About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Friday, March 9, 2012

Books "THE ETERNITY"


Books “THE ETERNITY”
Judul Asli : THE CABINET OF CURIOSITIES 
( book 3 of PENDERGAST Series ) 
A Novel by Douglas Preston & Lincoln Child
Copyright © 2002 by Splendide Mendax, Inc., & Lincoln Child
Penerbit Dastan Books ; ISBN 978-979-3972-38-1 
Alih Bahasa : Syamsul Wardi
Editor : Mayan Kalingi
Cetakan ke-1 : Juli 2008 ; 624 hlm ; 14 x 21 cm
Cover by Expertoha ; photographer by Tomasz Trojanowski & Aliaksandr Zabudzko 
Rate : 4

Kesan :
Saat pertama kali membuka halaman buku ini, yang ku-harapkan hanyalah ini sebuah kisah thriller yang sama, suatu kisah stereotype tentang pembunuhan – walaupun sedikit review di cover belakang agak menggugah keingin-tahuan.

Dan ternyata duet antara Preston & Lincoln membuat buku ini benar-benar memiliki gaya penulisan yang sangat berbeda dengan penulis-penulis lain ( paling tidak pada genre novel thriller-suspense ). 

Selain memadukan unsur horror dengan khas kisah thriller-suspense, penulis telah menciptakan tokoh-tokoh yang luar biasa dengan sedikit bumbu supranatural sehingga ketegangan serta gambaran yang detil akan mencekam para pembacanya, sehingga satu hal yang dapat dipastikan, anda tak akan dapat melepaskan begitu saja buku ini tanpa menyelesaikan sampai tuntas Walaupun ada beberapa hal yang mampu tertebak namun tidak mengurangi kenikmatan membaca karena penyampaian yang benar-benar tidak biasa.

Keunikan karakter-karakter Pendergast yang misterius sedikit mengingatkan akan ke-eksentrikan Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle, walaupun lebih sopan & tidak sinis ataupun sarkastis.

Diantara novel-novel thriller terbitan Dastan, maka selain The Rosary Murderer & The Missing, maka novel ini juga menempati tempat khusus sebagai karya penulisan dengan minimal 4 bintang ( dari 5 bintang ) yang pernah ku-baca.

Sinopsis :
Kisah dibuka dengan adanya penemuan tak terduga di suatu area konstruksi bangunan yang dimiliki oleh Moegen-Fairhaven Group. Dibalik reruntuhan bangunan ditemukan sebuah terowongan bawah tanah & terdapat tulang belulang beberapa tubuh manusia. Penemuan tersebut seharusnya tidak diketahui oleh khalayak umum, bahkan timbul kesan sengaja ditutupi demi kelangsungan proyek pembangunan apartemen di tempat tersebut.

Walaupun pihak Moegen-Fairhaven Group berhasil mendapat dukungan dari pihak kepolisian untuk menutup tempat kejadian tersebut, mereka dikejutkan dengan kemunculan seseorang yang bernama Pendergast-Agen Khusus FBI dari cabang New Orleans, yang memiliki ketertarikan khusus akan latar belakang kasus itu. Bahkan ia melibatkan Dr. Nora Kelly-arkeolog dari Museum Sejarah Alam New York untuk membantu penelitian atas tulang belulang yang ditemukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tulang belulang tersebut merupakan peninggalan dari korban pembunuhan sadis & aneh. Ke-36 korban pria & wanita menunjukkan bahwa mereka telah dimutilasi & bagian ‘cauda-equina’ ( =kumpulan saraf di sumsum tulang belakang manusia ) mereka telah diambil melalui pembedahan yang ahli. Diketahui pula bahwa para korban besar kemungkinan berasal dari abad ke-19, dari cara & jenis pakaian maupun atribut yang tersisa.

Namun pengamatan di lokasi hanya dapat dilakukan sebentar, dikarenakan pengaruh kekuasaan Anthony Fairhaven-pemilik & pendiri Moegen-Fairhaven Group yang mampu menekan serta menyingkirkan penyelidikan yang sedang dilakukan oleh Agen Pendergast.
Dr. Nora Kelly yang terlanjur tertarik berusaha menemukan secarik kertas yang dijahitkan di dalam pakaian salah satu korban. Bekerjasama dengan kekasihnya William Smitback, Jr-seorang reporter New York Times, ia berhasil mengambil pakaian yang sempat disembunyikan sebelum ia & Pendergast ‘diusir’ dari lokasi. Kertas tersebut bertuliskan : ‘ Saya Mary Gree Ne umur 19 tahun No. 16 Watter Street ’ – dan tulisan ini ditulis menggunakan darah manusia, besar kemungkinan bahwa gadis ini merupakan salah satu korban pembunuhan berantai yang telah berlangsung 150 tahun silam.

Berdasarkan pengetahuan Pendergast yang bersikap misterius, diketahui bahwa terowongan bawah tanah tempat lokasi ke-36 korban ditemukan, dulunya merupakan terowongan batu bara untuk pemanas ruangan bangunan tiga lantai yang dikenal sebagai Shottum’s Cabinet. Pendirinya adalah John Canaday Shottum yang pada thn. 1852 membuka secara resmi J.C. Shottum’s Cabinet of Natural Productions & Curiosities yang menampilkan koleksi ‘cabinet of curiosities’ ( =koleksi sejarah alam berupa kumpulan artefak-artefak sepanjang abad ke-18 & ke-19 ) yang dimiliki oleh Alexander Marysas – pemuda kaya yang memburu & melakukan ekspedisi ke penjuru dunia sejak thn. 1848 sampai ia meninggal dunia di Madagaskar.

Shottum’s Cabinet terbakar habis thn. 1881 & J.C. Shottum sendiri tewas dalam kebakaran itu. Pihak berwajib mencurigai bahwa kebakaran tersebut disengaja, namun hingga kini tak ditemukan siapa pelakunya. Ke-36 korban jelas tewas terbunuh dalam periode waktu tersebut, berarti Shottum’s Cabinet jelas memiliki hubungan erat dengan peristiwa pembunuhan sadis & mengerikan ini.

Kelanjutan penyelidikkan yang dilakukan Nora Kelly & Pendergast mendapat banyak hambatan. Mulai dari Roger Brisbane III – Vice President Museum Sejarah Alam New York, salah satu orang yang tidak disukai Nora karena telah memotong dana bagi penelitiannya, hingga tekanan dari pihak Kepolisian yang menugaskan Sersan Patrick Murphy O’Shaughnessy ( polisi yang menjadi kambing hitam akibat ‘kesalahan’ yang pernah di lakukan di masa lalunya ) guna mengawasi & mengawal Agen Pendergast dalam penyelidikan. Yang tak diduga oleh Kapten Custer-Kepala Polisi yang memiliki ambisi tinggi adalah Sersan O’Shaughnessy justru bekerja sama dengan Pendergast & Nora Kelly menyelidiki kasus tersebut.

Tekanan semakin berat berkat ‘kecerobohan’ Smithback yang tak mampu menahan rahasia ( yang diungkapkan oleh Nora dalam batas hubungannya dengan Smithback ) & ia memuat berita dengan topik yang menyudutkan Anthony Faihaven atas ditutupinya penemuan korban-korban di area situs konstruksinya.

Akibat dari kehebohan berita itu membawa dampak bagi masing-masing pihak, Nora marah & memutuskan hubungannya dengan Smithback, dimana ia terjepit akan rasa penasaran atas penyelidikan yang tengah berjalan, dan resiko kehilangan pekerjaan, apalagi saat Dr. Frederick Watson Collopy-Direktur Museum turun tangan memberikan peringatan serta pilihan yang tak dapat ditolak oleh Dr. Nora Kelly demi kelangsungan masa depan karirnya.

Di sisi lain, penyelidikan mulai menunjukan arah yang lebih jelas lewat bantuan Reinhart Puck-petugas Arsip Museum, yang memberikan bukti surat-menyurat antara J.C. Shottum dengan Tinburry McFadden-kurator Museum pada abad itu. Diantara isi surat-surat tersebut disinggung tentang seseorang yang bernama Dr. Enoch Leng. Beliau menyewa lantai tiga dari Shottum’s Cabinet & bertugas sebagai kurator sekaligus peneliti arsip bagi Shottum’s Cabinet. 

Namun ditemukan pula surat-surat yang disembunyikan di tempat rahasia dari Shottum kepada McFadden, yang mengindikasikan bahwa Enoch Leng-lah yang bertanggung jawab atas ke-36 korban yang telah ditemukan. Bahkan diketahui bahwa korban-korban pembunuhan Dr. Enoch Leng jauh lebih banyak karena bertahun-tahun ia berusaha menyempurnakan penelitian akan kehidupan lebih lama bagi manusia melalui pengambilan ‘cauda equina’ manusia lain yang diambil lewat pembedahan saat korban dalam keadaan hidup !! 

Dari sekedar memuaskan rasa penasaran, Nora Kelly menjadi ketakutan saat terjadi pembunuhan dimana korbannya ditemukan tewas dengan ‘cauda equina’ hilang lewat pembedahan yang sangat ahli. Apakah mungkin Dr. Enoch Leng masih hidup setelah sekian ratus tahun & sekarang memburu korban baru ?
Saat Pendergast nyaris tewas karena percobaan pembunuhan, Dr. Nora Kelly semakin was-was,  hingga ia pun sadar bahwa seseorang juga mengincar nyawanya saat ia juga nyaris tewas setelah menemukan tubuh Reinhart Puck tewas dalam keadaan mengenaskan.

Sedangkan Smithback yang terobsesi mengungkapkan kejahatan yang pernah dilakukan oleh Anthony Fairhaven, berusaha mengorek masa lalu sang penguasa tanpa menyadari nyawanya turut terancam akibat kenekatannya. Namun tak ada yang menduga akan tindakan Sersan O’Shaughnessy yang diam-diam penasaran dengan percobaan pembunuhan terhadap Pendergast, dan penyelidikannya yang menentang atasannya juga akan membawa nasibnya pada masa depan yang tak terduga.

Satu persatu korban baru berjatuhan, semuanya mengarah pada jejak perbuatan Enoch Leng di masa lalu bahkan benar-benar mirip. Hanya seorang yang mampu merangkai keseluruhan teka-teki yang mengerikan serta menelusuri jejak berusia 150 tahun, yaitu Pendergast – karena hal tersebut berhubungan dengan masa lalu keluarganya, suatu sejarah kelam yang sengaja disembunyikan.

Dan kini Pendergast dalam keadaan terluka parah namun ia harus menempuh jalur yang berbeda demi menuntaskan permasalahan ini, karena si pembunuh semakin lama semakin cepat menyelesaikan daftar nama para korban pilihannya – korban demi suatu kehidupan baru yang abadi bagi si pembunuh.


Best Regards, 
* HobbyBuku * 

1 comment:

  1. berkutat di genre fantasi, aku jarang memperhatikan genre misteri.. X)

    ReplyDelete

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...