About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Saturday, June 28, 2014

Books "THE NEGOTIATOR"

Books “THE NEGOTIATOR”
Judul Asli : THE NEGOTIATOR
Copyright © Frederick Forsyth, 1989
Penerbit Serambi
Alih Bahasa : Kristina Sundari
Editor : M. Sidik Nugraha
Proofreader & Lay-out : Nadia Luwis & Eri Ambardi
Desain Sampul : Eri[X]
Cetakan I : Januari 2014 ; 684 hlm ; ISBN 978-979-024-414-6
Rate : 5 of 5

Bisakah Anda menghubungkan antara cadangan minyak dunia-perjanjian perdamaian-kelompok industrialis Amerika Serikat- kaum fanatik-penculikan tokoh penting dunia ? Kali ini Frederick Forsyth benar-benar berhasil membuatku ‘terpaku’ semenjak halaman pertama hingga akhir, dengan memberikan sajian konspirasi tingkat tinggi, kemelut yang tiada henti, konflik yang bermunculan di sana-sini tanpa jeda, membuat diriku ikut ‘berlari-lari’ dari satu negara ke negara lain, mengikuti permainan politik tingkat tinggi yang tersusun bagai permainan catur orang-orang jenius.



Kasus yang mengangkat kondisi Rusia (Uni Soviet) di penghujung tahun 1989, dimana sebuah laporan rahasia tentang kenyataan bahwa sumber minyak Uni Soviet akan mengering dalam jangka waktu 7-8 tahun ke depan. Hal ini memiliki dampak yang cukup besar, terutama bagi divisi militer yang menggantungkan sumber dana untuk memperbesar ‘kekuatan’ mereka sebagai negara adi daya di posisi puncak dunia. Jika sumber minyak dunia menurun sepanjang 20-30 tahun mendatang, dan Uni Soviet terpuruk jauh sebelum persediaan bangsa Arab maupun Amerika juga menipis, maka bisa dipastikan militer sebagai ujung tombak negara tersebut akan hancur.

Sayangnya pemikiran pihak militer acapkali bertentangan dengan pemimpin negara, dan dalam hal ini Presiden Amerika Serikat John Cormack dan Presiden Uni Soviet Mikhail Gorbachev justru merencanakan perjanjian perdamaian yang akan menghentikan perlombaan perang nuklir yang selama ini terjadi antara kedua belah pihak. Dengan menandatangi perjanjian ini, dana besar untuk strategi dan persenjataan  militer bisa dialihkan kepada peningkatan kesejahteraan rakyat di sumber daya yang berbeda. Jika sorotan publik memuji dan rakyat menyambut gembira kabar ini, maka justru di dalam badan pemerintahan terjadi pergolakan hingga perpecahan yang cukup hebat.

Demi mencegah terjadinya ‘malapetaka’ akibat terlaksananya perjanjian perdamaian tersebut, sekelompok pihak-pihak tertentu mengadakan pertemuan khusus guna membahas masa depan mereka masing-masing. Tujuan utama adalah membuat pelaksanaan perjanjian perdamaian itu terganggu hingga terhentikan. Dari sekian banyak rencana yang dilaksanakan dengan cermat, memanfaatkan pihak-pihak tertentu sehingga masyarakat hanya mengetahui bahwa ‘peristiwa-peristiwa’ yang akan terjadi didalangi oleh aksi terorisme, dimulailah perlombaan antara persiapan dan penyelesaian perjanjian perdamaian dengan aksi-aksi yang ditujukan untuk menggagalkan hal tersebut.

Dari karya-karya Frederick Forsyth yang pernah kubaca, belum pernah kujumpai aksi penuh detil yang sangat menegangkan sekaligus mengundang rasa penasaran. Seperti menduga-duga ke arah mana pergerakan aksi ‘terorisme’ yang sedang dijalankan. Dan yang terpenting siapakah tokoh-tokoh penggerak dibelakang layar ? Melibatkan agen rahasia Inggris hingga semua agen di Amerika Serikat, merambah ke dunia Eropa menyusup ke organisasi kepolisian rahasia Uni Soviet. Dan yang tak kalah unik, seorang negosiator handal yang telah lama ‘menghilang’ – dipanggil kembali dari persembunyiannya untuk menyelamatkan putra tunggal Presiden Amerika Serikat dari tangan teroris. Tapi benarkah ini sekedar aksi teroris belaka ?

Keunikan kisah kali ini, pembaca digiring pada situasi yang tidak mudah ditebak, karena setiap karakter yang berperan tidak akan diketahui apakah ia merupakan protagonis atau antagonis. Dengan menyoroti sosok Quinn – sang negosiator yang berani mengambil langkah-langkah yang tidak biasa demi tercapainya misi yang diemban, permainan untuk menentukan siapa sebenarnya kawan dan siapa gerangan lawan, hingga usaha menyingkap musuh dalam selimut yang berada di dalam badan pemerintahan serta organisasi agen-agen CIA, FBI, MI11, Scotland Yard hingga GRU Uni Soviet. Kejutan demi kejutan muncul saat dimana situasi seharusnya terkendali, really shocking moment goes one-by-one ... maka bisa kukatakan bintang 5 tidak cukup untuk menggambarkan karya spektakuler ini. Just LOVE IT !!!!

Tentang Penulis : 
Frederick Forsyth, lahir pada tanggal 25 Agustus 1938, seorang penulis asal Inggris sekaligus pengamat politik. Lahir di Ashford, Kent, ia mengambil pendidikan di Tornbridge School, yang dilanjutkan ke Universitas Granada di Spanyol. Sempat menjalani Wajib Militer sepanjang tahun 1956 – 1958 dan menjadikan dirinya pilot termuda di Angkatan Udara pada usia 19 tahun. Setelah lulus,  ia melamar sebagai seorang jurnalis di kantor berita Reuter pada tahun 1961, dan beralih ke BBC pada tahun 1965 di mana ia juga bertugas sebagai asisten koresponden diplomatik. Selama bulan Juli – September 1967 ia meliput Perang Sipil Nigeria sebagai koresponden khusus antara Biafra dan Nigeria. Dan setelah meninggalkan BBC pada tahun 1968, ia kembali ke wilayah Biafra sebagai reporter lepas dan menghasilkan karya tulis pertamanya pada tahun 1969 dengan judul ‘The Biafra Story.’

Keberhasilannya pada buku pertama, mendorong jiwa menulisnya untuk menghasilkan novel dengan menggunakan kemampuan dan pengamatan jurnalisnya. Maka lahirlah novel pertama “The Day of The Jackal” pada tahun  1971, yang kemudian menjadi Internasional Bestseller dan memenangkan ‘Edgar Allan Poe Award’ untuk kategori Best Novel. Kesuksesan fiksi yang berdasarkan kenyataan, akan adanya organisasi OAS OAS (Organization L’Armée Secréte) – sebuah kelompok teroris yang mengancam kelangsungan hidup Presiden Prancis Charles de Gaulle, membuat kisah ini diangkat ke layar lebar dengan judul sama pada tahun 1973, disutradarai oleh Fred Zinnemann, dibintangi oleh Edward Fox, Terence Alexander dan Michael Auclair. Pada tahun 1997, rilis sebuah film dengan judul “The Jackal” yang disutradarai Michael Caton-Jones, dibintangi oleh Richard Gere dan Bruce Wilis. Judul yang beredar telah dirubah setelah terjadi negosiasi antara Frederick Forsyth, Fred Zinneman dan pihak pembuat film ini, agar tidak terjadi kerancuan dengan novel maupun film adaptasi sebelumnya, karena kisah dalam film ini sangat berbeda dengan novel “The Day of The Jackal”.

Menyusul keberhasilan novel pertama, karya berikutnya “The Odessa File”  pada tahun 1972, yang berkisah tentang perjalanan seorang reporter untuk melacak keberadaan seorang mantan anggota Nazi,  seorang perwira SS – organisasi rahasia yang merupakan pasukan setia Hitler. Dan  kisah ini juga diangkat ke layar lebar dibintangi John Voight. Setelah itu berturut-turut novel ketiga “The Dogs of War” yang rilis tahun 1974, mengikuti jejak dan kesuksesan serupa. Novel ini diilhami dari  pengalaman beliau saat meliput Perang Biafra (antara Biafra dan Nigeria pada tahun 1970). Republik Zangaro sendiri meskipun hanya berupa rekaan, berdasarkan pada negara Equatorial Guinea bekas jajahan Spanyol.

Novel-novelnya selalu berkisah seputar peperangan, intrik internasional, isu politik, spionase dan kriminalitas lintas negara, seperti “The Fourth Protocol” (1984), “The Negotiator” (1989), dan “The Deceiver” (1991). Beliau juga mencoba menulis novel pada genre yang berbeda berjudul “The Phantom of Manhattan” yang merupakan sekuel dari novel klasik “The Phantom of The Opera”  - namun sayangnya novel ini tidak mendapat respons yang bagus, sehingga akhirnya beliau memutuskan kembali pada genre penulisan yang dikenalnya, thriller-suspence. Kini beliau menetap di Hertfortshire, Inggris bersama istrinya.

[ more about the author & related works, just check at here : Frederick Forsyth | on Wikipedia | on Goodreads | on IMDb ]

~ This Post are include in 2014 Reading Challenge ~
114th Book in TBRR Pile

Best Regards,

Hobby Buku

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...