About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Monday, November 3, 2014

Books "THE MONOGRAM MURDERS"

Books “PEMBUNUHAN MONOGRAM”
Judul Asli : THE MONOGRAM MURDERS
[ book 1 of HERCULE POIROT MYSTERY ]
by Sophie Hannah
Copyright © 2014 by Agatha Christie Limited
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Alih Bahasa : Iingliana Tan
Desain & ilustrasi sampul : Eduard Iwan Mangopang
Cetakan I : September 2014 ; 376 hlm ; ISBN 978-602-03-0755-8
Rate : 3 of 5

Saat pertama kali mendengar kabar bahwa akan diterbitkan kisah terbaru petualangan Monsieur Hercule Poirot – salah satu karakter legendaris dari buah tangan sang Ratu Misteri : Dame Agatha Christie, kegirangan sekaligus cemas muncul di benakku, karena keinginan untuk ‘bersua’ kembali dengan pria unik asal Belgia yang memiliki karakter tiada duanya, sekaligus ketakutan jika usaha untuk ‘menghidupkan’ kembali sosok yang telah dinyatakan telah tiada oleh sang penciptanya, tidak memenuhi harapan serta ekspektasiku selaku penggemar setia. Dengan desain dan ilustrasi sampul yang langsung membuatku jatuh-hati, akhirnya tiba juga buku yang kunantikan seminggu sebelum peluncuran resmi secara serentak. Lalu mengapa membutuhkan hampir berminggu-minggu kemudian untuk meluncurkan postingan review ini ... karena ada beberapa hal yang perlu ‘ku-endapkan’ sebelum sisi emosional mengambil alih jari-jemariku untuk menulis murni berdasarkan penalaran alih-alih berisikan curahan hati belaka (^_^)



Dibuka dengan adegan kala Hercule Poirot yang sedang menjalani masa istirahatnya, mendapat kejutan yang mengguncang hati serta pikirannya kala ia sedang berusaha menyelesaikan makan malamnya di salah satu cafe kesukaannya. Munculnya sosok wanita yang kemudian diketahui bernama Jennie dalam kondisi kacau balau, mengusik ketenangan Poirot karena ia menyadari ketakutan akan teror yang melanda wanita tersebut. Sebelum Poirot sempat menggali lebih dalam apa yang menjadi permasalahan, Jennie menghilang dan meninggalkan Poirot gelisah sekaligus ketakutan akan sesuatu yang menakutkan akan segera terjadi. Di sisi lain kota, tepatnya di Hotel Bloxham telah terjadi peristiwa aneh. Tiga orang tamu ditemukan tewas dalam waktu yang bersamaan, dimana sekilas pandang pada lokasi pembunuhan, ketiganya tewas dengan cara yang sama, walau ketiga korban tampak tidak memiliki hubungan satu sama lain. Pihak yang menangani kasus tersebut adalah Edward Catchpool – dari Scotland Yard, yang kebetulan juga tinggal di kamar sewaan di apartemen yang kini ditempati oleh Poirot selama 6 minggu terakhir.
“Oh, tolong jangan biarkan siapa pun membuka mulut mereka ! Kejahatan ini tidak boleh dipecahkan. Berjanjilah pada saya bahwa Anda akan menyampaikannya kepada teman polisi Anda, dan pastikan dia setuju ? Kalau Anda menjunjung keadilan, tolong lakukan seperti yang saya minta.” [ ~ Jennie to Poirot | from ‘Monogram Murders’ at p. 16 ]
Richard Negus, Harriet Sippel dan Ida Gransbury ditemukan tewas akibat racun di kamar yang berbeda. Petugas hotel melakukan pemeriksaan karena menerima sebuah catatan aneh di meja resepsionis dengan tulisan : “Semoga mereka tidak pernah beristirahat dengan tenang. 121.238.317”. Di dalam mulut ketiga korban ditemukan manset dengan monogram PIJ, sehingga dugaan awal bahwa mereka melakukan bunuh diri sempat muncul, hingga Hercule Poirot datang untuk melakukan pemeriksaan langsung, lebih didorong akibat perkataan Jennie sebelum ia lari meninggalkan cafe malam sebelumnya. Poirot menemukan bahwa ketiga korban tidak mungkin melakukan bunuh diri secara massal. Meski demikian, hal tersebut masih menimbulkan tanda tanya besar, apa alasan di balik kematian ketiga manusia yang sekilas tampak tak berhubungan, kecuali mereka semua pernah dan sebagian masih tinggal di Great Holling, Culver Valley. Demi mendapatkan jawaban misteri yang menyelubungi kasus ini, Poirot ‘mengutus’ Edward Catchpool untuk menelusuri jejak para korban, kembali ke Great Holling.

Ok, dari awal mula pembukaan hingga sekitar seperempat halaman, ada berbagai hal yang mengusik diriku hingga sulit untuk berkonsentrasi apalagi menikmati kisah ini. Hal ini disebabkan karena penggambaran karakter Hercule Poirot yang muncul, sangat bertolak-belakang dengan karakter maupun ciri khas sosok yang unik ini. Seperti bagaimana ia menikmati hidangan kopi secara rutin, penggemar Poirot tentu tahu bahwa ia menyukai cokelat hangat yang manis, satu-satunya minuman ‘pahit’ yang dikonsumsi adalah ‘tisane’ – ramuan khusus untuk menyembuhkan aneka penyakit (terutama flu). Kemudian bagaimana Poirot dalam usaha menemukan ketenangan dan ilham untuk memecahkan kasus, justru mengajak Catchpool keliling kota, naik-turun bus tanpa tujuan yang jelas. That’s not Poirot  at all !! Ia akan memilih duduk diam dalam ketenangan membiarkan ‘sel-sel kelabu-nya’ berputar hingga ‘click’ sebuah ide akan muncul di benaknya. Ini hanya contoh beberapa hal yang mengganggu diriku sepanjang membaca kisah perdana yang digembar-gemborkan akan ‘membawa-kembali’ sosok Hercule Poirot.

Faktor berikutnya menyangkut keterlibatan karakter Edward Catchpool – di mana ia justru memegang porsi yang lebih besar dalam penyelidikan kasus ini dibandingkan hadirnya Poirot. Sayangnya karakter Catchpool sama sekali tidak mampu membangkitkan daya tarik, alih-alih ada sedikit rasa jengkel karena kepribadiannya yang tidak percaya diri (padahal status jabatannya cukup tinggi) bahkan dalam usaha menguraikan benang-benang kusut yang membungkus misteri kasus ini, ia melakukannya dengan rasa enggan dan hanya karena sedikit ‘takut’ akan amukan dan omelan Poirot jika hasil laporannya tidak memuaskan. Apakah ini gambaran sosok yang layak dijadikan panutan or at least menempati posisi ‘partner’ Poirot ? Terus terang Kapten Hastings yang serba melodramatis justru jauh lebih mengesankan dibandingkan sosok Catchpool. Perjalanan dan perkembangan karakter Catchpool maupun Poirot, terasa mengalami pergantian berulang kali, di mana pada saat-saat tertentu diriku justru menangkap gaya ala Sherlock Holmes dan Watson alih-alih analisa ala Poirot yang mengutamakan pemikiran psikologis.

Kasus utama yang terjadi di kota besar kemudian ternyata bermula dari insiden di sebuah desa kecil, lengkap dengan aneka karakter, detil serta skandal yang mau tidak mau mengingatkan diriku akan ciri khas kasus-kasus yang ditangani oleh Miss Marple. Terus terang karena ini buku pertama karangan Sophie Hannah yang kubaca, diriku tak bisa membandingkan atau menilai sejauh mana beliau pakar dalam penulisan kisah misteri dan bagaimana gaya penulisannya. Namun satu hal yang bisa kukatakan tentang buku ini, mengapa dipaksakan membawa ‘nama besar’ Agatha Christie bahkan mengadopsi salah satu karakternya yang sangat dikenal dengan ciri khasnya yang unik, jika ternyata dibuat versi yang sama sekali berbeda ? Yang lebih membingungkan, penulis melakukan ‘perombakan’ ini setengah-setengah, alhasil karakteristik yang muncul menjadi bias dan mudah terlupakan. Jika hendak melakukan perombakan, sekalian saja dibuat jauh berbeda, seperti penulis Laurie R. King yang menciptakan versi baru Sherlock Holmes beserta ‘muridnya’ Mary Russell, yang justru mampu menimbulkan kesan tersendiri. I'm So Disappointed (-__-)

[ source ]
[ more about the author & related works, just check at here : Sophie Hannah | on Goodreads | on Wikipedia | at Twitter ]

~ This Post are include in 2014 Reading Challenge ~
94th Book in Finding New Author Challenge
232th Book in TBRR Pile

Best Regards,

Hobby Buku

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...