About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Saturday, April 12, 2014

Books "A TIME TO KILL"

Books “SAAT UNTUK MEMBUNUH”
Judul Asli : A TIME TO KILL
[ book 1 of Jake Brigance Series ]
Copyright © John Grisham 1989
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Hidayat Saleh
Desain Sampul : Eduard Iwan Mangopang
Cetakan V : Maret 2004 ; 912 hlm ; ISBN 978-979-605-026-9
Rate : 5 of 5

A Time To Kill adalah novel pertama yang ditulis oleh John Grisham, sebuah karya yang membutuhkan waktu hingga 3 tahun masa penulisan, dan perjuangan keras untuk diterbitkan, hanya untuk mendapati penolakan demi penolakan dari para agen buku. Ketika salah satu agen akhirnya bersedia menerima buku tersebut, dan memberikan nasehat agar Grisham melanjutkan usaha untuk menulis novel lainnya. Setahun kemudian saat beliau berusaha menyelesaikan novel keduanya, The Firm, kabar gembira dari sang agen bahwa Wynwood Press bersedia menerbitkan edisi perdana novel yang awalnya berjudul Deathknell sebelum diganti untuk ke-6 atau ke-7 kalinya, menjadi A Time To Kill, dan 5.000 eksemplar tercetak pada Juni 1989.



Meski prestasi tersebut bukan merupakan titik balik kesuksesan Grisham, namun novel ini memiliki ‘sesuatu’ yang khusus bagi beliau, bukan hanya merupakan karya pertama yang beliay tulis, melainkan tema yang diangkat, merupakan inspirasi dari sebuah persidangan yang secara kebetulan beliau saksikan, saat seorang gadis cilik menjadi saksi utama kasus pemerkosaan yang terjadi pada dirinya. Kepedihan, kemarahan dan kemelut antara keinginan membalas dendam dan menegakkan keadilan, yang berkecamuk di benak beliau saat memikirkan bagaimana seandainya gadis itu, korban pemerkosaan, adalah anaknya, di sinilah awal dari kisah A Time To Kill dimulai.

Menghadirkan sosok pengacara muda Jake Brigance, yang idealis sekaligus memiliki impian untuk menegakkan keadilan, Grisham mengakui sebagian besar dari sosok Jake adalah dirinya : seorang pengacara jalanan yang membela pihak yang lemah. Dengan latar belakang dan pemahaman kehidupan masyarakat Amerika di bagian Selatan, dimana konflik dan isu seputar rasialisme sangat kental hingga menimbulkan korban selama bertahun-tahun serta ketidak-adilan baik secara hukum maupun pengakuan hak asasi manusia, ini adalah kisah penuntutan keadilan yang sangat berat karena harus berhadapan lingkungan masyarakat yang tidak bersahabat, indoktrinasi yang sangat kuat karena pemahaman dan kebiasaan yang telah dijalani secara turun-temurun.

Mengambil lokasi di Clanton, Ford County, ketika seorang gadis cilik berusia 10 tahun, Tonya Hailey, sedang berjalan menyusuri jalan untuk membeli pesanan ibunya, ketika dua orang pria menyergapnya, mengikat dan menyeretnya dibelakang kendaraan mereka, kemudian melakukan pemerkosaan brutal dan menggantung gadis itu berulang kali, sebelum mereka membuang tubuh gadis yang diduga telah tewas dengan tubuh babak belur penuh luka. Namun Tonya ternyata tidak tewas, dan mampu bercerita apa yang telah ia alami ketika berhasil diselamatkan. Pihak berwajib segera mengurus permasalahan tersebut. Akan tetapi keluarga Hailey, terutama sang ayah, Carl Lee Hailey tahu, tiada keadilan akan terjadi atas penderitaan putrinya.

Bukan karena tidak adanya bukti atau kesaksian kuat dari sang korban, melainkan semata-mata karena kedua tersangka adalah pria kulit putih, dan korban adalah gadis kulit hitam, sesuatu yang tidak dianggap penting bagi masyarakat wilayah county tersebut. Dengan adanya dewa juri yang mayoritas golongan kulit putih, bisa dipastikan kedua tersangka akan melangkah keluar dengan vonis hukuman yang cukup ringan. Maka Carl Lee Hailey membuat sebuah rencana, untuk membalas dendam dan menuntut keadilan demi gadis ciliknya yang tak akan pernah pulih sepanjang hidupnya. Sebuah rencana yang akan menimbulkan kehebohan, kala Carl Lee Hailey memutuskan kapan ‘A Time To Kill’ – sebuah eksekusi dilaksanakan.

Pertanyaannya, bagaimana reaksi masyarakat county dengan mayoritas penduduk kulit putih yang sebagian besar fanatik, terhadap kasus pemerkosaan gadis kulit hitam, dan pembunuhan terencana terhadap dua orang kulit putih, pelaku pemerkosaan tersebut ? Kisah ini boleh jadi merupakan karya perdana Grisham, namun secara pribadi kisah ini juga menjadi salah satu favorit pilihanku. Jika dalam berbagai karya-karya lainnya, Grisham mengangkat tema khusus tentang bidang-bidang yang berkait dengan hukum serta pidana, maka justru dalam kisah ini, pesan humanis dan moral seputar kemanusiaan menempati porsi terbesar dalam konflik serta pergulatan yang dialami oleh setiap karakter dalam kisah ini.

Kasus rasial selalu membuatku ‘miris’ tatkala mendapati manusia ‘biasa’ mampu berbuat sangat keji melebihi ‘hewan’ hanya untuk kesenangan menyiksa manusia lain semata karena menganggap ‘mereka’ bukanlah manusia yang setara. Dengan menambahkan adegan kasus pemerkosaan pada gadis cilik, kisah ini sanggup menorehkan kepedihan serta pergolakan dalam hati, tatkala perbenturan unsur keadilan menuntut pembalasan atas perilaku yang biadab ini. Namun hal ini semakin menarik dengan kemunculan sosok Jake Brigance – pria kulit putih yang berani menjadi pembela tersangka kulit hitam, ditengah kemelut dan suasana panas masyarakat pro kulit putih. Somehow ... this story, makes me remeber on how Harper Lee’s write about her fenomenal (and only) novel “To Kill A Mockingbird” – the title just like similar, aren’t they ?

[ more about this author & related works, just check at here : All About John Grisham ]

~
This Post are include in 2014 Mystery Club & 2014 Reading Challenge ~
78th Book in TBRR Pile

Best Regards,

Hobby Buku

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...