About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Tuesday, June 11, 2013

Books "THE DOGS OF WAR"

Judul Asli : THE DOGS OF WAR
Copyright © Frederick Forsyth 1974
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta
Alih Bahasa : Kristina Sundari
Editor : M. Sidik Nugroho
Pewajah Isi : Aniza Pujiati
Desain Sampul : iggrafix
Cetakan I : April 2013 ; 596 hlm      
Rate : 3 of 5
“Jangan kabarkan kematianku,

Atau berduka karenaku,
Dan jangan kubur aku di tanah suci,
Jangan pula minta penjaga gereja membunyikan lonceng,
Agar tak seorang pun melihat jenazahku,
Dan jangn berkabung di belakangku pada upacara pemakamanku,
Agar tak setangkai bunga pun ditanam di makamku,
Dan tak perlu seorang pun mengingatku,
Untuk ini kutinggalkan namaku.”  __ Thomas Hardy
Puisi pada halaman awal ini sedikit banyak menunjukan kisah perjuangan manusia yang terangkum dalam jalinan konflik dan intrik dalam memperebutkan kekuasaan dan kekayaan serta nilai-nilai dalam kehidupan. Dibuka dengan istilah pada judul kisah ini, “dogs of war” yang merujuk pada para tentara bayaran yang juga dikenal sebagai ‘mercenary’ atau pembunuh bayaran. Tokoh-tokoh ini memiliki kemampuan serta keahlian khusus terutama pengetahuan militer serta bela diri tinggi dan strategi dalam pertempuran kecil hingga besar, dan mereka bergerak secara independen dalam arti tidak mewakili kepentingan negara tertentu melainkan ‘klien’ yang bersedia membayar tinggi atas jasa mereka.



Namun kali ini, penulis berusaha menyajikan sisi lain dari mereka yang selama ini dianggap para pemberontak dan harus dimusnahkan karena melawan hukum serta peraturan negara. Alih-alih sekedar menyajikan kebrutalan ala pembunuh bayaran, melalui para karakter utama kisah ini, pembaca akan diingatkan bahwa diantara kawanan serigala yang buas dan liar, tidak semuanya memiliki naluri pembunuh kecuali hanya untuk bertahan hidup, dan yang lebih menakutkan adalah sosok serigala yang menyamar diantara kawanan domba, bertingkah laku seperti domba namun secara licik menerkam dari belakang.

Dimulai dari sebuah penemuan tak terduga hasil penelitian ilmuwan yang mengungkapkan adanya kandungan ‘mineral’ yang unik ada wilayah tak bertuan di Afrika. Wilayah yang dikenal dengan nama Gunung Kristal, sebuah wilayah tandus dengan medan yang cukup sulit, ternyata memiliki kandungan bukan saja timah tetapi platinum yang bernilai sangat tinggi karena kelangkaannya. Temuan ini nyaris hanya berupa laporan biasa yang akan masuk dalam tumpukan laporan lain, hingga terbaca oleh Sir James Manson – direktur Perusahaan Tambang Manson Consolidated di London. Beliau adalah sosok pria sinis dan realistis, manipulatif dan predator alami. Bagi beliau di dunia politik hanya berlaku satu firman Tuhan yaitu firman kesebelas yang berkata, “Kau tidak boleh ketahuan.” Hal itu yang membuatnya mencapai kesuksesan, kehormatan, kekuasaan dan kekayaan sebagi triliuner yang masih terus berjalan di usianya ke-61.

Sir James telah melakukan perhitungan seandainya ia berhasil menguasai Gunung Kristal, ia akan meraup keuntungan sedikitnya sepuluh miliar dolar. Permasalahannya bagaimana ia bisa mengambil alih lahan yang terlatak di wilayah sebuah negara tak dikenal bernama Republik Zangaro, yang sedang berada dalam kondisi konflik peperangan setelah kudeta terakhir yang berdarah, menyebabkan wilayah tersebut tertutup bagi dunia luar dan dalam pengawasan ketat pihak militer Zangaro ? Maka tidak ada jalan lain kecuali merebut kekuasaan dari Presiden terbaru Jean Kimba – sosok pria yang digambarkan penderita megalomania, paranoid dan cukup gila, memerintah dengan tangan besi. Bagi Sir James, tiada hal yang mustahil jika ia menginginkan sesuatu, dan berkat kekuasaan serta kekayaannya, ia mulai menebar jaring untuk membungkam pihak-pihak yang memiliki pengetahuan tentang penelitian tersebut, memanipulasi agar dibuat laporan palsu dan menyiapkan tim penyelidik untuk terjun langsung ke Republik Zangaro.

Disinilah Mayor Carlo Alfred Thomas ‘CAT’ Shannon terpilih untuk memimpin misi untuk memusnahkan Presiden Kimba dan kabinetnya, agar Sir James bisa memasukan Presiden baru pilihannya yang akan menjadi ‘boneka’ dan memberikan kekuasaan bagi ManCon untuk beroperasi secara mutlak pada Gunung Kristal. Pria berusia 33 tahun ini memiliki ketenangan sekaligus kecerdikan dalam memimpin pasukannya dalam situasi apa pun. Bersama dengan Big Jan Dupree (28 tahun), pelempar mortir terbaik asal Afrika Selatan, Tiny Marc Vlaminck, raksasa dari Jerman yang kekuatan tinju dan bahunya amat berguna untuk menembak bazoka, Jean-Baptiste Langarotti, pria Corsica yang pernah bergabung dalam OAS melawan pasukan kolonial Prancis, ahli bela diri serta pengguna pisau yang sangat handal, dan Kurt Semmler, yang tertua diantara mereka (40 tahun), insinyur asal Jerman yang merupakan veteran perang mulai semasa Hitler hingga kemerdekaan Aljazair dari Prancis pada September 1962.

Jangan langsung berharap adegan pertempuran atau peperangan karena hal itu baru akan muncul menjelang akhir kisah buku setebal 500 halaman ini. Sebagai gantinya pembaca akan diajak menelusuri ‘dunia-lain’ melalui mata sosok Cat Shannon. Bagaimana ia menyusun rencana akan misi yang berbahaya dan penuh resiko serta bahaya tinggi, mulai dari nol. Ia dan tim yang dipilih harus menyelesaikan misi tersebut dalam kurun waktu seratus hari, tidak boleh lebih dari batas waktu tersebut karena adanya pihak lain yang juga mengincar hal yang sama, negara Rusia, sebagai salah satu produsen terbesar platinum dunia dan sekutu Presiden Kimba. Dan ia juga harus mengatasi musuh dari sesama tentara bayaran yang berusaha menyingkirkan dirinya dari kancah perebutan ‘pekerjaan’ sekaligus tetap menjaga kewaspadaan terhadap klien-nya karena bukan tidak mungkin dirinya mengalami resiko permainan licik dari Sir James.

Jika Anda penyuka akan detail, maka novel ini akan memberikan kepuasan tersendiri. Mulai dari pemahaman tentang jual-beli persenjataan secara ilegal maupun legal, pembuatan perusahaan palsu atau korporasi demi melancarkan pembelian barang-barang tertentu, bagaimana menyiasati pembayaran pajak atas kekayaan yang tersimpan di bank-bank tertentu (mulai dari Bank Swiss hingga Belgia) dan tentu saja permainan suap-menyuap antar berbagai pihak dan divisi demi kepentingan masing-masing. Namun jika Anda lebih menyukai adegan yang seru dan penuh ‘action’ dan perkelahian, maka ada kemungkinan sebagian besar kisah ini justru berkesan membosankan dan bertele-tele. Karena kisah ini bukanlah gambaran kegiatan spionase ala James Bond yang gemerlap dengan gadget canggih.

Secara pribadi, diriku lebih menyukai kisah ini dibandingkan bacaanku sebelumnya “The Day of The Jackal” – terutama karena dalam kisah ini, unsur kemanusiaan sangat ditonjolkan, bahkan melalui penggambaran sisi dunia yang kotor dan manipulatif, kita akan mampu melihat perbedaan nyata antara pihak yang benar dan pihak yang ‘dibenarkan’... The Dogs of War bukan saja kisah tentang prajurit bayaran melainkan perjalanan  manusia-manusia yang memiliki prinsip serta keyakinan dalam kehidupan masing-masing, dan berpegang teguh dalam menegakkan secuil keadilan dan kebenaran dalam peperangan yang tiada henti, meski hal itu harus dibayar dengan nyawa masing-masing, dan tiada yang mengenal atau mengenang jasa mereka, jasadnya terkubur di suatu tempat pertempuran ... antara manusia dengan segala kelemahan dan kelebihannya !!

Tentang Penulis :
Frederick Forsyth, lahir pada tanggal 25 Agustus 1938, seorang penulis asal Inggris sekaligus pengamat politik. Lahir di Ashford, Kent, ia mengambil pendidikan di Tornbridge School, yang dilanjutkan ke Universitas Granada di Spanyol. Sempat menjalani Wajib Militer sepanjang tahun 1956 – 1958 dan menjadikan dirinya pilot termuda di Angkatan Udara pada usia 19 tahun. Setelah lulus,  ia melamar sebagai seorang jurnalis di kantor berita Reuter pada tahun 1961, dan beralih ke BBC pada tahun 1965 di mana ia juga bertugas sebagai asisten koresponden diplomatik. Selama bulan Juli – September 1967 ia meliput Perang Sipil Nigeria sebagai koresponden khusus antara Biafra dan Nigeria. Dan setelah meninggalkan BBC pada tahun 1968, ia kembali ke wilayah Biafra sebagai reporter lepas dan menghasilkan karya tulis pertamanya pada tahun 1969 dengan judul ‘The Biafra Story.’

Keberhasilannya pada buku pertama, mendorong jiwa menulisnya untuk menghasilkan novel dengan menggunakan kemampuan dan pengamatan jurnalisnya. Maka lahirlah novel pertama “The Day of The Jackal” pada tahun  1971, yang kemudian menjadi Internasional Bestseller dan memenangkan ‘Edgar Allan Poe Award’ untuk kategori Best Novel. Kesuksesan fiksi yang berdasarkan kenyataan, akan adanya organisasi OAS OAS (Organization L’Armée Secréte) – sebuah kelompok teroris yang mengancam kelangsungan hidup Presiden Prancis Charles de Gaulle, membuat kisah ini diangkat ke layar lebar dengan judul sama pada tahun 1973, disutradarai oleh Fred Zinnemann, dibintangi oleh Edward Fox, Terence Alexander dan Michael Auclair. Pada tahun 1997, rilis sebuah film dengan judul “The Jackal” yang disutradarai Michael Caton-Jones, dibintangi oleh Richard Gere dan Bruce Wilis. Judul yang beredar telah dirubah setelah terjadi negosiasi antara Frederick Forsyth, Fred Zinneman dan pihak pembuat film ini, agar tidak terjadi kerancuan dengan novel maupun film adaptasi sebelumnya, karena kisah dalam film ini sangat berbeda dengan novel “The Day of The Jackal”.

Menyusul keberhasilan novel pertama, karya berikutnya “The Odessa File”  pada tahun 1972, yang berkisah tentang perjalanan seorang reporter untuk melacak keberadaan seorang mantan anggota Nazi,  seorang perwira SS – organisasi rahasia yang merupakan pasukan setia Hitler. Dan  kisah ini juga diangkat ke layar lebar dibintangi John Voight. Setelah itu berturut-turut novel ketiga “The Dogs of War” yang rilis tahun 1974, mengikuti jejak dan kesuksesan serupa. Novel ini diilhami dari  pengalaman beliau saat meliput Perang Biafra (antara Biafra dan Nigeria pada tahun 1970). Republik Zangaro sendiri meskipun hanya berupa rekaan, berdasarkan pada negara Equatorial Guinea bekas jajahan Spanyol.

Novel-novelnya selalu berkisah seputar peperangan, intrik internasional, isu politik, spionase dan kriminalitas lintas negara, seperti “The Fourth Protocol” (1984), “The Negotiator” (1989), dan “The Deceiver” (1991). Beliau juga mencoba menulis novel pada genre yang berbeda berjudul “The Phantom of Manhattan” yang merupakan sekuel dari novel klasik “The Phantom of The Opera”  - namun sayangnya novel ini tidak mendapat respons yang bagus, sehingga akhirnya beliau memutuskan kembali pada genre penulisan yang dikenalnya, thriller-suspence. Kini beliau menetap di Hertfortshire, Inggris bersama istrinya.

Info selengkapnya tentang Frederick Forsyth, silahkan kunjungi situs resminya di : [  Frederick Forsyth's Site | Movie Adaptation ( 1980 ) | The Dogs of War ( Novel ) | on Wikipedia | on IMDb ]

Best Regards,

Hobby Buku 

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...