About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Monday, June 30, 2014

Books "ARSENÈ LUPIN ADVENTURE : THE ISLAND OF THIRTY COFFINS"

Books “TEROR DI PULAU KEMATIAN”
Judul Asli : THE ISLAND OF THIRTY COFFINS
[ book 10 of ARSENÈ LUPIN Series ]
by Maurice LeBlanc
Penerbit Visimedia
Alih Bahasa : Harisa Permatasari
Editor : Muthiah Esfand
Proof Reader : Tim Redaksi Visimedia
Editor Grafis : Nuruli Khotimah
Ilustrasi : Aminuddin, Jaja, Nunu
Cetakan I : Mei 2014 ; 402 hlm ; ISBN 978-065-208-9
Rate : 4 of 5
[ Re-blogged from HobbyBuku's Classic ]

Siapa yang tak kenal dengan nama Arsène Lupin – karakter yang diciptakan oleh Maurice Leblanc hingga popularitasnya acapkali disandingkan dengan sosok Sherlock Holmes – tokoh detektif yang lahir dari tangan dingin Sir Arthur Conan Doyle. Namun berapa banyak yang mengetahui siapa sebenarnya ‘Arsène Lupin’ yang sebenarnya bukanlah seorang detektif sebagaimana profesi Sherlock Holmes, justru ia lebih sering berada di sisi yang berlawanan dengan tokoh detektif kenamaan ini. Dan sebagai gurauan sekaligus tantangan yang diberikan oleh Maurice Leblanc terhadap Sir Arthur Conan Doyle, ia juga menciptakan karakter bernama Holmlock Shèars yang seringkali ‘dikalahkan’ oleh kelicikan Arsène Lupin untuk menghindari jeratan hukum.



[ source ]
Yeppp !! Arsène Lupin adalah seorang pencuri. Bukan sembarang pencuri, karena ia senantiasa mengincar benad-benad terbaik dan umumnya sulit untuk didapatkan karena kelangkaan serta sistem keamanan yang sulit diterobos. Namun semakin sulit sesuatu itu diperoleh, hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi Lupin. Setelah beberapa kali membaca karya Leblanc, khususnya tentang Lupin, hingga kini sosok tersebut masih merupakan teka-teki besar bagi diriku. Nama Arsène Lupin sendiri adalah sebuah samaran, siapa dia sebenarnya, tidak diungkapkan secara jelas, hanya beberapa kasus yang melibatkan masa lalu seorang pria, menggiring pembaca (terutama diriku) untuk menduga-duga apakah benar kisah tersebut adalah masa lalu sosok yang dikenal sebagai Arsène Lupin ...

Hal ini tak dipermudah karena Lupin memiliki keahlian (sekaligus kegemaran) untuk menyamar menjadi sosok serta pribadi yang sama sekali berbeda. Cara ini pula yang acapkali digunakan untuk menyusup dan menjadi orang kepercayaan mereka yang justru kemudian menjadi korbannya. Bahkan kehebatan Lupin dalam menyamar. Berkali-kali membuatnya lolos dari lubang jarum, termasuk saat berhadapan muka dengan lawannya, seperti Ganimard yang mengaku sangat mengenal Lupin. Keahlian ini pula yang ia gunakan dalam kisah kali ini, sebuah kisah yang melibatkan unsur supranatural melawan otak kriminal yang bisa dikatakan sebagai psikopat (dalam kisah ini hanya disebutkan sebagai orang yang terganggu jiwanya) di sebuah pulau terpencil.

Bermula dari legenda yang dikenal dan dikisahkan secara turun temurun tentang Pulau Sarek yang berada di tengah Samudera Atlantik, beberapa kilometer dari wilayah Paris. Sebuah ramalan yang ditakuti oleh para penghuninya, hingga namanya lebih dikenal sebagai Pulau Peti Mati, hanya dikunjungi oleh segelintir manusia yang memiliki nyali besar. Disinilah Véronique d’Hergemont khusus datang jauh-jauh dari kota Paris, berbekal sepucuk surat tentang Legenda Breton, hanya untuk menemukan sosok mayat yang tiba-tiba menghilang serta keyakinan kuat untuk mencari ‘sesuatu’ yang sangat berharga dalam hidupnya, yang hilang tanpa jejak dan menyebabkan penderitaan sekian tahun. Dimulai dari peristiwa yang dikenal masyarakat luas sebagai Skandal Hergemont.

Ia adalah putri tunggal M. Antoine d’Hergemont – penulis ternama yang diserang saat sedang berjalan-jalan di Bois hingga terluka parah, dan gadis yang terkenal kecantikannya meski masih sangat belia itu diculik oleh gerombolan kriminal atas perintah Count Alexis Vorski – bangsawan Polandia yang cukup terpandang sekaligus memiliki reputasi yang tidak baik. Penculikan menyusul pernikahan yang tidak direstui oleh sang ayah kelahiran bayi laki-laki, yang mampu membuat M. Antoine d’Hergemont berubah pikiran yang bersedia berhubungan kembali dengan putrinya. Namun perdamaian itu tak berlangsung lama, karena beberapa bulan kemudian, M. Antoine d’Hergemont ‘ganti’ menculik cucunya dan dibawa pergi menyeberangi samudra.

Malang tak dapat ditolak, belum sempat Véronique menemukan kakek beserta cucunya itu, kapal tersebut dikabarkan tenggelam saat badai mengamuk. Patah hati dan putus asa, Véronique memutuskan tinggal dalam biara di Carmelite, memutuskan hubungan dengan suami yang mengerikan dan lari dari kehidupan yang membuat kebahagiaannya hancur sedikit demi sedikit. Empat belas tahun Véronique hidup menyendiri, jauh dari kesibukan dan hiruk-pikuk kota besar, lenyap dari pergaulan sosial hingga masyarakat muali melupakan keberadaan serta skandal yang menyangkut dirinya. Hingga sebuah surat muncul, dan membawa Véronique menelusuri jejak teka-teki, untuk mengungkap misteri dibalik berita bahwa ayahnya serta putranya masih hidup di suatu tempat : Pulau Peti Mati ...
“Pulau ini dikutuk. Sarek adalah salah satu gerbang neraka. Sekarang gerbangnya tertutup, tapi ketika gerbang itu terbuka, semua kemalangan yang terpikirkan olehmu akan muncul bagai angin badai. Mereka bilang gerbangnya terbuat dari batu dan berasal dari tempat yang sangat jauh, dari sebuah negeri asing. Itu adalah Batu Dewa. Mereka bilang itu batu berharga, campuran warna emas dan perak. Batu Dewa, Batu yang memberikan kehidupan ... atau kematian” [ p. 85-86 ]
Kisah kemudian bergulir dengan alur yang cukup cepat, membawa sosok Véronique dalam sebuah petualangan yang mengerikan sekaligus absurb, kala harapan untuk bertemu dengan ayahnya serta putra yang kini berusia 14 tahun dan tak pernah mengenal dirinya, berubah kala ia harus berurusan dengan pembunuhan dan pembantaian para penghuni Pulau Sarek. Legenda Sarek berisikan ramalan : “Pada tahun empat belas dan tiga, kapal akan karam, serta duka, angkara, ruang kematian, anak panah dan racun. Empat orang perempuan disalib. Tiga puluh peti mati. Tiga puluh manusia akan tewas. Batu Dewa yang memberikan kehidupan atau kematian.” – menjadi sebuah kenyataan ketika satu demi satu mereka mati sebelum sempat keluar dari lingkaran batu karang yang mengelilingi pulau itu.

Véronique bukanlah wanita penakut, namun akal sehatnya mulai terganggu saat ia melihat sosok bocah yang diketahui sebagai putranya, ternyata pembunuh berdarah dingin ... membunuh kakeknya, pengasuh semenjak kecil dan para pelayan yang mencintai dirinya, atau benarkah semua peristiwa yang terlihat merupakan sebuah kenyataan ? Atau ilusi belaka ? Seorang diri dan baru saja menginjakkan kaki di Pulau terpencil, Véronique harus memecahkan misteri yang menyelimuti Pulau Sarek, meski ia harus mati seorang diri tanpa seorang pun mengetahui keberadaannya ... tapi benarkah hanya tinggal ia seorang diri – satu-satunya manusia di tempat itu ?

Suasana yang mencekam, misteri yang mengundang rasa penasaran, teka-teki yang memusingkan, dan kehadiran sosok-sosok misterius sepanjang kisah ini, menjadikan kisah ‘Teror di Pulau Kematian’ merupakan perpaduan misteri dan gaya ‘humur’ yang absurb sebagaimana karakter Arsène Lupin yang unik dan tak mudah ditebak. Bahkan salah satu karakter favoritku : Patrice Belval (baca : The Return of Arsène Lupinkembali muncul mendampingi Lupin (walau kemunculannya hanya sekilas, tapi memiliki peran yang cukup penting dalam kasus ini). Terlepas dari beberapa ‘kejanggalan’ dalam penerjemahan yang muncul cukup banyak pada bab-bab awal, serta penggunaan konteks dan penyesuaian gaya bahasa yang ‘sedikit’ kurang tepat untuk jenis bacaan klasik, masih bisa dikatakan sebagai penggemar Arsène Lupin, ini adalah salah satu buku yang layak menjadi koleksi para pembaca.

[ more about this author & related works, just check at here : Maurice Leblanc | on Goodreads | on IMDb | on Wikipedia | TV Miniseries ]

~ This Post are include in 2014 Reading Challenge ~
39th Book in What’s A Name Challenge
131th Book in TBRR Pile

Best Regards,

Hobby Buku

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...