About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Saturday, April 12, 2014

Books "THE CHAMBER"

Books “KAMAR GAS”
Judul Asli : THE CHAMBER
Copyright © John Grisham 1994
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Hidayat Saleh
Cetakan V : Juni 2006 ; 992 hlm ; ISBN 978-979-605-137-3
Rate : 4 of 5

Buku ini salah satu dari sekian banyak karya Grisham yang sempat ‘menghilang’ dari peredaran sehingga diriku kesulitan mencarinya untuk melengkapi koleksi karya penulis favoritku ini. Sebagaimana sebagian besar karya beliau yang mengangkat tema-tema seputar dunia hukum, kali ini topik khusus yang menjadi salah satu sorotan dan perhatian beliau secara pribadi : hukuman mati bagi terpidana. Mengenal John Grisham serta latar belakang beliau sebagai pengacara, tentunya mengetahui seberapa jauh pergulatan moral yang harus dihadapi, antara memberi keadilan bagi keluarga korban dan menghukum terpidana yang terbukti bersalah melalui proses peradilan, dengan memberlakukan keputusan : hukuman mati (death penalty).



Kisah ini dibuka pada sekitar tahun 60-an, tepatnya di Mississippi, negara bagian Amerika yang terkenal akan pergolakan rasialisme yang memakan korban sangat banyak. Marvin Kramer adalah pengacara Yahudi keturunan Jerman yang telah mengalami ‘pencerahan’ dan alih-alih meneruskan keinginan keluarganya yang menganut paham layaknya kaum Selatan, ia justru membela hak-hak sipil dan mewakili kaum minoritas dalam jenjang status sosial : kaum kulit hitam !! Akibatnya ia ‘dibuang’ oleh keluarganya, dan berkutat dengan tuntutan hukum membela keadilan dengan sangat vokal terhadap pemerintahan setempat yang acapkali menutup mata atas ketidak-adilan yang menimpa kaum kulit hitam.

Aktifitas Marvin membuatnya menjadi sasaran korban kelompok militan KKK (Ku Klux Klan) yang telah melancarkan teror serta ketakutan bagi pihak-pihak yang berjuang demi hak asasi dan keadilan. Ketika keputusan diambil, sebuah paket bom dipasang di kantor Marvin. Rencana awal yang bertujuan menebarkan teror tanpa dimaksudkan akan terjadi korban jiwa, selain bangunan kantor yang rusak dan hancur, berubah menjadi malapetaka mengerikan. Perakit bom melakukan modifikasi dengan menggunakan ‘timer’ yang celakanya tidak berfungsi, sehingga alih-alih meledak sebelum subuh, justru meledak pada pagi hari, kala Marvin beserta kedua anak kembarnya sudah berada di dalam kantor.

Marvin selamat meski kedua kakinya harus diamputasi. Namun si kembar Josh dan John Kramer yang baru berusia 5 tahun tewas karena berada di dekat lokasi bom. Masyarakat tertegun dan mengutuk tindakan para pelaku. Pihak berwajib hingga FBI turun tangan dan dalam waktu singkat, seorang tersangka berhasil dibekuk. Pria bernama Sam Cayhall, yang terdaftar dalam list pengawasan FBI karena keluarganya secara turun temurun merupakan anggota KKK. Namun tiada bukti langsung mampu mendakwa Sam ke peradilan. Hingga FBI mengalihkan sasaran pada Jeremiah Dogan, yang dikenal sebagai imperial wizards – pimpinan KKK di Mississipi. Demi menyelamatkan nyawanya, Dogan menyerahkan nama Sam Cayhall atas tragedi Kramer.

Sam Cayhall didakwa atas kematian Josh dan John Kramer pada tahun 1967, dan vonis hukuman mati di kamar gas merupakan keputusan dewan juri. Para pengacara sam Cayhall berusaha keras melakukan banding untuk keringanan maupun ampunan (amnesti) bagi klien mereka. Namun hal ini tidak mudah dilakukan, karena Sam Cayhall adalah sosok pria keras kepala dan memiliki kemauan sendiri. Satu hal yang bisa meringankan hukumannya, dengan menyebutkan nama rekan yang memasang bom tersebut, tidak bersedia ia sebutkan, dan bersikeras bahwa hanya dirinya seorang yang melakukan pemasangan bom tersebut. Hingga akhirnya ia memecat pengacaranya dan mempelajari hukum untuk mewakili dirinya sendiri.

Tahun berlalu, masyarakat mulai melupakan kasus Kramer, hingga permainan politik muncul kala Gubernur yang berhasil menduduki jabatannya harus menjalani masa pemilihan baru. Demi mengangkat popularitas, sebuah keputusan muncul, masa-masa penantian Sam Cayhall dalam tahanan telah usai, dan kini tiba waktunya untuk menjawab permintaan para pendukung suara, dengan mengeluarkan keputusan hukuman mati melalui kamar gas bagi Sam. Dan di saat genting ini pula, muncul sosok pembela yang membuat heboh dan bahan perbincangan masyarakat, terutama di wilayah Mississipi. Seorang pengacara muda bernama Adam Hall, khusus datang dari Chicago untuk membela Sam Cayhall.

Adam Hall – berusia 26 tahun, baru setahun lulus dan sedang menjalani magang di biro hukum Kravitz & Bane di Chicago. Kini ia meminta tugas khusus untuk membela Sam Cayhall – mantan klien biro tersebut, sebelum dipecat akibat sifat Sam Cayhall yang keras kepala. Permintaan yang tidak biasa bagi pengacara yang baru lulus, belum memiliki pengalaman sidang atau menangani hukum pidana mati. Namun ada satu rahasia kunci yang membuat Adam bukan saja memperoleh ijin tetapi juga dukungan dari rekan seniornya, ia adalah cucu Sam Cayhall, yang tak pernah saling bertemu selama bertahun-tahun semenjak ayahnya, Eddie Cayhall, putra Sam, melarikan diri ke negara bagian lain, setelah vonis hukuman terhadap Sam dijatuhkan.

Kedua anggota keluarga yang tak pernah saling bertemu, atau mengenal satu sama lain, kini akan berhadapan muka, untuk melakukan sebuah kerjasama yang sulit, mengingat sejarah buruk hubungan Sam dengan para pengacaranya. Adam Hall memiliki misi khusus, bukan saja berharap sebuah keajaiban terjadi atas vonis hukuman mati terhadap kakeknya, melainkan juga ia berusaha menyingkap selubung misteri yang menyebabkan keluarganya porak-poranda. Apa alasan dibalik kematian ayahnya, yang melakukan bunuh diri ? Bagaimana reaksi bibinya, saudara kandung Eddie yang membenci ayahnya, Sam Cayhall ? Dan mampukah ia membuat Sam mengakui kebenaran atas apa yang sebenarnya terjadi di tahun 1967 dan sejarah masa lampau keluarga ....

Kisah setebal 900 halaman ini mengupas sisi lain dari kehidupan para terpidana mati, melalui karakter Sam Cayhall. Kehadiran sosok Adam Hall, menjadi cerminan dari keingin-tahuan masyarakat awam, tentang kisah dibalik tragedi maupun kasus-kasus mengerikan yang menyebabkan alasan mengapa mereka dimasukan dalam tahanan seumur hidup hingga tiba waktunya untuk menjalani hukuman mati. Topik tentang sejarah dan metode hukuman, mulai dari penggunaan kursi listrik hingga dilarang akibat penderitaan para terpidana yang tidak langsung mengalami kematian, hingga perdebatan apakah hukuman mati melalui kamar gas cukup efektif bagi terpidana maupun pihak-pihak terkait.

Alternatif terbaru adalah menggunakan suntikan, yang dirasa lebih ‘manusiawi’ dan memiliki resiko lebih rendah untuk terjadinya kontaminasi dan pencemaran akibat mayat terpidana yang hangus terbakar atau menguraikan racun asam sulfat akibat pembuangan gas beracun. Sejarah panjang penggunaan kamar gas juga disinggung kala Nazi menggunakan sebagai altenatif memusnahkan tahanan kaum Yahudi. Daya tarik sekaligus kengerian mewarnai kisah ini, tentang sejarah panjang keluarga yang menjadi pengikut KKK, terlepas mereka memiliki pemahaman dan keyakinan layaknya orang fanatik, atau sekedar ‘ikut-ikutan-belaka’ ... semuanya disajikan tanpa menunjukkan apakah hal tersebut hitam atau putih.

Grisham tampaknya sengaja menuangkan pemikiran dari kedua belah sisi, sisi korban dan pelaku kejahatan, sisi penegak hukum dan kepentingan politik, sisi manusiawi dengan tuntutan keadilan. Semuanya memiliki alasan tersendiri yang bisa menjadi sebuah alasan kuat untuk dalih atau pembenaran atas tindakan yang telah dilakukan. Sebagaimana pepatah dunia hukum menyebutkan “Not guilty until proven otherwise” – permainan dan pemutar-balikan fakta mampu dilakukan, semuanya demi mencapai tujuan masing-masing. Pertanyaannya, jika kita menuntut keadilan atas kematian seseorang dengan mencabut nyawa orang lain, apakah ia sang pelaku atau konspirator, apakah ini sebuah keadilan atas nama kemanusiaan ?

Dengan ending yang menyentuh, sekali lagi Grisham mampu menyajikan kepelikan dunia yang bermain-main dengan nyawa manusia. Ibarat sebuah jeritan suara hati, melalui kisah ini, beliau menunjukkan bahwa hukuman mati bukanlah satu-satunya jalan untuk menuntut keadilan, selain memuaskan rasa dendam dan amarah yang tak akan dapat menghapus kepedihan serta luka yang telah terjadi akibat tragedi terhadap orang-orang yang kita kasihi. Now, I must hunting for The Chamber’s DVD – and it’s so hard to find this day (-__-) ... anybody could gave me direction where to find this ? (yep ... is true, aside for books collection, I also collect DVD of Grisham’s Movie Adaptation)

[ more about this author & related works, just check at here : All About John Grisham ]

~
This Post are include in 2014 Mystery Club & 2014 Reading Challenge ~
81th Book in TBRR Pile

Best Regards,

Hobby Buku

1 comment:

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...