About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Monday, June 10, 2013

Books "A STUDY IN SCARLET"

Books “Penelusuran Benang Merah
Judul Asli : SHERLOCK HOLMES – A STUDY IN SCARLET
Copyright © by Sir Arthur Conan Doyle [ 1st published at 1887 ]
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : B. Sendra Tanuwidjaja
Cetakan ke-02 : Agustus 2002 ; 216 hlm
Desain Cover by Dwi Koentoro Br.  
Rate : 5 of 5
[ Re-blogged from HobbyBuku's Classic ]

~ ( Part I : Middle ) ~
Dokter John H. Watson yang mendapat gelar medis pada tahun 1878 dari Universitas London, saat ini menjadi seorang pensiunan medis Angkatan Darat, yang mengalami cedera serta trauma selepas tugasnya di Afghanistan, kembali ke London, Inggris dalam rangka pemulihan fisik dan pikiran. Menjalani kehidupan dengan keuangan pas-pasan, ia mendapati bahwa masa istirahat yang akan dilaluinya harus dengan perhitungan keuangan yang matang. Maka saat ia berusaha mencari tempat tinggal yang lebih murah, sungguh menakjubkan ada sebuah tawaran berbagi apartemen di Baker Street No. 221 B dengan seorang pria unik bernama Sherlock Holmes.

Dr. Watson semula tidak berkeberatan dengan kelakuan aneh Sherlock Holmes. Namun karena ia lebih banyak waktu luang dalam masa istirahatnya, ia mulai mengamati sosok teman sekamarnya ini. Seherlock bukan dari kalangan medis dan jelas tidak pernah mengecap pendidikan medis, tapi ia sangat tertarik dengan berbagai penelitian serta percobaan yang berhubungan dengan manusia. Ia suka berbicara, tapi ada saat-saat di mana ia hanya termenung beberapa hari dengan pandangan mata ‘kosong’ bagai pecandu narkotik, tapi Watson tahu bahwa dibalik penampilan seperti itu otaknya bekerja di dunia lain.



Kemampuannya ‘menebak’ sesuatu yang berhubungan dengan seseorang, bahkan sosok yang sama sekali asing, sering kali mengejutkan sekaligus mengherankan. Ia juga ahli bermain musik terutama dengan biola kesayangannya, meski sering pula biola tersebut mengeluarkan ‘nada-nada’ sendu yang menyayat dan mengganggu ketenangan. Segala keahlian dan kepandaian Sherlock, anehnya hanya pada bidang-bidang tertentu yang berhubungan dengan misteri, kejahatan dan manusia. Di luar materi itu, ia sama sekali tidak memiliki ketertarikan untuk sekedar tahu apalagi mempelajarinya.

Dan pada suatu hari yang tampak tenang, Sherlock Holmes mendapat surat undangan ‘istimewa’ dari Tobias Gregson – salah satu detektif cerdas dari Scotland Yard. Profesi Sherlock yang kemudian diketahui oleh Watson, sebagai seorang konsultan detektif, membuatnya mendapat panggilan untuk membantu memecahkan peristiwa aneh di Lauriston Gardens No. 3 di wilayah Brixton Road, sebuah rumah kosong dan di dalamnya ditemukan sosok mayat seorang pria yang diketahui dari tanda pengenal di tubuhnya, bernama Enoch J. Drebber, dari Cleveland, Ohio, U.S.A. Tak seorang pun mengenalnya, tak ada tanda-tanda perampokan, dan bagaimana cara pria itu tewas masih dipertanyakan, karena meskipun ditemukan bercak darah, anehnya pada sekujur tubuh korban tak ditemukan luka sekecil apa pun. 

Watson berangkat menemani Sherlock, rasa ingin tahunya meluap sekaligus ingin melihat bagaimana Sherlock akan menangani kasus itu. Bersama dengan detektif Gregson dan detektif Lestrade dari Skotland Yard, mereka berusaha memecahkan misteri, dengan petunjuk-petunjuk janggal, seperti coretan tulisan di tembok yang jelas ditulis dengan darah, bertuliskan ‘Rache’  serta sebuah cincin kawin seorang wanita, wajah korban yang penuh ketakutan mewarnai raut yang kaku, menjadi suatu awalan menarik bagi penyelidikan mereka. 

~ ( Part II : The Beginning ) ~
Kawasan benua Amerika Utara sebelum peradaban modern terdiri dari wilayah luas berupa padang pasir yang kering dan tandus. Banyak sekali para pengungsi yang berusaha mencari penghidupan yang lebih baik, tak mampu menyelesaikan perjalanan melewati wilayah tersebut. Dan mereka yang nekad melaluinya, menjadi korban kesekian keganasan alam yang masih sangat liar. Dan pada tanggal 4 Mei 1847 di lereng utara Sierra Blanco – kawasan paling ganas akan iklimnya yang eksterm, tampak sosok pengelana dengan tubuh tinggal tulang belulang, membawa senapan api dan sebuah buntelan yang berisi gadis mungil dan cantik berusia sekitar lima tahun. Mereka berdua adalah yang tersisa dari rombongan berjumlah 21 orang, yang semuanya telah tewas tak mampu bertahan.

Keduanya juga akan mengalami nasib yang sama, seandainya saja tidak secara kebetulan lewat rombongan besar di dekat tempat keduanya terkapar lemas. Rombongan yang berjumlah sekitar 10.000 orang adalah keluarga besar yang menyebut dirinya Anak-Anak Malaikat Moroni, yang lebih dikenal sebagai sekte agama Mormon. Maka sang pengelana yang bernama John Ferrier serta gadis cilik yang diangkat anak olehnya, diberi nama Lucy Ferrier, diselamatkan dan diterima dalam keluarga besar Mormon – kehidupan baru menanti mereka, dan masa depan yang semula tampak indah, nantinya akan mengalami malapetaka yang berbuntut pada kematian serta pembunuhan dan pembalasan dendam menjelajahi penjuru dunia, dan mengalami konflik serta klimaks di London, Inggris, bersama Sherlock Holmes dan Dr. Watson ...

Kesan :
Ini adalah novel pertama yang mengawali kisah petualangan tokoh detektif legendaris Sherlock Holmes – karakter yang diciptakan oleh Sir Arthur Conan Doyle. Dimulai dengan perkenalan Sherlock holmes dengan Dr. John Watson yang kelak menjadi pasangan-partner-rekan-sahabat dalam menjalani berbagai petualangan yang menegangkan sekaligus nyaris merenggut nyawa mereka berdua berkali-kali.

Mungkin bagi Anda yang baru membaca kisah misteri ala detektif ini, tidak ada hal yang cukup menarik dibandingkan berbagai macam kisah-kisah misteri yang bertebaran pada jaman ini. Namun mengapa kisah ini menjadi suatu bacaan klasik dengan ikon yang mendunia, tidak lain karena ‘tangan dingin’ sang creator – Sir Arthur Conan Doyle, yang menciptakan sosok unik sekaligus eksentrik namun memiliki kemampuan analisa serta diagnosa dan pengetahuan yang melampaui jamannya. Perlu diingat bahwa kisah ini ditulis pada tahun 1886, di mana ilmu pengetahuan semacam forensik – hukum belum dikenal dan diketahui secara luas. Dan penyelidikan dengan gaya serta metode analisis juga belum diterapkan, apalagi penelitian tentang manusia guna mengetahui seperti apakah ‘otak kriminal’ yang sering kali jauh lebih cerdik daripada oknum hukum.

Jika dikatakan bahwa seorang penulis harus memiliki suatu visi, maka Sir Arthur Conan Doyle sungguh dapat dikatakan “jenius” karena apa yang beliau tuliskan menjadi sebuah kenyataan beberapa puluh tahun kemudian. Bahkan bisa jadi apa yang beliau tulis ini bukan sekedar fiksi belaka, melainkan sebuah dasar yang mampu menginspirasi banyak orang. Bisa jadi para ilmuwan mengembangkan suatu riset dari sebuah ‘ide’ yang semula tidak pernah dianggap akan terwujud pada jamannya, dan lihatlah saat ini, penelitian akan ‘siapakah manusia’ ini sebenarnya menginspirasi berbagai kisah, novel, penelitian, bidang kedokteran, forensik, dan semakin meluas, jauh melampaui ide dasar yang telah diletakkan oleh Sir Arthur Conan Doyle.

Mungkin diriku bisa dikatakan menjadikan sosok Sherlock Holmes sebagai idola, bukan karena kehebatannya, namun karena penggambaran akan dirinya yang sangat manusiawi, dalam arti ia memiliki berbagai kelebihan namun juga banyak kelemahan yang tak segan diakuinya. Dan yang paling penting lewat sosok ini ditekankan bahwa siapa saja mampu menjadi sosok yang hebat dalam bidangnya, asalkan fokus pada apa yang mejadi tujuannya. Jangan meributkan hal-hal yang tidak terlalu penting, hidup ini sangat indah untuk dilewatkan pada hal-hal yang notabene bukan merupakan prioritas dalam hidup !!
“Otak manusia pada awalnya sama seperti loteng kecil yang kosong, dan kau harus mengisinya dengan perabot yang sesuai dengan pilihanmu. Orang bodoh mengambil semua informasi yang ditemuinya, sehingga pengetahuan yang mungkin berguna baginya terjepit di tengah-tengah atau tercampur dengan hal-hal lain. Orang bijak sebaliknya. Dengan hati-hati ia memilih apa yang dimasukannya ke dalam loteng-otaknya. Ia tidak akan memasukan apa pun kecuali peralatan yang akan membantunya dalam melakukan pekerjaannya, sebab semua peralatan ini saja sudah sangat banyak. Semuanya itu diatur rapi dalam loteng-otaknya, sehingga ketika diperlukan, ia dapat dengan mudah  menemukannya. Keliru kalau kau pikir loteng-otak kita memiliki dinding-dinding yang bisa membesar. Untuk setiap pengetahuan yang kau masukkan, ada sesuatu yang sudah kau ketahui yang terpaksa kau lupakan. Oleh karena itu penting sekali untuk tidak membiarkan fakta yang tidak berguna menyingkirkan fakta yang berguna.” ( ~Sherlock Holmes to Dr. Watson from A Study in Scarlet | p. 25 )
Dan melalui kisah A Study In Scarlet ada satu ilmu yang di kemudian hari menjadi bidang ilmu tersendiri, bagaimana mempelajari manusia dengan menelusuri kembali bukan hanya sejarah masa lampau tapi juga langkah-langkah yang diambilnya dalam beberapa hari, beberapa minggu, bahkan beberapa bulan sebelumnya. Sebuah ilmu tentang analisa dan diagnosa yang kemudian lebih terkenal setelah novel pertama Dame Agatha Christie terbit sekitar tahun 1920, penulis asal Inggris yang kemudian dikenal sebagai Queen of Mystery, hampir 30 tahun setelah Sherlock Homes muncul di depan khalayak umum. Bahkan ilmu untuk mempelajari otak serta cara berpikir para kriminal yang dilakukan oleh Sherlock Holmes ini  menjadi suatu bidang tersendiri di organisasi hukum seperti FBI maupun CIA. Lewat kisah serial TV semacam Profiler, CSI (Crime Scene Investigation), atau Criminal Minds yang booming saat tampil perdana dan terus berlanjut hingga saat ini, kita bisa melihat seperti apa dunia yang dibayangkan oleh Sir Arthur Conan Doyle, seandainya ia masih berada di dunia saat ini.
“Sebagian besar orang, jika mendengar rangkaian peristiwa, pasti bisa mengatakan hasil akhirnya. Mereka menyatukan rangkaian kejadian itu dalam benak mereka, dan mengambil kesimpulan logis tentang akibat yang mungkin timbul. Tapi jika situasinya terbalik, jika kita memberitahukan mereka hasil akhirnya dan meminta mereka merunut kejadian-kejadian sebelumnya, hanya sedikit orang mampu melakukannya. Itu yang kumaksud dengan berpikir mundur atau berpikir analitis.” ( ~ Sherlock Holmes to Dr. Watson from A Study in Scarlet | p. 204 )
Saat ini berbagai karya tulis, novel, komik manga, serial TV, film layar lebar dibuat berdasarkan adaptasi novel karya Sir Arthur Conan Doyle maupun karakter Sherlock Holmes sendiri. Membuktikan bahwa karya klasik ini benar-benar menempati hati khusus di kalangan penggemar misteri dari berbagai kalangan. A Study in Scarlet benar-benar menempati tempat khusus di hatiku bukan hanya sebagai penggemar, namun juga menunjukkan sebuah harapan, bahwa sesuatu yang tampak mustahil – mampu terjadi hanya bermodalkan kegigihan, mencari peluang serta kesempatan dan tentunya bersedia meluangkan waktu untuk menggunakan otak, berpikir diluar kotak ( “out of the box” ), dan di sanalah jawaban berbagai teka-teki tersedia !!!

Tentang Penulis :
Sir Arthur Ignatius Conan Doyle, lahir pada tanggal 22 Mei 1859 dan wafat karena sakit pada usia 71 tahun tanggal 7 Juli 1930. Beliau adalah penulis fiksi terkenal dari Inggris, terutama berkat tokoh ciptaannya Sherlock Holmes – detektif eksentrik dengan metode penyelidikan yang melampaui jamannya.

Doyle mendapat gelar dokter dari Universitas Edinburgh, dan membuka praktek di Southsea, Inggris pada tahun 1882. Ia banyak menulis cerita, meski beberapa tidak pernah dipublikasikan. Banyak yang menduga karakter Sherlock lebih menyerupai dirinya, namun sebenarnya Doyle menciptakan tokoh Sherlock Holmes pada tahun 1886, ini diilhami oleh sosok Dr. Joseph Bell – salah satu dosen dan mentornya, seorang ahli bedah ternama dan ahli forensik pada masanya. Nama Holmes diambil dari sosok Oliver Wendell Holmes yang sangat dikagumi oleh ConanDoyle, dan atlet kriket Inggris terkenal bernama Sherlock.

Kisah pertama yang menampilkan karakter terkenal ini berjudul A Study in Scarlet ( = diterbitkan versi terjemahan Indonesia dengan judul Penelusuran Benang Merah ), diterima oleh publik dengan sangat baik. Tapi kepopuleran nama Sherlock Holmes benar-benar dimulai pada tahun 1891, ketika beliau memutuskan menulis serial petualangan detektif handal Sherlock Holmes bersama dengan sahabatnya : Dr. Watson, dalam bentuk kompilasi cerita pendek.

Sherlock Holmes disebut sebagai detektif konsultan yang mengandalkan pada kemampuan deduksi dan analisa dalam memecahkan berbagai kasus rumit yang dihadapi pihak berwajib. Bersama pendamping sekaligus sahabat yang berperan sebagai penulis kisah berbagai kasus yang ditangani oleh Sherlock, seorang pensiunan dokter, Dr. John Watson, mereka tinggal bersama dan berbagai kamar di wisma yang dikenal terletak di Baker Street No. 221 B semenjak tahun 1881 dengan seorang induk semang, wanita Skotlandia bernama Mrs. Hudson, hingga Watson menikah dengan Mary Morstan pada tahun 1890.

Ketenaran nama Sherlock Holmes menjadikannya sebuah karya klasik yang tetap digemari dan dicari hingga kini. Terbukti dengan berbagai cetak ulang yang tetap berlangsung hingga kini, bahkan karakternya dikembangkan menjadi bukan saja berupa cerita pendek atau novel, tetapi juga berupa versi komik manga, film layar lebar, serial televisi, bahkan versi vidieo games dan games online.

Jika ingin mengetahui lebih lengkap tentang Sir Arthur Conan Doyle serta Sherlock Holmes, silahkan kunjungi situs resminya : www.sherlockholmesonline.org atau untuk karya-karya tulis selengkapnya cek di : www.classic-literature.co.uk/scottish-authors/arthur-conan-doyle/

Best Regards,

* Hobby Buku * 

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...