About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Sunday, May 17, 2015

Books "SPORA"


Judul : SPORA
Copyright © 2014 by Alkadri
Penerbit Moka Media
Editor : Dyah Utami
Proofreader : J. Fisca
Layout : Tri Indah Marty
Ilustrasi : Diani Apsari
Desain sampul & ilustrasi sampul : Fahmi Fauzi
Cetakan I : Agustus 2014 ; 238 hlm ; ISBN 978-979-795-910-4
Rate : 3 of 5
                                                                       
Pada zaman dahulu, hiduplah seorang kurcaci.
Ia tinggal di sebuah gua di dalam gunung.
Gunung yang menjulang tinggi melampaui langit.
Tubuhnya kecil, rupanya buruk, dan perangainya pun kasar.
Namun, sang kurcaci memiliki sesuatu.
Sesuatu yang diinginkan oleh segenap manusia di kaki gunung.

Saat membaca paragraf pembuka kisah ini, imajinasiku melayang akan kisah fantasi tentang kurcaci, kesatria dan mungkin saja akan muncul ‘naga’ – sayangnya perkiraanku lumayan meleset jauh, karena latar belakang kisah ini berada di masa kini, tepatnya di kota Bogor, Jawa Barat. Melalui tokoh utama bernama Alif – pelajar kelas dua SMA yang juga berperan sebagai narator kisah ini. Dibuka dengan penemuan mengejutkan saat ia mendapati ada sosok mayat di depan sekolahnya. Kondisi mayat tersebut cukup mengerikan karena bagian tubuh dimana seharusnya terletak bagian ‘kepala’ – telah hancur, seakan-akan isi kepala meledak berkeping-keping. 

~ inside illustration ~ [ source ]
Hasil penyelidikan pihak berwajib membawa kabar baik sekaligus buruk. Kabar baiknya, korban segera dikenali sebagai satpam sekolah. Kabar buruknya, tidak seorang pun mampu menjelaskan kondisi mayat selain ia ditembak dengan semacam ‘shotgun’ yang membuat kepalanya hancur. Dan alasan mengapa hal itu terjadi, masih merupakan tanda tanya besar. Hal ini berbuntut dengan di adakan liburan khusus oleh pihak sekolah demi keamanan dan kenyamanan para siswa dan pengajar. Alif sebagai saksi mata pertama yang berada di TKP (tempat Kejadian Perkara), mendapat perhatian khusus dari pihak sekolah maupun pihak penyelidik.

Dari sini, diriku menduga-duga kisah ini akan menjadi kisah kriminal di mana sang tokoh utama akan berusaha menyelidiki kasus tersebut di dampingi teman setia. Well, nyaris sedikit benar, karena ternyata Alif justru tidak terlalu berminat untuk terlibat lebih jauh, walau jauh di lubuk hati ia sama sekali tidak mempercayai ‘berita’ tentang penyelesaian kasus yang disiarkan kepada masyarakat umum oleh pihak berwajib. Di dampingi sahabatnya Rina, putri seorang kepala Intel, Alif kembali menemukan kejanggalan demi kejanggalan yang terjadi di lokasi sekolahnya. Ketika korban baru mulai berjatuhan satu demi satu, Alif dan Rina harus berjuang menemukan kebenaran di balik misteri tersebut, karena nyawa mereka menjadi incaran untuk menjadi korban berikutnya ...

~ inside illustrations ~ [ source ]
Tuntas membaca kisah ini, entah mengapa yang terbayang di benakku justru rangkaian cuplikan adegan dari film ‘The Faculty’ – yang kebetulan kisahnya ‘mirip’ tentang munculnya ‘makhluk’ di sekolah yang memangsa satu demi satu korban yang berada di lingkungan tersebut. Bahkan kemampuan ‘makhluk’ tersebut untuk memanipulasi benak manusia, menyusup di tengah-tengah sekelompok manusia tanpa seorang pun menyadari hingga terlambat, plus salah satu sumber penyebaran makhluk ini melalui narkoba dan tumbuhan juga menjadi elemen yang nyaris (kembali) serupa. Terlepas dari apakah penulis memang mendapat ide dari film tersebut dan menggunakan sebagai landasan kisah ini, secara keseluruhan novel ini cukup menarik pada hal-hal tertentu ...

Sayangnya ada juga beberapa hal yang membuatku ‘sedikit’ kecewa, lebih karena semenjak awal imajinasiku sudah condong untuk mendapatkan sajian kisah nan absurb dan fantastis, ditambah dengan cara pengembangan alur yang sedemikian rupa berupa penggalan-penggalan kisah yang mengundang rasa penasaran untuk mengetahui jawaban dari keseluruhan teka-teki yang tersebar sepanjang kisah ini. Apa daya pada lembar terakhir, kepuasan untuk medapatkan jawaban tersebut tak dapat kuperoleh \(-__-)/ ... Jika ini dimaksudkan sebagai sebuah novel, mungkin ada baiknya ada penjelasan (dan penyelesaian) yang lebih memuaskan. Karena hasil akhir yang kudapat, ibarat membaca rangkaian cerpen (cerita pendek) yang berusaha disatukan dalam satu wadah, namun tetap meninggalkan lubang-lubang di sana-sini.

~ Ahmad Alkadri ~ [ source ]
Apa sebenarnya yang terjadi di masa lalu yang mempengaruhi Alif sedemikian rupa ? Mengapa pihak yang berkepentingan dengan penyebab munculnya ‘sumber’ malapetaka tidak mampu menanggulangi hal tersebut ? Jika benar pihak Intel terlibat, tentunya tidak membutuhkan waktu yang sangat lama hanya untuk menemukan sumber masalah (terutama semenjak kasus kematian pertama muncul). Dan mengapa latar belakang kisah ini justru mengambil lokasi dan karakter anak SMA, yang nyaris sedikit ‘absurb’ untuk terlibat dalam aksi ala dinas intelejen internasional, rasanya akan lebih tepat jika mengambil latar universitas dan mahasiswa yang (seharusnya) akan jauh lebih matang dan dewasa dalam menyikapi situasi yang terjadi. Terakhir ... mungkin, kisah ini akan jauh-jauh lebih menarik (dan menantang) jika sedikit lebih panjang dengan memperhatikan lubang-lubang pada beberapa ‘detil’ yang sempat kusebutkan (^_^)

P.S. Satu hal yang tak boleh terlupakan dalam penyajian buku, desain sampul dan ilustrasi di dalamnya, yang harus kuakui cukup memikat dan sesuai dengan tujuan sang penulis. Tak jarang kutemui antara ilustrasi dan inti cerita justru ‘bertabrakan’ alias tidak-nyambung sama sekali, dan pada kesempatan kali ini, baik tujuan sang ilustrator maupun penulis, cukup tersampaikan secara gamblang. Jika ada sedikit kritik, untuk ilustrasi dalam seharusnya bisa jauh lebih memikat seandainya saja nuansa (dan warna) gelap menjadi dominasi penuh yang mengurangi segi artistik dan keindahan ilustrasi. Memang jika dibuat berwarna, jatuhnya akan lebih mahal pada harag buku, namun bisa ‘diakali’ dengan tetap menggunakan nuansa hitam-putih, tidak harus ‘melulu’ menjadi sekedar goresan bayangan gelap sepanjang kisahnya. Contohnya pada desain sampul yang lebih menarik dengan permainan gradasi dan ‘titik-titik’ alih-alih full-black-shadow.

[ more about the author & related works, just check at here : Ahmad  Alkadri | on Goodreads | at Facebook | at Twitter ]                                                              
Best Regards,

@HobbyBuku

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...