About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Thursday, October 4, 2012

Books "IMMORTAL IN DEATH"



Books “ ABADI DALAM KEMATIAN “
Judul Asli : IMMORTAL IN DEATH 
( book 3 of In Death Series )
A Novel by J.D. Robb
Copyright © 1996 by Nora Roberts
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Sisilia Kinanti G.
Cetakan ke-1 : Agustus 2008 ; 472 hlm
Cover by Marcel A.W. 
Rate : 4 of 5

Sinopsis :

[ source
Eve akan menikah !! Yepp, akhirnya Roarke berhasil mengikat Eve pada janji untuk menikah dengan segera … dan saat ini ia sedang ‘bersungut-sungut’ dalam persiapan menjelang pernikahan tersebut. Maka pada pagi yang cerah ( tidak secerah suasana hati Eve tentunya ), ia berangkat menemui Mavis Freestone – sahabat dekatnya yang mampu memaksa Eve membuat gaun pengantin rancangan temannya, Leonardo. Setiba di kediaman Leonardo, terbukti bahwa antara mereka berdua ( Mavis & Leonardo ) bukan sekedar berteman tapi lebih merupakan sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Meski awalnya Eve ragu-ragu dengan rancangan Leonardo ( apalagi melihat selera busana Mavis yang selama ini justru dihindari oleh Eve ), namun pada akhirnya ia mengakui ide rancangan Leonardo sangat cocok dengan keinginannya ( diluar segala macam atribut tambahan … ). 

Di tengah-tengah kesibukan pengukuran tubuh Eve bagi rancangan gaun pengantin, tiba-tiba masuklah seorang wanita menyerang Eve sembari memaki-maki Leonardo, tentu saja Eve bereaksi secara otomatis terhadap segala serangan – ditinjunya wajah wanita tersebut dengan keras. Kehebohan setelah itu bukannya mereda karena wanita tersebut adalah Pandora – model terkenal & mantan kekasih Leonardo yang baru diputus sejak Leonardo berhubungan dengan Mavis. Pandora yang tidak terima, lebih dikarenakan tersinggung egonya, mengancam agar Leonardo mencampakan Mavis atau karirnya sebagai desainer yang baru menanjak akan dihancurkan. 


[ source ]
Eve harus melupakan peristiwa tersebut, saat masuk berita akan kematian Carter Johannsen alias Boomer yang merupakan informan professional yang bekerja dibawah naungan Eve. Korban telah dibunuh secara keji, lehernya dicekik dan wajahnya dipukuli hingga hancur sebelum dibuang ke sungai. Dalam penyelidikan kasus ini, Eve bertemu kembali dengan Letnan Delia Peabody – yang telah banyak membantu dalam kasus pembunuhan sebelumnya, dan bukti akan kecakapan, ketelitian serta ketangguhan dirinya membuat Eve menarik Peabody untuk membantunya dalam kasus pembunuhan Boomer. 

Dari hasil pemeriksaan di kediaman Boomer, ditemukan sekantung bubuk kristal biru serta cakram rekaman yang disembunyikan oleh korban. Selain itu ada indikasi bahwa korban sengaja menyembunyikan keberadaannya sebelum terbunuh, membuktikan bahwa Boomer merasakan adanya bahaya mengancam dirinya. Penelitian lebih lanjut akan isi rekaman hanya menunjukkan suatu rangkaian formula kimiawi yang tak diketahui. Memanfaatkan fasilitas yang dimiliki oleh Roarke, rangkaian tersebut berhasil di-identifikasi sebagai rangkaian dengan formula yang mengandung obat perangsang dengan kadar kecanduan tinggi serta mampu mempengaruhi syaraf hingga menyebabkan kematian. Namun data tersebut tidak lengkap dikarenakan adanya substansi tak dikenal – hal ini menimbulkan tanda tanya besar baik bagi Eve maupun Roarke, yang penasaran karena programnya yang sangat canggih ternyata tak dapat mengenali formula tersebut.  

[ source ]
Belum tuntas masalah itu diselidiki, Eve mendapat hubungan panggilan histeris dari Mavis … saat Roarke dan Eve meluncur ke kediaman Leonardo – tempat dimana Mavis berada, yang mereka temukan hanyalah kediaman yang porak poranda disertai bercak-bercak darah, Mavis dalam keadaan shock berat dan luka ringan, tangan & pakaian penuh noda darah … dan akhirnya sosok mayat dalam keadaan menyeramkan, sosok yang dikenal sebagai Pandora tewas tergeletak dengan wajah hancur habis dipukuli. 

Maka Eve harus segera melakukan tugasnya, menangani kasus tersebut dengan hati-hati tanpa merusak kredibilitas dirinya sembari berusaha menolong Mavis. Tugas terberat dilakukan dengan segera yaitu melakukan interogasi terhadap Mavis sebagai ‘saksi’ di tempat kejadian perkara serta mengamankan saksi tersebut, terutama dari kalangan media. Dengan Mavis yang mengaku pingsan & tidak dapat mengingat apa pun akibat pukulan keras di kepalanya, kemudian sadar dan menemukan mayat Pandora – sungguh bukan hal yang memudahkan tugas Eve.  

[ source ]
Maka Eve segera bergerak cepat, dengan bantuan Kapten Ryan Feeney – Detektif Deteksi Elektronik, ia segera melacak kebenaran alibi Mavis sebelum peristiwa pembunuhan terjadi. Namun bukti-bukti yang dikumpulkan seakan justru menunjukkan satu-satunya tersangka pembunuh Pandora adalah Mavis – apalagi tepat beberapa jam sebelumnya Mavis telah mendatangai Pandora di kediamannya dan berdasarkan saksi-saksi yang hadir, semua menyatakan bahwa Mavis & Pandora bertengkar & berkelahi dengan sengit sebelum akhirnya dipisahkan dan saling melontarkan ancaman. 

Kemunculan Leonardo beberapa saat kemudian dalam keadaan panik dan mengaku ‘black-out’ akibat minuman keras & saat sadar menemukan dirinya bersimbah darah di kediaman Mavis, sedikit memberi harapan bagi Eve akan kemungkinan bahwa Mavis benar-benar tidak bersalah. Namun sambil menunggu bukti resmi dari laboratorium, maka jalan satu-satunya hanyalah menelusuri jejak serta langkah Mavis maupun Pandora sebelum pembunuhan terjadi. 

[ source ]
Di tengah ‘kekacauan’ yang melanda kehidupannya, Eve diganggu dengan kemunculan Letnan Jake T. Casto dari Divisi Narkotika. Pria tampan yang flamboyan tersebut selain pada awalnya mencoba merayu dirinya ( yang akan menikah dalam waktu dekat … sesuatu yang membuat diri Eve semakin terasa sesak ). Terutama saat muncul bukti bahwa dalam tubuh Pandora ditemukan substansi dengan formula sama dengan yang ditemukan pada kasus Boomer, menunjukkan bahwa kedua kasus pembunuhan memiliki hubungan selain kondisi korban yang sama-sama dipukuli wajahnya hingga hancur. 

Casto mulai membuat Eve jengkel dengan menerobos jalur pimpinan guna meminta kendali penyelidikan pembunuhan Boomer sekaligus Pandora dengan dalih bahwa korban merupakan informan yang bekerjasama dengan Casto dalam divisi narkotika & kasus tersebut berhubungan dengan obat sejenis narkotika. Perebutan kasus ditengarai oleh Chief Tibble agar Eve dan Casto bekerjasama dalam penyelidikan – dan Eve tetap memegang kendali sebagai Kepala Penyelidik dengan dukungan penuh dari Komandan Whitney. 

[ source ]
Semakin keras usaha Eve guna mencari bukti dari para tersangka serta saksi lain, semakin membawa dirinya dalam suatu labirin yang menyesatkan. Begitu banyak bukti namun belum ditemukan penghubung yang tepat guna memperjelas gambaran sebenarnya dari kasus tersebut. Apalagi dengan tekanan semakin dekat waktu pernikahan dirinya, membuat mimpi-mimpi buruk yang telah lama menghilang sejak perjumpaannya dengan Roarke, kembali mewarnai tidurnya. 

Dan pada akhirnya semua bayangan kabur menjadi jelas pada suatu malam – disertai jeritan menyayat hingga membangkitkan rasa penasaran serta kasihan pada diri Summerset hingga menggerakkan dirinya menemukan Eve bergelung di tempat tidur dengan tubuh kaku & dingin … Eve bangun dengan menyadari siapa sebenarnya dirinya dan apa yang telah menghantui hidupnya selama ini – bahwa ia adalah seorang pembunuh yang telah menghabisi nyawa ayah kandungnya. 

Kesan :
[ source ]
Mabuk Immortality … yeaah \(^o^)> What can I say … it’s really intens stories but yet also refreshing. Membuat emosi pembaca naik-turun-naik-turun tiada henti bak roller-coster, sehingga tanpa terasa halaman demi halaman berlalu dengan cepat dan akhirnya halaman terakhir terbuka – jadi tidak sabar membuka buku berikutnya. 

Jika benar ada zat yang dapat menyebabkan kecanduan, eforia dan mempengaruhi peredaran darah serta syaraf semacam Immortal Bloosom, maka buku ini pun dapat dikatakan semacam candu yang membuat pembaca akan senantiasa ketagihan akan kisah-kisah petualangan Eve Dallas. 

Best Regards, 
* Hobby Buku * 

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...