About Me

My photo

Bookaholic | Movies Addic | Love Travelling | Culinary Foodie | Book Blogging | Likes Music & Dance Performance

Translate

Monday, February 10, 2014

INTRODUCING : "MARY RUSSEL & SHERLOCK HOLMES"

~ INTRODUCING MARY RUSSELL & SHERLOCK HOLMES ~
( a novel series created by Laurie R. King )

Siapa yang tak mengenal nama Sherlock Holmes – sosok detektif ternama dengan karakter serta metode analisis yang unik, yang diciptakan oleh penulis Sir Arthur Conan Doyle dalam serial kasus-kasus misteri yang sulit untuk dipecahkan. Kepopuleran karakter ini membuat beberapa penulis kisah misteri, membuat kisah berdasarkan tokoh tersebut dengan cara pendekatan yang berbeda-beda. Mulai dari menyajikan kisah petualangan Sherlock Holmes sebagai bocah laki-laki, hingga remaja yang berpetualang bersama rekan-rekannya, bahkan kisah dengan mengambil latar belakang sosok Sherlock Holmes dalam menjalani masa pensiun, tetap mengundang daya tarik tersendiri. Sebagian karya-karya tersebut, cukup menarik untuk disimak, sebagian lagi tidak cukup memiliki kelebihan dibandingkan versi orisinal karya Arthur Conan Doyle.


~ Russell Holmes Digital Art courtesy of Elf Dust ~
Dan dari sekian banyak pilihan, salah satunya adalah karya Laurie R. King, yang menampilkan karakter Sherlock Holmes semasa menjalani masa pensiun sebagai peternak dan pengamat kehidupan lebah, dan hal ini juga bukanlah suatu tema yang baru untuk versi penulisan kisah Sherlock Holmes. Lalu apakah kelebihan atau perbedaan kisah ini dibandingkan kisah-kisah lainnya ? Dalam kisah yang juga merupakan serial tersendiri, dimunculkan sosok gadis bernama Mary Russell yang kelak menjadi ‘apprentice’ yang memiliki hubungan unik dengan sang mentor. Mary Russell, baru berusia 15 tahun saat pertama kali bertemu dengan Sherlock Holmes yang berusia 54 tahun. Gadis dengan penampilan ‘menyedihkan’ dan kurang meyakinkan ini, sekilas tidak mengundang minat siapa pun, menyembunyikan kecerdasan dan ketajaman pemikiran yang cukup mengejutkan bagi remaja seusianya.

Sherlock Holmes, pria yang semenjak awal dikenal sebagai sosok yang sinis terhadap hal-hal lain selain pengetahuan dan minat yang dipelajarinya, acapkali bisa dikatakan memandang rendah makhluk yang disebut sebagai sosok wanita, lebih dikarenakan beliau tidak menyukai sifat feminin dan kekuatan emosional yang dianggapnya mengganggu kelancaran berpikir berdasarkan analisa, logika dan akal sehat. Dan sebagai warga negara Inggris tulen, beliau juga tidak terlalu menghargai warga negara lain, terutama Amerika. Melalui perkenalan awal yang unik dengan Mary Russell – gadis remaja, warga negara (setengah) Amerika yang suka berbuat blak-blak menyuarakan apa yang ada di benaknya, kritis dan mampu menyajikan fakta berdasarkan pengamatan dan analisa yang cukup akurat dalam waktu yang cukup singkat, berhasil menggugah rasa ingin-tahu dan penasaran bagi pria yang sedang jenuh dan bosan dalam menjalani masa pensiunnya.

~ source ~
Meskipun ‘nama’ Sherlock Holmes muncul sebagai sosok yang menarik perhatian pembaca serta penggemar kisah misteri, dalam serial ini, penulis justru menitik-beratkan pada perkembangan karakter Mary Russell. Dituturkan dengan gaya penulisan narator yang unik, dibuka dengan kata pengantar oleh Laurie R. King yang mengungkap ide awal penulisan kisah yang berasal dari kiriman paket aneh berisi benda-benda yang bisa dikatakan cukup janggal, serta serangkaian manuskrip yang ditulis oleh sosok wanita yang kemudian dikenal sebagai Mary Russell. Kedua ‘narator’ ini berperan baik sebagai pembuka serta penutup setiap kisah, dirangkai dalam untaian perjalanan kehidupan Mary Russell melalui penulisan jurnal yang ditulis sesuai urutan periode waktu dan cukup sistematis.

Mary Russell, lahir pada 2 Januari 1900, dari ayah yang merupakan pria Amerika dengan ibu keturunan Yahudi Cockney (kelompok Yahudi di wilayah London, Inggris), mengalami trauma dan menanggung beban perasaan bersalah akibat kecelakaan tragis yang merenggut nyawa ayah, ibu dan adik laki-laki yang baru berusia 9 tahun namun termasuk bocah jenius, dimana ketiganya tewas seketika dalam kecelakaan mobil, meninggalkan satu orang yang selamat : Mary Russell, kala ia berusia 14 tahun. Warisan ayahnya yang lebih dari cukup, akan diberikan saat ia berusia 21 tahun, sehingga semenjak saat itu, Mary Russell harus hidup dalam pengawasan walinya, bibi yang sangat tidak disukai sekaligus membenci keberadaan gadis remaja yang cukup peka dan cerdas ini. Kehidupan serta masa depan suram membayangi benak Mary Russell, hingga setahun setelah kematian keluarganya, ia bertemu dengan Sherlock Holmes.

~ source ~
Dari sekedar sosok ‘apprentice’ demi menghabiskan waktu senggangnya alih-alih harus berurusan dengan sang bibi, perjalanan dan perkembangan Mary Russell berubah dibawah bimbingan Sherlock Holmes. Pria ini juga menemukan tantangan tersendiri dalam menghadapi Mary Russell – sosok unik yang dipandang bagaikan berlian yang belum terasah, tersembunyi dibalik selubung ‘lumpur’ yang mewarnai pandangan hidupnya. Berkat persahabatan baru antara keduanya, satu sama lain tanpa sadar saling membangkitkan semangat hidup masing-masing. Dipadu dengan semangat dan kasih sayang Mrs. Hudson – induk semang kediaman Sherlock, kunjungan Dr. John Watson yang akhirnya menjadi Uncle John tersayang bagi Mary, dan Paman Mycroft yang misterius, maka dimulailah petualangan seru nan menegangkan, kala mereka harus memecahkan aneka misteri hingga usaha mengungkap dalang yang mengincar nyawa mereka.

Kelebihan lain yang nampak pada perkembangan karakter utama dalam kisah ini, penulis menyajikan sosok Sherlock Holmes yang bisa dikatakan lebih ‘manusiawi’ – dibandingkan penggambaran ala Arthur Conan Doyle, tentang sosok penuh misteri, acuh terhadap kehidupan sosial, mengutamakan nalar diatas emosi sehingga cenderung terlihat ‘dingin’ dalam menanggapi hal-hal yang berbau ‘emosional’. Bahkan pameo bahwa Sherlock bisa dikatakan ‘pembenci-kaum-wanita’ karena tidak tahan dengan sifat feminin serta karakter yang emosional, justru sepanjang kisah karya Laurie R. King, hal ini dipertegas dengan penjelasan yang lebih sesuai dengan nalar ....bahwa Sherlock Holmes adalah manusia biasa yang juga memiliki emosi serta perasaan, termasuk kasih sayang terhadap pihak lain yang memang sangat jarang ia ungkapkan. Melalui rangkaian serial ini, pembaca akan dibawa sejauh mana hubungan emosional antar Sherlock dan Mary Russell berjalan, melalui aneka rintangan dan halangan yang tak kalah serunya.

~ source ~
Jika Anda merupakan penggemar kisah Sherlock Holmes, maka bersiaplah mengalami aneka kejutan yang sengaja dimunculkan oleh sang penulis dalam serial ini. Sosok Sherlock Holmes yang handal dan memiliki wawasan luas serta pengalaman bertahun-tahun sebagai pengamat, peneliti dan ilmuwan (detektif merupakan sebagian dari kesukaaanya mengungkap misteri yang sulit dipecahkan), harus mengakui kelebihan wawasan sosok wanita (remaja wanita jika mengikuti kisah ini semenjak awal), gadis yang memiliki kecerdasan dan kejelian luar biasa, keingin-tahuan untuk mengetahui apa saja, berpegang teguh pada paham feminisme (yang sungguh tepat terjadi pada periode waktu yang ‘sengaja’ dipilih oleh sang penulis), yaitu mencari pengetahuan serta ilmu serta kesetaraan dalam lingkungan masyarakat sesuai kemampuannya, menolak untuk menjalani apa yang telah digariskan sebagai ‘kodrat wanita’ oleh masyarakat serta status sosial.

Keseluruhan rangkaian karakter yang unik dan bertolak-belakang, namun sekaligus memiliki banyak kesamaan sifat (terutama keras kepala dan teguh dalam pendirian masing-masing), ditambah kombinasi misteri-misteri dari aneka kasus yang awalnya tampak acak, perlahan namun pasti, pembaca akan digiring melalui labirin misteri menuju pusat jawaban akan pertanyaan-pertanyaan yang dipastikan akan muncul kala Anda membaca halaman demi halaman. Jika Anda termasuk pembaca yang memiliki kesabaran dan kegemaran akan detil serta deskripsi yang cukup cermat, maka tak pelak serial ini akan menjadi salah satu bacaan yang layak dimasukkan dalam daftar koleksi Anda. Berbeda dengan penulisan Sir Arthur Conan Doyle yang mayoritas mewujudkan penulisan kisah petualangan Sherlock Holmes dalam format cerita pendek, yang menarik dan tidak membosankan, namun sekaligus tidak memberi kesempatan untuk memperluas latar belakang masalah serta perkembangan karakter secara detil, maka penulisan yang berwujud semi-jurnal karya Laurie R. King akan menjawab kekurangan tersebut dengan cara yang unik dan menarik.

~ This Post are include in ~



2014 READING CHALLENGE

Best Regards,

Hobby Buku

No comments:

Post a Comment

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...