About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Monday, September 16, 2013

Books "LOST MAN'S LANE"

Books “LOST MAN’S LANE”
Judul Asli : LOST MAN’S LANE : A SECOND EPISODE IN THE LIFE OF AMELIA BUTTERWORTH
[ book 2 of Amelia Butterworth Series ]
Copyright © 1899 by Anna Katherine Green | published by The Knickerbocker
Penerbit Visimedia
Alih Bahasa : Selviya Hana
Editor : Fitria Pratiwi
Proofreader : Tim Redaksi Visimedia
Desain Sampul & Lay-out : EM Giri | photos cover by Oleg Golovnev ; www.shutterstock.com
Cetakan I : Juli 2013 ; 380 hlm ; ISBN 979-065-187-2
Rate : 4 of 5
~ Re-Blogged from HobbyBuku’s Classic ~

Buku kedua yang tentang petualangan sang detektif wanita Amelia Butterworth, kali ini mengharuskan dirinya keluar dari kenyamanan kediamannnya di Gramercy Park dan bepergian ke sebuah desa kecil yang letaknya cukup terpencil hampir 90 mil dari lokasi tempat tinggal Miss Butterworth. Keanehan yang menyelubungi desa tersebut hingga menarik perhatian Kepolisian New York Metropolis disebabkan karena selama 5 tahun terakhir telah hilang 4 orang yang tidak saling kenal, tidak memiliki kesamaan dalam hal usia, pekerjaan, latar belakang, dan hingga kini mereka semua masih belum diketemukan. Satu-satunya petunjuk yang diperoleh, keempatnya pada suatu hari datang dan melewati jalan yang dikenal oleh penduduk setempat dengan nama Lost Man’s Lane, dan mereka semua lenyap tanpa jejak di ujung tikungan, dan tidak satupun orang melihat para korban ini melewati ujung jalan satunya.  



Adalah Mr. Ebenezer Gryce yang ‘meminta’ bantuan kepada Mis Amelia Butterworth untuk tinggal sementara di lokasi tersebut, untuk menggali informasi dan mencaritahu apa gerangan misteri dibalik selubung gelap rahasia yang membuat penduduk desa dicekam rasa takut dan beredar isu tentang adanya hantu yang berkaitan dengan legenda nama Lost Man’s Lane. Karena beliau telah datang dan menyelidiki serta mewawancarai para penghuni satu demi satu, namun sebagaimana penduduk desa kecil yang tertutup, sulit mengorek kebenaran dari mereka. Dan salah satu alasan kuat mengapa beliau meminta bantuan Miss Buttterworth, salah satu penghuni di sepanjang jalan yang dikatakan terkutuk itu, tinggal putra-putri Althea Burroughs – sahabat Amelia yang setelah menikah tinggal di kastil kediaman keluarga Knollys di Lost Man’s Lane. Althea sendiri telah meninggal dunia dalam usia relatif muda, namun keturunannya pernah bertukar kabar dengan Amelia dan mengundang dirinya untuk datang mengunjungi mereka.

Amelia Butterworth bukan seseorang yang suka menunda sesuatu, terutama saat ia telah menetapkan keputusan di dalam benaknya. Maka ia segera berangkat setelah mengirim kabar kepada anak-anak Knollys akan kunjungannya. Dalam waktu yang tidak terlalu lama, meski harus melalui perjalanan yang cukup melelahkan, Amelia berjumpa dengan anggota keluarga Knollys yang terkenal, Loreen yang tegas dan cukup acuh untuk menanggapi keramahan Miss Butterworth terutama hal berbincang-bincang, Lucetta yang menarik namun senantiasa gugup dan cemas, seakan-akan senantiasa berjalan di atas bara api, dan William yang tidak tahu aturan, kurang ajar dan memiliki kesan liar sekaligus menakutkan. Kediaman keluarga Knollys sangat besar namun terlihat sama sekali tidak terawat dan terabaikan. Ketiga anggota terakhir keluarga yang pernah besar dikawasan tersebut, kini terpuruk dalam kemiskinan dan menjalani kehidupan sehari-hari yang cukup aneh dan mengundang keingin-tahuan Miss Butterworth yang pada dasarnya agak ‘usil’ .

~ Map of Lost Man's Lane ~ [ source ]
Sepanjang kisah ini berjalan, pembaca akan turut merasakan keadaan Amelia Butterworth yang dituturkan melalui catatan jurnal sebagaimana kisah pertama petualangannya (baca Affair Next Door). Jika dalam kisah sebelumnya ia berhadapan dengan kasus dimana ia harus membuktikan tersangka yang telah ditangkap tidak terbukti bersalah, maka kali ini semua petunjuk harus digali dengan susah payah karena tiada satu pun pihak bersedia membuka rahasia atau sekedar bercerita kepada dirinya. Amelia harus memutar otak dan bersiasat demi terlaksananya misi menemukan ‘kunci’ yang akan membongkar misteri yang dianggap sebagai kutukan sepanjang Lost Man’s Lane. Meski ia seorang wanita yang cerdas dan tidak mempercayai tahayul, kengerian turut mencekam dirinya, terutama menjelang malam hari, saat ia mendengar bunyi-bunyi aneh dan jeritan menakutkan, pintu kamarnya yang mendadak terkunci hingga ia tak bisa keluar hingga pagi menjelang ...bahkan Mr. Gryce yang mengutusnya, telah memberikan peringatan keras untuk sangat berhati-hati dan tidak mempercayai siapa pun apalagi bepergian seorang diri !!!

Dibandingkan buku pertama, buku kedua ini penuh dengan kesan kelam ala dark-gothic-mystery, mungkin karena latar belakang serta suasana yang sengaja dibuat untuk menghadirkan rasa takut sekaligus ngeri (bagi para pelaku sekaligus pembaca)...yang membuatku teringat akan versi lain karya Sir Arthur Conan Doyle lewat karyanya The Hound of Baskervilles yang menampilkan pasangan detektif Sherlock Holmes dan Watson dalam menghadapi misteri dibalik ‘legenda kutukan’ yang melanda sebuah desa terpencil.  Namun jangan khawatir bahwa kisah ini bakalan berkesan suram dari awal hingga akhir, karena karakter Amelia Butterworth tidak akan membiarkan hal-hal seperti itu memenuhi benaknya. Bahkan ada beberapa adegan yang mengundang senyum simpul ketika Amelia harus berhadapan dengan pria-pria yang ‘berusaha’ melamar dirinya (bahkan merayu dirinya hahaha). Bisa kubayangkan ‘kengerian’ lain di benak Amelia, bahwa pria yang baru melihat dan mengenalnya beberapa hari, jatuh cinta dan menganggap dirinya sebagai calon istri unggulan \(^0^)/

Sikap Amelia yang mandiri, tegas, dan penuh tekad, termasuk saat menepis ‘anjuran’ penduduk setempat (terutama kaum wanita) yang ‘mengasihani’ dirinya yang belum menemukan jodoh dan menikah, sungguh asyik saat ia menjawab bahwa menjadi wanita-single adalah pilihannya dan ia merasa nyaman dengan kondisi tersebut : hal ini menunjukkan satu lagi buah pemikiran penulis yang terbilang ‘sangat feminis’ sekaligus ‘modern’ melampaui masanya. Jika Jane Austen menyoroti kehidupan kaum wanita di masa-masa penuh aturan, norma-norma sosial yang tidak memberikan pilihan kebebasan pada mereka, bagaimana mereka melakukan ‘aneka pemberontakan’ terutama menyangkut pilihan pasangan hidup dan menikah, maka sisi ini juga beberapa kali muncul sepanjang kisah ini. Mulai dari pendapat Loreen dan William tentang kondisi Lucetta yang senantiasa dianggap paling lemah diantara saudaranya, namun ternyata memiliki keteguhan hati serta keyakinan sekokoh karang menyangkut pilihan masa depannya, terhadap pasangan hidup dan pria yang dicintainya.

Meski secara keseluruhan kisah ini merupakan novel misteri yang melibatkan peran serta detektif profesional dan detektif amatir, ada beberapa hal yang cukup menonjol dimana penulis mengungkapkan ‘keberanian’ sosok wanita untuk menentukan jalan hidupnya, terutama di saat bahaya mengancam dirinya. Dalam buku pertama ‘Affair Next Door’ bukan hanya Amelia Butterworth yang memiliki peran cukup besar, penampilan Ruth Oliver / Olive Randolph yang misterius, menarik sekaligus menyedihkan, membuat sebuah ending kisah yang tak mudah terlupakan bagi para karakter utama dalam kisah ini sekaligus para pembacanya. Tak pelak, Anna Katherine Green merupakan salah satu penulis kisah misteri yang mampu memadukan unsur drama-romansa-misteri-sains dan permainan psikologis yang menawan untuk penulis pada masanya. Yang jelas, kini karya-karya beliau akan masuk dalam daftar bacaan misteri koleksiku. Pengharapan terbesar dariku sebagai pecinta kisah misteri, penerbit bersedia mengeluarkan karya-karya lain dari penulis yang satu ini (^_^) ...Love it !!!  

Tentang Penulis :
Anna Katherine Green lahir di Brooklyn pada tanggal 11 November 1846, putri dari pasangan Catharine Ann Whitney Green dari James Wilson Green, yang merupakan salah satu pengacara terkenal di New York. Awalnya ia memiliki ambisi untuk menjadi penulis puisi dan roman, yang membawanya pada korespondensi dengan Ralph Waldo Emerson untuk proses penulisan kreatifnya. Namun justru novel misterinya yang pertama ‘The Leavenworth Case’
(1878) yang mendapat sorotan serta pujian dari penulis misteri ternama Wilkie Collins, bahkan menduduki mendapat penghargaan sebagai buku Internasional Bestseller Amerika yang pertama. Dan hal ini membawanya untuk menekuni penulisan novel misteri-detektif.

Prestasinya dalam bidang akademis menunjukkan keinginan untuk senantiasa belajar hal-hal baru. Dibuktikan ketika pada tahun 1866, ia menyelesaikan pendidikan dari Ripley Female College (sekarang disebut Green Mountain College) di Poultney, Vermont, dan ia merupakan sarjana perempuan pertama untuk ilmu seni. Pada tahun 1877, ia bertemu dengan Charles Rohlfs yang berprofesi sebagai aktor. Meski ada perbedaan usia 7 tahun lebih muda, keduanya menikah pada tanggal 25 November 1884 di Gereja Congregational Selatan, Brooklyn. Setelah menikah, Rohlfs memilih beralih profesi menjadi desainer furniture dan Green mengelola penerbitan buku sembari tetap melakukan aktifitas penulisan karyanya.

Putri pertama mereka, Rosamond lahir di tahun 1885, dan pada tahun berikutnya Green menerbitkan ‘The Mill Mystery’ dan ‘Risifi’s Daughter’. Pada Mei 1887, ia melahirkan anak kedua : Sterling sekaligus mengeluarlan novel terbarunya berjudul ‘7 to 12 : A Detective Story’ pada bulan Juni. Tahun 1892 Green kembli melahirkan anak ketiga yang diberi nama Roland, sekaligus menerbitkan Cynthia Wakeham’s Money. Selain mengelola penerbitan bukunya dan merawat ketiga anaknya, Green tetap meluangkan waktu membantu dan berkolaborasi bersama suaminya dalam bisnis furniture.

Novel detektif karyanya yang paling terkenal, memperkenalkan tokoh detektif Ebenezer Gryce dari Kesatuan Kepolisian New York Metropolitan. Namun, dalam novelnya ‘That Affair Next Door’         (1897) ; ‘Lost Man’s Lane : A Second Episode in the Life of Amelia Butterworth’(1898) ; dan ‘The Circular Study’ (1900), selain sosok Mr. Gryce, beliau memperkenal karakter detektif wanita pertama bernama Amelia Butterworth, sosok mandiri, cerdas, memilih untuk tidak menikah karena menyukai kebebasan dan suka ‘usil’ mencari-tahu urusan orang lain. Selain itu beliau juga menciptakan karakter Violet Strange – gadis yang bekerja sebagai detektif amatir untuk kepolisian dalam kumpulan cerpen ‘The Golden Slipper and Other Problems for Violet Strange’ (1915).

Sumber insiprasi karya-karya beliau adalah penulis Edgar Allan Poe dan Emile Gaboriau, yang dianggap sebagai mentor dalam bidang penulisan fiksi detektif. Sosok sang ayah yang berprofesi sebagai pengacara turut menambah wawasan beliau seputar dunia hukum, dan kisah yang dituturkan oleh Ralph Waldo Emerson (yang secara tidak langsung menjadi ‘dosen-pembimbing’ Green dalam penulisan kreatif), tentang agen intelijen perempuan semasa Perang Sipil Amerika, menjadi sumber ide karakter-karakter utama karyanya. Pada tanggal 11 April 1935, beliau wafat pada usia 88 tahun di kediamannya di Buffalo, New York, setelah secara produktif menghasilkan 40 buah buku.

[ more about the author and related works, just check at here : on Wikipedia | on Goodreads | at OnlineLiterature | Her Works | Amelia Butterworth Series  ]

Best Regards,

* Hobby Buku * 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...