Translate

Showing posts with label Epic Suspence. Show all posts
Showing posts with label Epic Suspence. Show all posts

Thursday, March 15, 2012

Books "KAZE"


Books : “KAZE”
Judul Asli : DEATH AT THE CROSSROADS 
( book 1 of Matsuyama Kaze )
Copyright © 1998 by Dale Furutani Flanagan
Penerbit Qanita ; ISBN
Alih Bahasa : Meithya Rose
Editor : Andhy Romdani
Proff Reader : Ocllivia Dwiyanti P.
Illustrations by Rahmat Gandari
Cover by Dodi Rosadi
Cetakan ke-01 : November 2008 ; 384 hlm 
Rate : 4 of 5

Kesan :
Buku ini merupakan bagian pertama dari trilogy yang ditulis oleh Dale Furutani-seorang keturunan Jepang-Amerika, dimana suatu hari ia terinspirasi untuk membuat kisah tentang kehidupan masyarakat Jepang terutama dalam masa peralihan sekitar tahun 1603 – suatu masa dimana selama 250 tahun kemudian Jepang dibawah kendali Tokugawa Shogunate.

Yang membuat kisah ini agak berbeda karena penulis memilih pendekatan dengan menulis fiksi berbau misteri – mengingat masyarakat pada waktu itu juga masih memegang kepercayaan akan adanya roh-roh jahat serta pemujaan dewa-dewa. Walaupun tema yang disajikan dapat dikatakan cukup sederhana, namun cara penulisan dengan dialog-dialog yang menyisipkan istilah serta kata-kata Jepang, mampu membuat pembaca seakan menonton sandiwara Jepang ( dengan bahasa yang lebih mudah dipahami tentunya ).

Selain menampilkan tokoh utama seorang Samurai bernama Matsuyama Kaze, penulis juga menyelipkan berbagai karakter yang mewarnai kisah ini – mereka terutama adalah korban-korban peperangan tiada henti yakni rakyat jelata.  Kisah kehidupan mereka dituturkan dengan manis, walaupun hanya sedikit namun mampu memberikan gambaran sekilas tentang keadaan pada jaman tersebut.

Paling tidak buku ini cukup memberikan hiburan bagi pembacanya & tidak termasuk kategori bacaan berat, dan akhirnya hanya berharap semoga kelanjutan seri ini mampu pula disajikan oleh penerbit dengan kualitas yang lebih baik lagi dan dalam waktu yang tidak terlampau lama … paling tidak dalam 1-2 bulan ( at least tidak seperti nasib kisah Sister Grimm, padahal seri kisah ini tidak kalah bagus dengan buku2 terbitan lain dengan kategori yang sama … )

Hanya satu ganjalan – covernya sangat tidak cocok untuk mencerminkan sosok samurai pada jaman tersebut, mungkin bertujuan hendak menarik pembaca dengan memasang cover foto model / bintang film ( yang jelas kelihatan banget klo mereka hasil produksi jaman modern dengan tampang ke-indo-an … masih lebih tampak menarik cover movie-nya The Last Samurai ) , malah mungkin bisa lebih bagus tanpa cover berupa foto seperti itu tapi menggunakan siluet sosok samurai or gambaran peperangan era tersebut.

Sinopsis :
Kisah ini mengambil latar belakang Jepang dalam masa pemerintahan klan Tokugawa di bawah pimpinan Lord Ieyasu. Masyarakat Jepang mengalami transisi dari pemerintahan sebelumnya Lord Hideyoshi yang mangkat, sehingga garis kekuasaan klan Taiko terhenti akibat makar yang dilakukakan oleh Tokugawa Ieyasu.

Kisah petualangan dimulai dengan penemuan sosok mayat di tengah persimpangan jalan yang menghubungkan desa Suzaka (timur), desa Higashi & keresidenan Rikuzen  (selatan), keresidenan Uzen (utara) serta pegunungan Fukuto (barat)

Yang menemukan mayat tersebut pertama kali adalah Jiro, petani yang beralih menjadi tukang jual arang. Penemu kedua adalah seorang samurai tak bertuan (ronin) yang kebetulan juga lewat pada waktu bersamaan. Samurai tersebut bernama Matsuyama Kaze. Ia sebenarnya adalah samurai yang mengabdi pada salah satu shogun penguasa yang berpihak pada Taiko Hideyoshi, dan saat tuannya tewas dalam pertempuran melawan pasukan Tokugawa Ieyasu, ia hanya berhasil menyelamatkan sang Putri, istri tuannya dari penangkapan. Namun putri satu-satunya dari keluarga tersebut, tertangkap & menghilang. Kaze mengemban misi khusus yang menjadi tanggung jawab seumur hidupnya, yakni menemukan jejak putri tunggal tuannya & menyelamatkannya.

Kisah berlanjut dengan keributan yang disebabkan oleh kedatangan Magistrat Wilayah setempat yang bernama Nagato Takamasu bersama pengawalnya, beliau menerima laporan dari Jiro, si tukang arang yang segera lari menuju desanya, desa Suzaka saat melihat kedatangan sang samurai di persimopangan.

Kaze langsung melihat ketidakberesan serta ketidak pedulian sang Magistrat dalam menangani penemuan tersebut. Alih-alih menyelidiki lebih dalam, beliau cenderung mencari jalan aman dengan menguburkan mayat serta perkara tersebut. Semula Kaze tidak akan ikut campur terlalu dalam, namun saat dirinya beserta Jiro ditangkap oleh Magistrat dengan tuduhan sebagai tersangka pembunuhan, maka ia pun bertekad menyelesaikan misteri yang menyelimuti desa Suzaka dan sekitarnya.

Niat Magistrat yang hendak melenyapkan Kaze beserta Jiro tanpa diduga mendapat hambatan justru dari Sang Penguasa Wilayah–Lord Manase yang terpikat dengan kecerdikan sang Samurai–Matsuyama Kaze. Memanfaatkan daya tariknya, Kaze berhasil mendapatkan penundaan atas hukuman mati yang sedianya akan segera menimpa Jiro – dengan janji bahwa Kaze harus dapat menngungkapkan siapa dalang pembunuhan sebenarnya.

Petunjuk utama yang diperoleh Kaze adalah anak panah yang digunakan unuk membunuh samurai tak dikenal itu. Anak panah tersebut memiliki keistimewaan yang menunjukkan bahwa pemiliknya pastilah bukan orang kebanyakan. Semula Kaze melakukan pnyelidikan bersama Magistrat Nagato bersama anak buahnya ( tentu saja atas perintah Lord Manase ), namun setelah Kaze mendapati dirinya diserang oleh kawanan Kuemon ( =bandit ) yang ternyata diketahui diam-diam bekerja sama dengan Magistrat, hal itu membuktikan kecurigaan Kaze sejak awal akan kebobrokan sistem peradilan di wilayah itu. Maka Kaze memutuskan menempuh jalur yang berbeda karena ia harus segera menuntaskan penyelidikan kasus ini agar dapat segera melanjutkan misinya semula – terutama saat kemunculan Obake-hantu dari mendiang istri tuannya, yang mengingatkan akan janjinya untuk menemukan putri mereka yang hilang.

Dari Jiro, Kaze mendapat saran agar mengikuti jejak Aoi-seorang pelacur Desa Suzaka yang kerap bertandang ke sarang para penyamun. Pada akhirnya Kaze menemukan persembunyian kawanan Kuemon dan melihat jumlah mereka yang sangat banyak, sungguh tak maungkin ia melawan seorang diri sehebat apapun permainan pedangnya. Maka menggunakan kecerdasan otak serta taktik perang, Kaze mulai menyusun siasat memanfaatkan Aoi guna menyebarkan ketakutan di antara kawanan tersebut.

Matsuyama Kaze – sebagai seorang samurai memperoleh banyak pembelajaran dari pertemuannya dengan orang-orang yang sebelumnya tak pernah dipandang sebelah mata. Sebagaimana kehidupan samurai yang mengabdi pada Shogun, maka ia pun dituntut membela serta membantu penguasa lain dalam pemerintahan karena posisi serta status mereka sebagai tuan bagi para samurai. Namun seiring dengan waktu, dalam sepanjang perjalanan petualangannya, Kaze justru banyak melihat ketidak-adilan yang menimpa rakyat jelata jstru akibat kesewenang-wenangan para penguasa setempat.

Maka Kaze-sang Samurai menjadi sosok yang lebih manusiawi & lebih ber-empati pada beberapa orang, contohnya bagaimana ia bahkan mengampuni nyawa Hachiro-salah satu anggota Kuemon yang menjadi pengikut alih-alih sebagai akibat korban perang ( Hachiro kecil  menyaksikan keluarganya tewas dibantai oleh tentara Tokugawa dalam perebutan kekuasaan ), bagaimana pada akhirnya ia menuntut keadilan atas pembunuhan Hachiro oleh seorang penguasa dan mengapa ia menemukan kesamaan dirinya dengan Jiro-sang penjual arang yang tak pernah dipandang sebelah mata oleh kalangan dimana dulu ia berada ( kasih sayang & cinta kasih Jiro terhadap mendiang istrinya mampu mengalahkan perasaan Kaze yang juga ditinggal oleh istri beserta putra-putrinya yang tewas bunuh diri / hara-kiri demi membela kehormatan saat kejatuhan pemerintahan Hideyoshi ). Bahkan Kaze membantu menyembunyikan pembunuhan sang Magistrat yang dilakukan oleh Ichiro-Kepala Desa demi membela putrinya yang hendak diperkosa ( hal tersebut bertolak belakang dengan aturan sistem peradilan pada waktu itu dimana rakyat biasa tak memiliki hak untuk bebas memilih bahkan demi keadilan sekali pun ).

Dengan menumpas akar kejahatan serta keserakahan di wilayah Desa Suzaka, Kaze melanjutkan perjalanan mengikuti petunjuk yang tanpa sengaja diperolehnya yang akan membawa dirinya pada sang Putri. Kaze belajar ketabahan hati serta keuletan justru dari orang-orang kecil / rakyat jelata serta lebih menghargai nilai-nilai kehidupan diatas martabat, kehormatan maupun status sosial sekaligus bahwa balas dendam justru hanya akan membawa kesengsaraan baru bagi orang lain.

Tentang Penulis :
Dale Furutani lahir di Hilo-Hawaii, pada tanggal 1 Desember 1946, merupakan generasi ketiga dari keturunan Jepang-Amerika / sansei. Keluarganya berasal dari Pulau Oshima, Selatan Hiroshima. Kakek & neneknya datang di Hawaii pada tahun 1896 sebagai pekerja di sebuah pabrik gula, namun kakeknya memutuskan kontrak karena bisnis ikan yang digelutinya lebih berhasil.

Ketika berusia enam tahun, Dale kecil diadopsi oleh John Flanagan dan pindah ke California. Pengalaman buruknya mendapat perlakuan rasialis dari teman-teman sekolahnya hanya karena dia satu-satunya orang Asia di sekolahnya, tak menghalangi Dale muda untuk melambungkan imajinasinya.

Dale memperoleh gelar akademis di bidang penulisan kreatif dari California State University, Long Beach serta gelar MBA di bidang pemasaran dan sistem informasi dari UCLA. Pada tahun 1993, novel pertamanya ‘Death in Little Tokyo’ meraih Anthony Award dan Macavity Award untuk Novel Misteri Debutan Terbaik.

Best Regards, 
* HobbyBuku * 

Friday, March 9, 2012

Books "THE BOOK OF NAMES"


Books “KITAB NAMA-NAMA“
Judul Asli : THE BOOK OF NAMES
Copyright © 2007 by Jill Gregory & Karen Tintori
Penerbit OnRead-Books Publisher
Alih Bahasa : Rosida Irshad
Editor : Tiara Dewi
Cetakan ke-01 : Maret 2008 ; 389 hlm 
Rate : 3 

Sinopsis :
Saqqara, Mesir – 7 Januari 1986 :
Sir Rodney Davis, arkeolog terkenal merasakan gelenyar kegirangan saat ia menemukan gulungan perkamen lontar yang merupakan Kitab Nama-Nama yang diburu banyak orang. Namun kebahagiaan itu hanya sekejab dirasakan saat ia merasakan cekikan kuat dari kawat disekeliling lehernya, sampai nafasnya terputus. Hanya tertinggal seringai puas di mata Raoul LaDouceur-asisten Sir Rodney selama belasan tahun, sebelum ia beranjak mengambil gulungan perkamen tersebut.

Rumah Sakit Hartford, Connecticut – 7 Januari 1986 :
Dr. Harriet Gardner sedang menikmati istirahatnya saat panggilan dari unit gawat darurat masuk. Tiga bocah dibawa masuk dengan luka-luka cukup parah ;  seorang gadis bernama Abby Lewis, Crispin Muller - putra Erik Muller duta besar dari Swiss, dan David Shepherd - putra Senator Robert Shepherd dari Amerika. Setelah berjuang selama beberapa jam akhirnya nyawa ketiga bocah tersebut berhasil diselamatkan dengan hasil yang berbeda-beda. Abby Lewis selamat dengan cidera fisik yang akan segera pulih. Crispin Muller tak pernah sadar kembali – ia berada dalam kondisi koma. Sedangkan David Shepherd merupakan keajaiban bagi Dr. Harriet karena ia telah dinyatakan ‘meninggal-dunia’ beberapa saat, sebelum akhirnya kembali ke dunia.

Universitas Georgetown, Washington D.C. – tahun 2005 :
Profesor David Shepherd sedang menikmati istirahat siang saat ia mengalami ‘kejadian aneh’ – tanpa disadari ia menulis nama seseorang yang tak dikenal : Beverly Panagoupolos. Nama itu seakan tertanam di benaknya secara tiba-tiba dan dalam perjalanan pulang David mendengar lewat radio bahwa saudara perempuan Perdana Menteri Yunani bernama Beverly Panagoupolos ditemukan tewas terbunuh secara mengenaskan satu jam sebelumnya.

Dengan gemetar David membongkar lemari guna mencari buku Jurnal-nya, buku dengan 145 halaman yang terisi penuh dengan ribuan nama-nama yang ditulis sejak ia mengalami ‘bangkit’ dari kematian pada kecelakaan fatal di masa remajanya. Nama Beverly Panagoupolos telah ditulis oleh David di dalam Jurnalnya pada tgl. 7 Oktober 1994. Penasaran, David mencari tahu nama-nama lain dalam Jurnalnya. Hasil pencarian lewat Google akhirnya menunjukkan bahwa nama-nama dalam Jurnal tersebut sebagin besar telah tewas akibat berbagai macam sebab. Setiap nama merupakan individu yang berbeda asal, suku bangsa, tempat tinggal, usia, profesi, tidak ada persamaan di antara mereka – kecuali nama-nama mereka tercantum dalam Jurnal yang ditulis oleh David & mereka telah tewas.

Khawatir dengan kesehatan pikirannya, David berkonsultasi pada sahabat karibnya, Pendeta Dillon McGrath-pimpinan Departemen Teologia Universitas Georgetown. Setelah sekian lama rahasia dirinya tersimpan, akhirnya David berterus terang akan kondisinya yang pernah ‘meninggal’ pada usia 13 tahun & setelah melalui ‘terowongan cahaya’ ia dinyatakan hidup kembali. Dua tahun setelah tragedy tersebut, dimulailah episode pemunculan nama-nama di benaknya. Dillon McGrath yang memahami & juga meng-khawatirkan kondisi David menyarankan agar ia bersedia berkonsultasi lebih lanjut pada Alex Dorset-seorang ahli hipnoterapi.

Pennsylvania – tahun 2005 :
Dengan enggan David mengikuti saran Dillon, dan sesi pertamanya dengan Alex membuahkan hasil aneh – David mengingat satu kata yang diserukan padanya dalam Lorong Cahaya menjelang kematiannya belasan tahun tahun, yaitu ‘Zakhor’ … sekali lagi Dillon membantu memberikan pencerahan karena kata tersebut berarti ‘ ingat ‘ dalam bahasa Ibrani, yang berarti satu hal, David memang ‘diminta’ untuk meng-ingat nama-nama yang ditulis dalam jurnalnya.

Dalam kondisi bingung serta penasaran, David yang juga menemukan nama putri tirinya  Stacy Lachman dalam jurnal tersebut, berusaha mencari tahu lebih dalam makna dari peristiwa-peristiwa aneh yang dialaminya. Karena jelas dalam beberapa bagian bahwa hal tersebut berkaitan dengan bahasa Ibrani, maka Dillon membuat janji temu David dengan Rabi Eliezer ben Mose-seorang ahli Kabbalah / guru besar tradisi mistik Yahudi.

Brooklyn, New York – tahun 2005 :
Berbekal jurnal berisi nama-nama serta batu akik yang merupakan milik Crispin Mueller yang tertinggal saat terjadi tragedy yang membuatnya koma hingga kini, maka David menemui Rabi Eliezer ben Mose dikediamannya. Penjelasan yang diterimanya dalam pertemuan tersebut membuat David terheran-heran karena batu akik yang tampak biasa-biasa saja ternyata diyakini merupakan salah satu dari duabelas batu yang menghiasi baju penutup dada  yang dikenal dengan sebutan ‘Baju Pengadilan’ milik Aaron-sang pendeta tinggi, saudara Nabi Musa. 

Dan yang lebih mengejutkan saat jurnal David diteliti, ternyata nama-nama yang tertulis di dalamnya sesuai dengan nama-nama yang tertulis pada papyrus kuno yang ditemukan di Timur Tengah, suatu jurnal kuno yang dikenal sebagai Kitab Nama-Nama yang dituliskan pertama kali oleh Adam & diwariskan turun temurun pada keturunan mereka bahkan pada Nabi Musa yang telah ditunjuk oleh Allah untuk membebaskan ‘anak-anak’ keturunan Israel menuju Tanah Perjanjian.

David tak dapat mempercayai penjelasan tersebut, rasanya muskil peristiwa ribuan tahun lampau berhubungan dengan apa yang telah dialaminya hingga kini. Namun dengan sabar Rabi Eliezer ben Mose menuntun David dalam penjelajahan singkat akan sejarah Kitab Nama-Nama. Kitab tersebut berada di tangan Isaac, salah satu putra Abraham dan disimpan selama bertahun-tahun di Kuil Valult di Yerusalem, hingga dirampas oleh bangsa Romawi semasa peperangan sekitar 70 SM dan sejak itu Kitab Nama-Nama menghilang beserta peninggalan-peninggalan lain, termasuk ‘Baju Pengadilan’ milik sang Pendeta Tinggi. Sampai akhirnya para arkeolog menemukan salinan naskah Kitab Nama-Nama milik Ishmael – putra Abraham lainnya, dan papyrus inilah yang sekarang sedang digali & diteliti oleh para pengikut-Nya. 

Namun mereka harus berlomba dengan waktu untuk memperoleh kelengkapan artefak suci tersebut, dikarenakan keterlibatan pihak lain yang bertekad pula memperoleh Kitab Nama-Nama namun dengan tujuan yang berbeda. Adapun pihak lain itu dikenal dengan Kelompok Gnoseos – yakni suatu komunitas rahasia masyarakat yang secara turun-temurun memeluk agama kepercayaan yang disebut Gnostik. Keseriusan Rabi Ben Moshe terbukti dengan kedatangan Yael HarPaz-arkeolog wanita yang tergabung dalam persekutuan yang bertugas melacak serta mengamankan peninggalan-peninggalan suci.

Tekad para pengikut Gnoseos untuk mendapatkan salinan Kitab Nama-Nama tersebut terbukti dengan penyerangan mendadak beberapa saat kemudian. Mereka telah mengutus pasukan pembunuh yang dijuluki Malaikat Kegelapan yang tak segan-segan membunuh siapa pun yang dianggap menghalangi tugas mereka.  David yang dilindungi oleh Yael HarPaz berhasil meloloskan diri dengan membawa jurnal serta kedua batu berharga, meninggalkan Rabi Ben Moshe & pengikutnya yang terbunuh dalam menghalangi para Malaikat Kegelapan.

Bingung, shock serta penasaran, David menuntut penjelasan lebih lanjut pada Yael – terutama mengapa pengikut Gnoseos memburu mereka. Penjelasan singkat yang diberikan Yael membuat tubuh David menjadi dingin karena ngeri. Nama-nama yang tercantum dalam papyrus kuno yang sama dengan nama-nama dalam jurnal David merupakan ‘nama-nama’ orang-orang khusus dan jarang yang keberadaan mereka di dunia diperuntukkan untuk menjadi keseimbangan kehidupan di dunia. Bersumber dari Kitab Talmud ( kitab yang membahas komentar para nabi tentang Kitab Perjanjian Lama ) disebutkan bahwa di setiap generasi dunia pasti terdapat 36 orang-orang budiman yang diberkahi oleh Shekhinah dan mereka ini disebut sebagai ‘LamedVovniks’ yaitu orang-orang special dimana jiwa mereka telah mencapai tingkat spiritual tertinggi dan kebaikan hati mereka yang membuat Tuhan dapat menjaga keberadaan dunia. Para pengikut Gnoseos memburu dan membunuh setiap nama yang tercantum di dalamnya guna menimbulkan kekacauan besar di dunia hingga kekuasaan Tuhan akan terkalahkan.

David mulai menyadari betapa serius serta besarnya bahaya yang mengancam dirinya juga keluarganya. Bahkan ia khusus meminta bantuan mantan pelatihnya Karl Hutchinson untuk ke Santa Monica, California, menjemput mantan istri serta putrinya, Meredith serta Stacy untuk  bersembunyi di tempat aman sambil menunggu kedatangan dirinya untuk menjemput mereka. Akan tetapi jaring perangkap telah disebar sedemikian cepat, musuh dengan ‘trengginas’ menyingkirkan orang-orang terdekat David bahkan mampu membuat David menjadi tersangka pembunuhan. 

Menghadapi konspirasi tersebut, maka David akhirnya menyanggupi bekerja membantu penelitian lebih lanjut atas LamedVovniks sebagai satu-satunya jalan melawan musuh – terutama demi menyelamatkan Stacy yang akhirnya jatuh ke tangan musuh. Maka berangkatlah David menuju Yerusalem. Dengan bantuan kelompok peneliti di kediaman Yael, David berusaha menemukan kunci yang dapat membantu penyelamatan sisa dari ke-36 nama yang masih hidup. Berburu dengan waktu, mereka semua tanpa istirahat bekerja membongkar misteri dari kode-kode rahasia pada salinan papyrus – dan disaat David hampir menyerah … datanglah ‘undangan’ tak terduga – suara dari kegelapan yang ‘mengundang’ kedatangan David dalam pertemuan puncak Gnoseos sedunia di jantung kota London.

Tanpa disadari mereka semua terlibat dalam peperangan yang mengerikan, perang melawan orang-orang yang berniat menghancurkan dunia semata-mata demi kemuliaan.

David harus berjuang keras menyelamatkan orang-orang yang dicintainya, meski ia harus mejelajahi hampir pelosok dunia – namun apa yang dapat dilakukan saat ia harus berhadapan dengan konspirasi besar yang telah terbentuk melibatkan para pemuka serta pejabat tinggi pemerintahan. David bahkan tak tahu harus mempercayai siapa saat orang-orang yang dianggap sahabat justru menjerumuskannya dalam masalah yang besar … dan yang sangat tak diduga, sebagian besar masalah yang dihadapinya disebabkan oleh ‘kenalan lama’ yang bangkit dari kematian hanya dengan satu tekad – menghancurkan David Shepherd semata.

Tentang Penulis :
Jill Gregaory dan Karen Tintori adalah rekanan penulis yang telah bersahabat baik sejak lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Jill Gregory adalah seorang penulis bestseller dari New York Times dan USA Today yang telah menulis lebih dari tiga puluh buku fiksi wanita. Karen Tintori adalah penulis pemenang penghargaan yang baru-baru ini menulis sebuah buku kenangan keluarga berjudul Unto the Daughters. 

Best Regards, 
* HobbyBuku * 


Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...