About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Wednesday, July 18, 2012

Books "ONE SECOND AFTER"


Judul Asli : ONE SECOND AFTER
Copyright © 2009 by William R. Forstchen
Penerbit Sheila, an imprint from Andi Publishing  
Alih Bahasa : Dhewi Berta Hardjono
Editor : Th. Arie Prabawati
Cover by dan_dut
Cetakan I : 512 hlm 
Rate : 2 of 5 

Saat membaca sinopsis kisah ini di halaman sampul belakang, kisah tentang kehancuran dunia karena adanya serangan EMP – membuat diriku semakin tertarik dengan topik yang cukup lama menjadi tema debat yang memicu pro dan kontra belakangan ini. Meski sedikit ada keraguan dengan penerbit yang masih terbilang baru dalam mengerbitkan karya tulis fiksi, namun rasa ingin-tahu yang lebih besar akhirnya mampu membuatku meraih buku ini dari display di sebuah toko buku.

Kisah ini mengambil lokasi di wilayah Black Mountain, North Carolina, sebuah wilayah di Amerika Serikat. Dengan tokoh utama bernama Kolonel John Matherson, yang memilih meninggalkan karirnya di Penthagon dan menyepi di kota kecil di pegunungan terpencil demi sang istri, Mary yang menderita kanker payudara, sehingga ia dapat beristirahat dengan tenang sekaligus berkumpul dengan kedua orang tuanya. Saat itu sekitar pukul 2:30 siang, John tengah menanti kedatangan putri bungsunya Jennifer yang akan berusia 12 tahun pada hari itu. Sepeninggalan Mary yang akhirnya tak mampu bertahan dalam pertarungannya dengan kanker 4 tahun lalu, John memilih tetap tinggal di kota tersebut dan membesarkan kedua putrinya, Elizabeth yang kini berusia 16 tahun serta Jennifer, gadis periang dan lincah sekaligus penderita penyakit diabetes tingkat 1, di tengah keluarga yang masih ada, sang nenek Jenny dan kakeknya Tyler. Dan pada siang itu pula, mendadak listrik, telepon, radio, semua yang berhubungan dengan listrik, padam dan persiapan serta perayaan ulang tahun Jennifer harus dilakukan dalam kegelapan. 

Sampai keesokan harinya ternyata pemadaman tersebut melanda seluruh kota. Bahkan di jalan-jalan, semua kendaraan terhenti di sana, tak bergerak dengan cara apa pun, membuat suatu pemandangan aneh ketika keributan lalu-lintas tak lagi terdengar, hanya para pengemudi yang keluar dan berjalan-jalan dengan penuh kebingungan di antara berbagai jenis kendaraan yang ‘mesinnya-mati’ itu ... John berkeliling menggunakan kendaraan mertuanya, sebuah mobil Ford Edsel kuno keluaran 1959, dan melihat pemandangan yang aneh sekaligus menimbulkan rasa gelisah di dalam hatinya. Semua toko tutup karena tiada listrik. Bahkan supermarket dan lemari pendingin juga terancam mengalami kerugian besar jika listrik tak kembali berfungsi. John dengan pengalaman semasa menjalani dinas di Penthagon, merasa curiga adanya suatu serangan dari luar, serangan yang melumpuhkan semua peralatan dan komponen listrik, termasuk alat-alat komunikasi.

Dalam beberapa hari mulai terjadi keributan di berbagai tempat. John yang mengenali serangan yang memiliki efek seperti ini, yaitu serangan akibat tembakan nuklir yang memicu radiasi gelombang EMP (Elektromagnetic Pulse), mencoba membantu para wakil serta pimpinan kota. Ia tahu bahwa hal ini akan berlangsung lama, dan jika tidak segera diambil langkah-langkah pencegahan, maka akan terjadi musibah besar yang berakibat pada kematian dan kerusuhan massal.  John sangat mengkhawatirkan kondisi Jennifer yang senantiasa tergantung pada suntikan insulin, bagaimana ia akan mendapatkan simpanan jangka panjang, dan bagaimana ia mampu menyimpannya agar tidak rusak, jika tiada lemari es atau pendingin.

Dengan kerusakan pada jaringan telepon maupun berbagai media elektronik, kehidupan di Black Mountain yang pada dasarnya sudah cukup terpencil, menjadikan para penghuninya bagai terisolasi dari dunia luar, apalagi dengan terputusnya komunikasi. Akan tetapi John menyarankan agar mereka mengirim utusan guna mengetahui keadaan di sekitar mereka, terutama kota-kota terdekat. Tanpa sadar, pada akhirnya John membawa para perwakilan kota guna mempersiapkan diri terhadap berbagai kondisi terburuk yang dikhawatirkan akan datang ... sesuatu yang sangat mengerikan yang tak akan mampu mereka bayangkan sebelumnya.

~ illustrasi ketika militer mengambil alih kekuasaan ~
Kesan :
Topik yang dipilih sebagai tema utama : serangan EMP sungguh sangat menarik untuk disimak lebih jauh, sekaligus menjadi sebuah bayangan mengerikan yang mampu kubayangkan. Sebagai manusia yang sudah terbiasa dengan kehidupan modern, dimana semua serba praktis dan bantuan peralatan elektronik bukan hanya sekedar alat tapi merupakan sebuah kebutuhan dan trend yang setiap hari berubah dan berkembang dengan kecanggihan serta penawaran sistem terbaru.
Bayangkan jika suatu hari Anda terbangun dengan suasana aneh – suara sunyi senyap, karena tiada suara kendaraan bermotor yang lalu-lalang, tiada suara mesin AC, tiada dengungan lemari es serta mesin cuci, tiada berdesisnya mesin pembuat kopi, air PDAM tidak keluar setetes pun, televisi serta radio gelap tak bersuara, ponsel dan gadget Anda tidak mengeluarkan tampilan apa pun, hanya layar hitam kosong, saluran telepon sunyi, tiada suara yang terdengar disana, menjelang malam, kegelapan menyelimuti sekeliling kita, karena tiada satu pun lampu yang bisa menyala ... 

Apalagi jika seperti  diriku yang bergelut dengan dunia online sebagai mata pencaharian, bukan hanya segi bisnis, bahkan kegemaran dan kesukaan sebagai blogger akan hilang. Bagaimana dengan orang-orang yang tidak bisa lepas dari facebook or twitter or sosmed lainnya ?? Bagaimana mereka yang biasa bertukar sapa dalam hitungan detik via BBM, foursquare, Whatsapps, dll ?? Atau yang memiliki kecanduan browsing dan surfing kapan saja di mana saja. Apalagi dengan para penghuni kota metropolitan yang serba praktis, semua bisa via telepone atau internet tanpa beranjak keluar selangkah pun dari tempat duduk yang nyaman ... 

Wow ... sungguh sangat mengerikan !!! Tiada alat transportasi, karena semua mesin mati. Tiada peralatan medis yang mampu beroperasi, sehingga semua jenis operasi tidak bisa dilakukan, bahkan pasien-pasien rumah sakit yang kelangsungan hidupnya tergantung pada peralatan ini akan segera mengalami kesakitan serta penderitaan mengerikan, hingga akhirnya tewas secara mengenaskan.  Dan lewat karakter utama John Matherson yang merupakan mantan anggota militer yang terlatih menghadapi kondisi darurat dan berbahaya, namun tetap saja ‘miris’ membayangkan saat ia harus membawa ayah mertuanya keluar dari rumah sakit yang penuh dengan mayat membusuk serta pasien-pasien tak terurus. Diriku juga mampu membayangkan ketakutan yang membayangi diri John ketika ia memikirkan nasib putrinya yang tergantung dengan suntikan insulin, bagaimana ia harus memohon bahkan setengah memaksa sang apoteker memberikan persediaan suntikan insulin yang masih tersisa. 

Dengan cermat penulis menggambarkan bahwa manusia – makhluk yang diberi kebebasan akal budi justru bisa ‘kehilangan-akal’ pada saat-saat genting, dan bertindak melampaui batas kemanusiaan. Pemerkosaan, perampokan, penjarahan, bahkan pembunuhan melanda, dan yang paling ekstrem adalah munculnya kelompok ‘kanibal’ yang membunuh dan memakan anggota tubuh manusia lain. Tindakan main hakim sendiri sudah tidak  jelas  batasannya, masing-masing berusaha mencari keselamatan bagi diri mereka serta anggota keluarga masing-masing. Hanya segelintir orang yang mampu dan masih bisa mempertahankan akal sehatnya. Kejadian yang ditampilkan dengan periode waktu selama hari demi hari, hingga mencapai puncaknya pada hari ke-365 , genap setahun semenjak awal serangan EMP menyerang wilayah Amerika tersebut, membuat pembaca dituntun memasuki dunia kelam dan suram, namun menjanjikan secercah cahaya kecil, harapan demi masa depan, kehidupan baru yang dimulai dari awal kembali.

Satu-satunya hal yang tidak kusukai dalam kisah ini, penggambaran karakter para tokohnya, terutama John Matherson yang seharusnya bisa lebih ‘intens’ dalam segi emosi, justru berkesan sangat datar dan monoton, bagaikan membaca laporan harian seorang prajurit yang hanya menampilkan data-data dan fakta  yang sedang terjadi serta pengalaman yang menimpa dirinya. Pengulangan serta penggambaran berupa dialog dan perdebatan antar anggota perwakilan kota, berkesan bertele-tele. Entah ini merupakan gaya yang dipilih sang penulis atau terjemahan yang kurang ‘menangkap’ suasana yang dimaksud oleh sang penulis, yang jelas sungguh sangat berat bagi diriku untuk menyelesaikan kisah setebal 500 halaman ini.

~ serial TV kisah penyelamatan setelah 'black-out' melanda kota-kota ~
Dan bukan karena berbagai penggambaran hal-hal teknis belaka (diriku juga sering membaca fiksi yang berbau teknis namun tetap menarik, seperti novel-novel Tom Clancy atau John Grisham), atau kisah yang terlalu panjang, tapi justru kesan ‘hambar dan monoton’ inilah yang sangat mengganggu dan membuatku ‘malas’ dalam melahap bacaan ini lebih cepat. Sungguh sayang, karena topik yang dipilih sangat menarik untuk disimak lebih dalam. Maka sebagai pembaca, diriku harus menambahkan ‘bumbu penyedap’ sendiri agar menjadikan kisah di dalamnya lebih hidup. Jika Anda bukan tipe yang memiliki daya imajinasi tinggi, kemungkinan Anda akan tertidur atau menutup kisah ini di halaman-halaman pertama. Sungguh sangat disayangkan ...
 
Note :
Buku ini mendapat respons positif di kalangan pembaca di Amerika bahkan saat rilis pada tanggal 17 Maret 2009, mencapai posisi urutan ke-11 dalam daftar New York Times Bestseller periode 3 Mei 2009. Hak cipta pembuatan film berdasarkan kisah ini semula sudah diambil oleh Warner Bros, namun karena sesuatu hal, maka hak ini diambil oleh studio film lain pada tahun 2011, namun kepastian tentang jadwal rilis film-nya belum dapat dipastikan. Jika melihat begitu banyak fiksi yang masuk daftar bestseller dunia atau penilaian berdasarkan rating New York Times, tidak semua edisi terjemahannya di-support oleh penerbit yang juga mengeluarkan versi ini dalam kondisi layak, adalah sangat disesalkan oleh para pembaca dan penikmat buku seperti diriku. Namun ada pula dimana meski buku-buku tersebut populer di wilayah tertentu, belum tentu cocok atau diterima oleh khalayak di wilayah yang berbeda. Maka alangkah bedanya penerbit yang bersedia melakukan survei / jejak pendapat sebelum mengambil langkah dalam menerbitkan edisi terjemahan yang lebih berkualitas. Sejauh ini, bisa dihitung dengan jari, berapa banyak penerbit buku yang secara serius mengeluarkan hasil-hasil buku terjemahana yang layak dan berkualitas, persaingan memang ketat, namun hendaknya penerbit juga memperhatikan segi kualitas bukan hanya kuantitas. 

Tentang Penulis :
William R. Forstchen meraih Ph. D dari Purdue University dengan spesialisasi sejarah militer dan sejarah teknologi. Ia adalah seorang pengajar dan profesor sejarah di Montreat College. Forstchen telah menulis lebih dari empat puluh buku, termasuk novel bestseller versi New York Times, Gettysburg dan Pearl Harbor ( dengan Newt Gingrich sebagai penulis pendamping ), dan juga novel pemenang penghargaan kategori Young Adult berjudul ‘We Look Like Men of War’. 

Ia juga menulis banyak cerita dan artikel mengenai sejarah militer dan teknologi militer. Bidang arkeolog juga menjadi minatnya. Dia memiliki dan menerbangkan “recon bird” orisinal dari Perang Dunia II. Dr. Forstchen tinggal di dekat Asheville, North Carolina, bersama putri remajanya : Meghan, dan anjing golden retriver serta yellow labrador mereka. 
 
Info selengkapnya tentang penulis maupun buku ini, silahkan kunjungi situs resminya di : http://www.onesecondafter.com/

Best Regards, 
* Hobby Buku *  


No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...