About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Sunday, January 27, 2013

Books "IRINE SHILLING"



Judul Asli : IRINE SHILLING
Copyright © by Ginger Elyse Shelley
Penerbit Diva Press
Editor : Elis Widayanti
Desain Sampul : Ferdika ( sumber : www.katanaz-stock.deviantart.com )
Cetakan I : Oktober 2012 ; 268 hlm
Rate : 3

Saat pertama kali melihat buku ini serta sinopsisnya tentang detektif wanita di London, meski nama penulisnya tak begitu kukenal (dugaanku ia merupakan penulis dari Eropa, sebagaimana penulis Stieg Larsson yang tak terduga menghasilkan trilogi Blomvist dan Lasander yang terkenal). Namun setelah memulai membaca kisah pertama, sebuah kecurigaan mulai muncul. Ditulis dengan gaya cerita pendek seperti koleksi kasus Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle, ide serta tema yang disajikan sangat menarik untuk disimak. Akan tetapi berbagai kejanggalan yang cukup mengganggu kenyamanan diriku dalam menikmati bacaan ini.

Terutama dalam padanan kata serta kalimat percakapan yang campur-aduk dengan istilah asing (bahasa Inggris untuk istilah medis serta forensik) dengan gaya bahasa gaul yang biasa terdapat dalam novel ABG karya asli (bukan terjemahan). Ada dua kemungkinan, bahwa jika ini benar hasil terjemahan, maka sungguh sangat disayangkan hasilnya tidak memadai, atau ini adalah karya asli yang ditulis dengan nama pena (nama samaran yang seolah-olah merupakan penulis asing). Melihat bahwa data alih bahasa tidak tercantum di dalamnya, maka dugaanku adalah pilihan no. 2, ini adalah karya asli.

Sebagaimana telah kusebutkan bahwa ide serta tema kisah ini cukup unik dan menarik, tidak diimbangi dalam ‘kematangan’ mengolah data serta detail yang lebih dalam, baik dalam fakta maupun pembentukan karakter para tokohnya. Apalagi tema yang dipilih justru tokoh detektif yang ‘seharusnya’ ahli dalam bidang forensik, hukum, serta pemahaman manusia dari aspek psikologis. Maka yang kudapati adalah berbagai petunjuk yang simpang siur, tanpa adanya penjelasan yang memuaskan. Seakan-akan penulis bingung memilih mana poin-poin yang hendak disampaikan, dan alih-alih memilih salah satu untuk dikupas lebih dalam, pilihannya justru berusaha menampilkan ‘semua hal’ dalam satu bidang. Tiada keteraturan atau kesesuaian antara kisah satu dengan lain yang mampu menunjang kisah ini.

Secara garis besar, kisah ini menggambarkan wanita misterius bernama Irine Shilling yang dikenal sebagai detektif wanita handal yang mampu memecahkan berbagai kasus yang tak dapat dipecahkan oleh pihak kepolisian. Karakter Irine Shilling ini cukup unik karena ia tak memiliki ijin resmi sebagai detektif, justru berprofesi sebagai ‘wanita penghibur’ dengan nama panggilan Mary Kettle. Karakter Irine menjadi pembicaraan di kota London, dan menarik minat pria bernama Raphael Kingston – seorang dokter di bidang hepatolog, berusia 32 tahun, cukup menarik dan putra tunggal keluarga kaya di London, Inggris. Pertemuan mereka berdua dimulai pada kasus pertama, saat Mr. Christopher Stain  - pengusaha kaya raya sekaligus calon mertua Raphael, tewas secara aneh di kediamannya, tersengat lebah di dalam ruang tamu ketika sedang berjumpa dengan keluarga Kingston.

Dalam sekejab mata, Irine yang berada di tempat tersebut, menyamar sebagai salah satu pelayan, memberitahukan bahwa hal tersebut bukan kecelakaan biasa, melainkan pembunuhan terencana. Raphael yang juga tertarik dalam mendalami bidang penyelidikan, menemukan bukan saja Irine Shilling sangat piawai dalam mengungkap pemecahan kasus tersebut, ia juga menarik karena kesan misterius yang ada pada dirinya, meski sering kali justru Raphael ‘tersinggung’ oleh kekasaran serta ketidak-sopanan yang dilakukan oleh seorang wanita (digambarkan bahwa sebagai wanita terhormat maka ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam pergaulan sosial).

Kemudian pertemuan demi pertemuan, yang tidak disengaja maupun disengaja, keduanya terlibat dalam penyelidikan atas pembunuhan seorang pria tua bernama Mr. Robert Lee di sebuah restoran Cina, yang mendadak tersedak kemudian tewas ketika sedang menyantap hidangan mie. Disusul dengan kematian aneh rekanan Irine Shilling sebagai Mary Kettle, seorang wanita penghibur bernama Nina Gardener, yang tampaknya dirampok dan ‘tercekik’ sesuatu hingga tewas. Dan kematian tragis Kelsey Torchinovich – gadis cantik, menawan, sahabat Raphael, saat mereka menghadiri jamuan khusus para dokter muda. Gadis ini tewas akibat serangan asma akut yang merupakan kasus alergi yang belum dapat dipulihkan secara total, hanya pencegahan secara rutin. Namun Irine dan Raphael menemukan bahwa ia tewas karena diracun.

Dan menjelang akhir, sebuah kisah yang akan menguak siapa sebenarnya Irine Shilling atau Mary Kettle dan bagaimana latar belakang kehidupan masa lalunya yang tersimpan rapat-rapat, tanpa satu pun kenalannya mengetahui lebih lanjut. Hanya satu orang yang tertarik untuk menggali lebih dalam, ia adalah Raphael Kingston yang telah tertarik sangat dalam pada sosok wanita ini. Dan kini ia harus berusaha keras menggali masa silam yang sengaja disembunyikan olah wanita itu, karena ia lenyap tanpa jejak selama beberapa hari, sebuah kemungkinan terburuk membayang di benak Raphael ...

Nah, kisah ini benar-benar akan menjadi sebuah yang lebih bagus seandainya saja penulis mampu menyajikan setiap kasus dengan realita sebenarnya dan bukannya membuat sosok Irine Shilling begitu dramatis, mampu memecahkan kasus hanya dengan ‘melihat-lihat’ sebentar tempat kejadian perkara. Meski kemudian terbukti ia adalah wanita jenius yang lulus dalam usia sangat muda, namun tidak dapat dibenarkan analisis data yang lumayan mentah, disajikan sebagai bukti untuk menangkap tersangka. Jika ada sosok Sherlock Holmes di bagian ini, mungkin justru karakter Watson yang emosional dan jarang menggunakan logika serta nalar, yang justru sering tampil dalam karakter tokoh utama.

Sosok Raphael sendiri tak terlalu menarik justru sedikit aneh, bayangkan, sosok pria di usia 30 tahun lebih, masih tinggal dengan kedua orang tuanya meski sudah memiliki praktek sendiri. Serta nama panggilan “Fae” (singkatan dari Raphael) sungguh sangat kekanak-kanakan (dan pada beberapa percakapan, karakter si Fae terkadang bertindak ala ‘gentleman’ namun acap kali digambarkan bagai anak ABG yang sedang merajuk). Jika nuansa serta latar belakang London Kuno, mewarnai proses penyelidikan kasus-kasus ini, anehnya muncul nama Simon Cowell (sosok yang terkenal sebagai juri British Got Talent hingga American Idol) atau adanya penduduk London, Inggris yang sangat menggemari America’s Next Top Model (sebuah reality-show yang di-host oleh Tyra Banks), well, hello ... in British there’s British’s Next Top Model a very hugh and successfull reality-show, not America’s Next Top Model (-__-) 

Jangan salah sangka bahwa diriku menjadikan ini sebagai sasaran cemoohan, justru karena diriku mendapati bahwa ini adalah sebuah proyek penulisan yang ‘seharusnya’ bisa jauh lebih bagus, maka diriku menjadi jauh lebih cerewet dalam mengupas pembahasan kisah ini. Jika sedari awal kisah ini merupakan kisah ‘jelek dan tidak layak baca’ maka tak akan pernah kusinggung hingga sepanjang ini dalam sebuah review, hanya sebuah bintang satu atau dua kusematkan dalam rating. Seandainya sang penulis yang tak diketahui nama aslinya ini, akan menulis kisah serupa seperti ini di kemudian hari, semoga bisa melakukan riset serta penelitian lebih dalam, apalagi jika sudah ‘berani’ menggunakan dasar serta tema penyelidikan atas dasar pengetahuan hukum serta forensik.

Karena jika hanya ditampilkan ala kadarnya, bak sebuah tempelan belaka, maka tiada bedanya dengan sebuah cerita pendek yang benar-benar sangat pendek hingga tak mampu memberikan kepuasan tersendiri bagi pembacanya. Sebagai riset, Sir Arthur Conan Doyle mampu menyajikan ‘short-stories’ yang menarik tanpa terlalu banyak ‘bumbu’ di dalamnya. Atau jika serius menulis sebuah novel tentang analisa serta peran psikologis (yeah, ada topik soal traumatic illness dan alter ego juga disinggung di sini), coba riset melalui karya Agatha Christie yang cukup dalam membahas tema-tema seperti ini. Semoga kelak jauh lebih baik, karena kulihat ide awal sudah sangat bagus, hanya berhati-hatilah dalam mengolah sebuah kisah. Para penulis ternama juga banyak yang mengalami kesulitan serta dilema dalam menuangkan berbagai ide yang terlalu banyak di dalam benak guna menjadi sebuah kisah yang layak disajikan bagi para pembaca serta pencinta misteri tentunya. For the stories I’ll give 2 star, but just for the idea behind it, I’ll give 3 star, really good indeed.

[ more about the author and related works, just check at here : Official Tumblr of GES ]  

Best Regards,
* Hobby Buku *

5 comments:

  1. ini novel diva press yg keren menurut saya, ceritanya ttg detektif2 gitu kan? tp gak terlalu dewasa bgt, irin shilling juga cerdas

    ReplyDelete
  2. Di toko buku masih ada gak ya? Saya nyari di toko buku online tapi nggak ketemu :(

    ReplyDelete
  3. memang cukup membingungkan novel ini terjemahan atau asli indonesia dengan nama pena GES. soalnya novel ini pun susah dicari versi asli inggrisnya, dan banyak terjemahannya yang terlalu nampak cabe2an sekali :D

    ReplyDelete
  4. ini novel asli indonesia, kok. bukan terjemahan. mungkin penulisnya aja yang mau dimirip2in kayak novel yang diterjemahin. nama asli penulisnya: Ziggy Zezsyazeoviennazabriskie, asal Lampung.

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...