About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Monday, June 25, 2012

Books " THE DAY OF THE JACKAL"


Judul Asli : THE DAY OF THE JACKAL
Copyright ©Frederick Forsyth 1971
Penerbit : Serambi Ilmu Semesta
Alih Bahasa : Ranina B. Kunto
Editor : Adi Toha
Cetakan I : Juni 2011 ; 610 hlm 
Rate : 3 of 5 

Apa yang terjadi jika ideologi sebuah negara bergantung pada pola pikir sang pemimpin, yang mengalami pergantian kekuasaan silih-berganti ? Tentu saja akan terjadi ‘pergesekan dan pergeseran’ antara pihak yang berkuasa dan pihak yang kalah, dengan kata lain akhirnya timbul kudeta dan peperangan. 

Pemerintahan Prancis yang disebut sebagai Republik Keempat, yang terkenal penuh korupsi dan pengaruh komunis, akhirnya pada Juni 1958, berhasil digulingkan oleh Jenderal de Gaulle yang menjabat sebagai Perdana Menteri Prancis saat itu, dan beliau terpilih dengan pendukung dari berbagai penjuru Prancis sebagai Presiden Republik Kelima, siap memasuki Istana Elysée pada Januari 1959. Dengan keras Presiden Charles de Gaulle memimpin dan memulihkan kondisi negara, melalui berbagai kebijaksanaan baru tanpa kompromi, menolak pengruh-pengaruh asing, dan berusaha mendirikan negara Prancis yang murni dan bangga akan statusnya. 

“Anda dihadapkan dengan pilihan soal kesetiaan. Sayalah Prancis, instrumen takdir negara ini. Ikutlah saya. Patuhilah saya.” 

Demikianlah siaran radio yang disiarkan secara nasional pada Juni 1940, pidato Presiden de Gaulle yang menimbulkan berbagai pendapat serta perpecahan di antara pendukungnya. Terutama setelah kebijakan baru mengenai status Aljazair yang tidak termasuk dalam rencana pemulihan negara dan bangsa Prancis. Penduduk Aljazair yang juga banyak merupakan rakyat Prancis, turut berperan serta dalam mendukung peperangan sekian lama, menelan banyak korban jiwa demi perjuangan dan membela harkat bangsa Prancis. Dan pada akhirnya, Presiden de Gaulle justru mengikat kerjasama dengan ‘mantan musuh’ dan tidak memperdulikan kesejahteraan rakyat Aljazair ... setidaknya itulah pemikiran para pendukung yang berbalik membenci dan mengutuk Presiden de Gaulle. Sebagai seorang pengkhianat bangsa, maka jalan satu-satunya ia harus segera ‘dimusnahkan’ –maka dibentuklah kelompok yang berniat membunuh sang Presiden. 

Dari sekian banyak kelompok pemberontak baru ini, yang terbesar adalah OAS (Organization L’Armée Secréte) – organisasi besar yang didukung oleh dana yang tidak sedikit dari para simpatisan yang tidak menyukai kebijakan Presiden de Gaulle, yang mengkoordinir  berbagai kegiatan kejahatan kecil maupun besar dengan tujuan merongrong pemerintahan Prancis. Namun agenda no. 1 dalam kegiatan mereka adalah pembunuhan sang presiden. Dan puncaknya pada tgl. 22 Agustus 1962, melalui penyelidikan serta perencanaan sekian lama, dilakukan pembunuhan terhadap rombongan Presiden di Petit-Clamart, dan rencana itu gagal !! Kegagalan akibat kesalahan fatal akan sebuah detil kecil yang justru menentukan keselamatan sang Presiden, akhirnya menyeret sang pemimpin OAS Letnan Kolonel Jean-Marie Bastien-Thiry pada hukuman dengan tuduhan konspirasi menentang negara. Dan pada tgl. 11 Maret 1963, ia dieksekusi, diikuti dengan sederetan pengikut setianya yang diburu dan ditangkap oleh Dinas Aksi – suatu badan rahasia yang bergerak bebas untuk menjalankan perlindungan terhadap apa saja yang dianggap membahayakan / menyerang negara Prancis. Dinas Aksi bertindak cepat, setelah kematian sang pemimpin OAS, giliran wakil OAS : Antoine Argoud, yang juga merupakan kepala operasi OAS, diculik dan ditempatkan di tempat persembunyian rahasia guna diinterogasi. Boleh dikatakan, Antoine Argoud tidak akan pernah kembali ke dunia luar. 

March Rodin – wakil Antoine Argoud , memilih bersembunyi di Austria, guna mempertahankan jaringan OAS. Namun ia khawatir dengan perkembangan yang menimpa organisasinya. Para pengikut serta para donatur setia, perlahan-lahan menghilang, semua merasa takut akan terseret dalam penangkapan yang dilakukan oleh Dinas Aksi. March Rodin sadar, satu-satunya cara mencegah keruntuhan OAS adalah mewujudkan rencana terbesar : membunuh Presiden de Gaulle, tapi bagaimana caranya ? Dan setelah memutar otak dan mencoba berbagai alternatif dalam benaknya, ia mendapatkan sebuah ide brillian, ide yang hanya bisa berjalan dengan segelintir orang saja. Maka dibuatlah pertemuan rahasia di Pension Kleist di Bruckneralle, Wina, mengundang René Montclair dan André Casson, keduanya merupakan tangan kanan March Rodin dan orang-orang kepercayaannya. Rodin hanya didampingi pengawal pribadinya Viktor Kowalski, demi menjaga agar rahasia tidak bocor, apalagi dengan banyaknya mata-mata yang disusupkan oleh Dinas Aksi ke dalam badan OAS. Pertemuan ketiganya segera disusul dengan pertemua rahasia berikutnya, pertemuan yang akan mewujudkan konspirasi rahasia pembunuhan Presiden Prancis. Belajar dari pengalaman akan kegagalan-kegagalan sebelumnya, maka kali ini OAS tidak bertindak sendiri, melainkan memanggil ‘tenaga ahli’ dari pihak luar. Mereka memanggil seorang pembunuh bayaran dengan kode julukan ‘Sang Jackal’. 

Setelah itu sepanjang Juni-Juli 1963, Prancis diguncang dengan merebaknya kejahatan terhadap perbankan dan toko-toko permata, serta serangan terhadap kantor-kantor pos. Pihak Kepolisian mengalami jalan buntu dalam penyelidikan kasus-kasus tersebut. Tampaknya kegiatan itu diorganisasi sangat rapi dan jalurnya sangat rahasia. Bahkan oknum-oknum pelaku yang tertangkap hanyalah penjahat biasa yang tidak tahu menahu tentang operasi yang terjadi, mereka hanyalah pelaku yang menerima perintah dari mafia kejahatan. Kasus-kasus ini segera menjadi perhatian Komisaris Maurice Bouvier, kepala Brigade Kriminal Police Judiciare (PJ) yang sangat disegani. Beliau menaruh kecurigaan besar, ada sesuatu yang jauh lebih besar di balik berbagai perampokan yang tiba-tiba melanda. Tanpa bukti lebih lanjut, beliau berusaha tetap ‘mengamati’ perkembangan yang terjadi.

Di sisi lain, ketiga ‘pentolan’ OAS yang masih belum tertangkap, tetap dalam pengawasan ketat mata-mata Dinas Aksi. Dan Jenderal Guibaud – pimpinan SDECE, sedikit heran mengapa ketiga tokoh kriminal itu justru berkumpul di satu tempat, tak melakukan kegiatan yang mampu mengundang ‘kedatangan’ pihak berwajib. Semuanya tampak aneh dan mencurigakan, namun tanpa ada kejelasan atau bukti nyata apa yang akan terjadi.  Hingga suatu saat Kepala Dinas Aksi Kolonel Roland – mengamati lebih lanjut berbagai laporan yang masuk tentang berbagai peristiwa yang terjadi beberapa bulan sebelumnya, dan ia menemukan suatu hal yang cukup ‘menakutkan’ – adanya kecurigaan telah terjadi rencana pembunuhan terbaru yang sedang berlangsung.

Kesan :
Membaca buku ini pada awal halaman-halaman depan sungguh sangat monoton, dan membosankan, hampir saja kuletakkan karena seperti membaca buku pelajaran sejarah jaman sekolah dulu ... untungnya kucoba teruskan hingga menjelang pertengahan, akhirnya mulai sebuah misteri muncul, menimbulkan rasa penasaran yang makin berlanjut hingga tak terasa halaman terakhir pun selesai. 

Seperti semua penulis thriller yang berkutat dengan seting sejarah, sungguh sulit untuk tidak terjebak dengan berbagai penjelasan serta detil yang cukup bagus namun jika tidak hati-hati maka bisa terjebak pada penjelasan yang monoton dan membosankan. Ini merupakan pertama kali diriku membaca karya penulis, dan harus kuakui meski tidak terlalu suka dengan gaya penulisannya, tapi kisah serta ide yang diberikan cukup menarik untuk disimak lebih lanjut. 

Memanfaatkan fakta-fakta akan pemeriantahan era Presiden Prancis Charles de Gaulle, muncul sebuah kisah mata-mata yang penuh dengan intrik dan misteri layaknya kisah klasik spionase. Yang sedikit berbeda, penulis berusaha menampilkan kisah dari sudut pandang berbagai pihak, sehingga tidak ada tokoh utama / tokoh sentral dalam kisah ini, menjadikan kisah ini kaya akan variasi namun tetap terjaga hingga tidak terlalu melebar hingga membingungkan para pembaca. Kekurangan dari gaya penuturan seperti ini, pembaca kurang dapat berinteraksi lebih dekat dengan para tokoh-tokohnya. Dan ini yang menjadikan kisah semacam  ini sedikit ‘kurang dikenang’ setelah kita selesai membacanya. Bukan berarti ini sebuah kisah yang tidak bagus, tapi terlalu banyak ‘bumbu’ bisa menghilangkan rasa asli / esensi dari sebuah kreasi. 

Sosok misterius pembunuh yang disebut sebagai ‘Jackal’ sebetulnya cukup mengundang jika dapat dijadikan tokoh utama. Tapi gambaran tentang sosok ini bercampur-baur dengan peran sertanya dan gambaran tentang perjalanannya berkeliling dunia. Demikian juga dengan sosok lawannya  : Komisaris Claude Lebel – Kepala Divisi Pembunuhan, wakil Kepala PJ yang terpilih untuk melacak keberadaan sang Jackal. Meski ada gambaran sekelumit tentang perjuangannya, namun siapakah diri Claude Lebel tidak terungkap lebih jelas. Sekedar perbandingan dengan sosok Bourne dalam novel Robert Ludlum atau sosok Jack Ryan dalam karya Tom Clancy, dalam satu novel ( sebelum pembaca membaca serialnya ) terbentuk perkembangan karakter dan kepribadian tokoh-tokohnya, sehingga pembaca mampu mengikat-diri dan memahami lebih dalam. 

Terlepas dari beberapa kekurangan di atas, novel ini patut mendapat pujian karena penulis mampu mengolah fakta-fakta yang ada, beberapa kebenaran dan kisah bersejarah serta tokoh-tokoh yang nyata, menjadi sebuah bacaan fiksi yang menghibur sekaligus memukau pembacanya, tanpa terlalu berkesan sebagai ‘buku panduan sejarah’. Kemungkinan kemampuannya sebagai seorang jurnalis, sangat bermanfaat dalam mengolah materi nyata menjadi kisah yang disukai dan pasti menarik untuk dibaca. Bagi Anda yang menggemari kisah misteri serta thriller modern dengan detil-detil sejarah serta fakta-fakta yang menggugah rasa ingin-tahu lebih dalam, maka ini adalah bacaan yang cocok dan layak untuk disimak lebih lanjut (^_^)

Tentang Penulis :
 

Frederick Forsyth, lahir pada tanggal 25 Agustus 1938, seorang penulis asal Inggris sekaligus pengamat politik. Lahir di Ashford, Kent, ia mengambil pendidikan di Tornbridge School, yang dilanjutkan ke Universitas Granada di Spanyol. Setelah lulus, ia melamar sebagai seorang jurnalis di kantor berita Reuter pada tahun 1961, dan beralih ke BBC pada tahun 1965 di mana ia juga bertugas sebagai asisten koresponden diplomatik. Selama bulan Juli – September 1967 ia meliput Perang Sipil Nigeria sebagai koresponden khusus antara Biafra dan Nigeria. Dan setelah meninggalkan BBC pada tahun 1968, ia kembali ke wilayah Biafra sebagai reporter lepas dan menghasilkan karya tulis pertamanya pada tahun 1969 dengan judul ‘The Biafra Story.’


Keberhasilannya pada buku pertama, mendorong jiwa menulisnya untuk menghasilkan novel dengan menggunakan kemampuan dan pengamatan jurnalisnya. Maka lahirlah novel pertama “The Day of The Jackal” pada tahun  1971, yang kemudian menjadi Internasional Bestseller dan memenangkan ‘Edgar Allan Poe Award’ untuk kategori Best Novel. Kesuksesan fiksi yang berdasarkan kenyataan, akan adanya organisasi OAS OAS (Organization L’Armée Secréte) – sebuah kelompok teroris yang mengancam kelangsungan hidup Presiden Prancis Charles de Gaulle, membuat kisah ini diangkat ke layar lebar dengan judul sama pada tahun 1973, disutradarai oleh Fred Zinnemann, dibintangi oleh Edward Fox, Terence Alexander dan Michael Auclair. Pada tahun 1997, rilis sebuah film dengan judul “The Jackal” yang disutradarai Michael Caton-Jones, dibintangi oleh Richard Gere dan Bruce Wilis. Judul yang beredar telah dirubah setelah terjadi negosiasi antara Frederick Forsyth, Fred Zinneman dan pihak pembuat film ini, agar tidak terjadi kerancuan dengan novel maupun film adaptasi sebelumnya, karena kisah dalam film ini sangat berbeda dengan novel “The Day of The Jackal”. 


Menyusul keberhasilan novel pertama, karya berikutnya “The Odessa File”  pada tahun 1972, yang berkisah tentang perjalanan seorang reporter untuk melacak keberadaan seorang mantan anggota Nazi,  seorang perwira SS – organisasi rahasia yang merupakan pasukan setia Hitler. Dan  kisah ini juga diangkat ke layar lebar dibintangi John Voight. Setelah itu berturut-turut novel ketiga “The Dogs of War” yang rilis tahun 1974, mengikuti jejak dan kesuksesan serupa, demikian juga “The Fourth Protocol” (1984), “The Negotiator” (1989), dan “The Deceiver” (1991). Beliau juga mencoba menulis novel pada genre yang berbeda berjudul “The Phantom of Manhattan” yang merupakan sekuel dari novel klasik “The Phantom of The Opera”  - namun sayangnya novel ini tidak mendapat respons yang bagus, sehingga akhirnya beliau memutuskan kembali pada genre penulisan yang dikenalnya, thriller-suspence. 


Info selengkapnya tentang Frederick Forsyth, silahkan kunjungi situs resminya di : http://www.frederickforsyth.co.uk/

Best Regards,
* Hobby Buku * 

2 comments:

  1. Agak jadul, sih. Baru terbit sekarang. Lumayan, apalagi buat yang sudah nonton filmnya...

    blogwalking...^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thank you sdh mampir Fiberia :D, iya sdh jadul, tapi penerbitnya berusaha mengeluarkan seri suspense karya FF ini, meski aq lebih suka gaya Robert Ludlum dan Tom Clancy :D

      Delete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...