurkan hal-hal postif dan – mohon maaf : melacurkan-tata-bahasa menjadi suatu yang bernilai rendah ? Jangan berpikir diriku menjelek-jelek penerbit tertentu. Justru penerbit buku ini kukenali telah menerbitkan karya-karya terjemahan lain yang cukup bagus dan menajdi bagian dari koleksi bukuku. Maka alangkah terkejutnya diriku saat mendapati buku terbitan terbaru justru menghancurkan karya sang penulis. Semoga saja sang penulis tidak terlalu memahami ‘tata-bahasa Indonesia’ saat mendapati karyanya dipasarkan seperti ini. 

About the Author :  
( Dutch into English by google-translate from here )
Elvin Post ( Rotterdam , 25 November 1973 ) is a Dutch author and journalist . In 2004 he won as the youngest winner to date, the Golden Noose for his debut crime novel Green Friday.

Elvin Post began his career after his internship at the literary agency Ralph Vicinanza in Manhattan (New York). There, he also wrote reviews for the AD of foreign thrillers. In Manhattan, he became inspired to yourself to start writing books. Thus came in 2004 his debut Green Friday. For this he received the Golden Noose in the same year. In 2006 Vals image which also received a nomination for the Golden Noose, both books were also nominated for the Belgian thriller price, the Diamond Ball . Vals image is based on a daring art robbery in 1990 in which several topkunstwerken stolen were from the Isabella Stewart Gardner Museum to Boston . Elvin Post is married and has two children. Elvin Post is the son of thriller author Jacques Mail .

[ more books by Elvin Post, check on here : Goodreads ]
 
Best Regards,
* Hobby Buku *

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...