Translate

Showing posts with label The Boy Sherlock Holmes Series. Show all posts
Showing posts with label The Boy Sherlock Holmes Series. Show all posts

Monday, May 14, 2012

Books "VANISHING GIRL"


Judul Buku : The Boy Sherlock Holmes 3rd Case – VANISHING GIRL
Copyright © 2009 by Shane Peacock
Penerbit Noura Books 
Alih Bahasa : Maria Lubis
Editor : Ananta & Dini Handayani
Illustrasi Isi & Sampul : Sweta Kartika
Cetakan I : April 2012 ; 4222 hlm  
Rate : 3,5 of 5 

Sinopsis :
Pada suatu siang hari bolong pada pertengahan bulan Juli, masyarakat Inggris dikejutkan dengan peristiwa penculikan Victoria Rathbone – gadis berusia empat belas, putri tunggal Lord Rathbone, anggota terhormat Majelis Tinggi dan penasihat kabinet Perdana menteri Derby dalam bidang hukum. Semua berpikir penculikan tersebut berkaitan dengan kegigihan Lord Rathbone dalam memperjuangkan hukuman ekstrem terhadap para kriminal. “Jangan pernah memberikan keringanan kepada mereka,” adalah motonya yang terukir pada plakat di meja kerjanya.  

Dan hal itu dibuktikan dengan tidak menanggapi berbagai saran serta anjuran guna menemukan putrinya. Lord Rathbone tidak bergeming dalam menghadapi ancaman dari para kriminal. Yang menjadi teka-teki bukan hanya sikap keras-kepala Lord Rathbone, tapi juga tidak muncul satu pun petunjuk termasuk sebuah surat permintaan tebusan yang menunjukkan bahwa Victoria Rathbone memang diculik. Pihak Kepolisian Metropolitan London menghadapi misteri yang tak terpecahkan, bulan berganti bulan, masih tak ada tanda-tanda di mana Victoria berada...atau bagaimana nasibnya sekarang.

Kemudian pada suatu hari beberapa bulan kemudian, muncul berita aneh : sepucuk surat dialamatkan kepada Lord Rathbone, surat permintaan tebusan yang sudah dinanti-nanti sekian lama, meminta sejumlah tebusan yang sangat tinggi demi keselamatan nyawa Victoria. Pihak kepolisian yang menyelidiki kasus tersebut di bawah pimpinan Inspektur Lestrade akhirnya berhasil meyakinkan Lord Rathbone untuk bekerja sama menangkap sang penculik, dan langkah pertama yang ia lakukan adalah mengadakan ‘jumpa-pers’ untuk memancing si penjahat.

Masyarakat berbondong-bondong mendatangi acara tersebut. Mereka saling berspekulasi tentang peristiwa yang hampir dilupakan namun mengandung misteri yang mengundang kembali rasa ingin tahu – apa sebenarnya yang terjadi pada Victoria. Dan diantara gerombolan orang yang menghadiri acara tersebut, ada sosok pemuda kurus dengan tatapan tajam yang menyembunyikan ‘gairah’ yang bergejolak di hatinya – keinginan untuk menegakkan keadilan dan memperoleh kembali ‘janji-ketenaran’ yang diimpikannya. Pemuda itu adalah Sherlock Holmes – yang mengalami perseteruan serta persaingan sengit dengan Inspektur Lestrade dalam berbagai kasus-kasus kejahatan besar. 

Sherlock berhasil memecahkan misteri serta menangkap Geng Brixton, komplotan penjahat yang paling di cari di Inggris. Tapi segala taktik dan strategi untuk memperkenalkan ‘namanya’ pada dunia, kali ini berhasil kembali “dibungkam” oleh Inspektur Lestrade. Sherlock yang hampir saja kehilangan nyawa akibat tindakan nekadnya, justru mendapati pada akhir kasus besar yang diimpikanya, ia tak mendapatkan apa pun – termaksud uang jasa yang semula hendak digunakan untuk membantu Mr. Sigerson Bell, majikan sekaligus mentor yang memahami impian serta pemikirannya. Untunglah datang bantuan dari The Swallow, pemain trapezze terkenal yang terlibat dalam kasus Geng Brixton, dan ia memberikan rekomendasi pada semua kenalannya sehingga Mr. Sigerson Bell mampu membayar hutang yang melilit dirinya. 

Sherlock menemukan sebuah petunjuk penting, yang membawanya menelusuri jejak sampai ke luar dari wilayah London, menempuh perjalanan jauh yang rumit dan berbahaya, membuatnya dikejar-kejar oleh pihak berwajib sebagai penyelundup. Dan semuanya dilakukan dengan penuh tekad serta dendam membara, pada Inspektur Lestrade yang telah menghina serta mengungkit ‘luka-hati’ akibat kematian ibunya, serta hubungan tarik-ulur yang terjadi antara dirinya dengan Irene Doyle, yang entah bagaimana selalu kembali melibatkan sosok Malefactor – pemuda pimpinan Anak-Anak Jalanan di London. 


Anehnya untuk kali ini Irene Doyle memang memiliki peranan cukup penting dalam misteri lenyapnya Victoria Rathbone. Menurut kisah yang diceritakan olehnya kepada Sherlock di kemudian hari ... ia dan ayahnya Mr. Andrew Doyle, yang terlibat dalam kegiatan sosial membantu anak-anak yatim-piatu, suatu hari bertemu dengan bocah cilik bernama Paul Waller – yang menderita penyakit aneh sehingga perlahan namun pasti, ia akan mengalami kebutaan total jika tak segera diobati. 

Bocah ini mengingatkan Irene dan ayahnya atas kematian saudara laki-laki serta putra kesayangan Mr. Doyle yang telah meninggal karena sakit semasa kecil, dan wajah Paul Waller sangat mirip dengan putra keluarga Doyle yang telah meninggal sekian lamanya. Sebelum penculikan Victoria, Irene beserta ayahnya datang ke kediaman Rathbone, memohon bantuan pada Lord Rathbone untuk mengijinkan dokter pribadinya mengobati bocag malang itu ... namun belum sempat hal itu terlaksana, peristiwa menggemparkan terjadi, dan keluarga Rathbone menutup diri dari khalayak, tidak menerima kunjungan dari siapa pun ... dan kondisi Paul Waller semakin memburuk. 

Kesan :

 
"Sherlock & Mr. Bell "illustrasi by Sweta Kartika

Kelanjutan kisah petualangan Sherlock Holmes semasa muda kali ini dibuka dengan menunjukkan suatu peristiwa yang melibatkan Irene Doyle – gadis cantik yang memiliki pengaruh dalam perjalanan hidup Sherlock Holmes. Semula diriku berharap akan mendapat sedikit ‘pencerahan dan kejelasan’ berkaitan dengan hubungan antara keduanya ... tapi ternyata Irene Doyle kembali merupakan sebuah misteri yang lumayan ‘menjengkelkan’ ( bagi diriku terutama) dan tidak ada satu kejelasan apa sebenarnya peran dirinya, seakan hanya sebagai suatu pancingan belaka untuk menarik minat pembaca ...

Tapi terlepas dari rasa ‘tidak-senang sekaligus jengkel’ dengan karakter ini, syukurlah bahwa penulis mengembangkan karakter Sherlock Holmes ke arah yang lebih “menjanjikan” dan mendekati sifat orisinal yang dikembangkan oleh Sir Arthur Conan Doyle. Bukan mau membandingkan, tetapi memang cukup sulit menulis tentang sosok karakter yang sangat dikenal oleh masyarakat luas – terutama para Sherlockian ( para penggemar berat Sherlock Holmes ). 

Sherlock Holmes yang pada kedua buku sebelumnya digambarkan sebagai bocah emosional dan sering bertindak tanpa berpikir panjang, kali ini mulai menunjukkan kematangan dalam berpikir, mulai bisa menimbang beberapa prioritas yang harus dilakukannya, meski kadar kenekatannya justru semakin bertambah. Semenjak awal kisah ini, entah bagaimana diriku sudah bisa menebak bagaimana ending atau setidaknya ke arah mana jalur kisah ini akan dibawa – sehingga tiada suatu misteri yang menyelimuti kisah ini, lebih sebagai kisah thriller yang lumayan menegangkan. 

Jadi ada poin plus maupun minus dalam buku ke-3 dari serial ini. Apakah diriku cukup terpuaskan ? Jawabanku tidak, karena tidak sesuai harapanku (^_^), tapi cukup lumayan menghibur dan berharap di buku ke-4 pengembangan karakter Sherlock Holmes semakin dipoles dan ‘tidak-harus-sesuai’ dengan karakter orisinalnya ... terbukti di sini sosok Sherlock lebih menurutkan kata hati dan emosi ( sesuatu yang bakal ditertawakan oleh karakter orisinalnya, karena Sherlock selalu mengganggu rekanya Dr. Watson sebagai sosok romantis dan emosional, faktor-faktor yang tidak dibutuhkan dalam suatu penyelidikan ), akan tetapi jangan salah menafsirkan – karena diriku cukup lumayan menyukai perbedaan ini, menunjukkan bahwa Sherlock Holmes juga memiliki sisi manusiawi, dengan rasa iri, dendam, putus asa, serta tekad mewujudkan Impian dan janjinya pada sang ibu – satu-satunya orang yang memahami dirinya, dan tewas terbunuh dalam usaha membantu putra tercintanya. 

"Victoria Rathbone" illustrasi by Sweta Kartika

Satu-satunya yang ingin kuhindari atau mungkin sebaliknya segera diakhiri, hubungan Sherlock dengan Irene Doyle, karena meski diriku juga sesama ‘wanita’ – tapi dari buku pertama hingga buku ketiga ini, semakin lama kadar simpatiku pada Irene Doyle semakin menipis hehe ... why ? Karena ia sangat ‘plin-plan’ dan tidak terbantu dengan sikap Sherlock yang kaku dan tidak bisa luwes jika berhubungan dengan wanita ( kecuali mendiang ibunya ), dan Irene Doyle adalah wanita cantik dan sangat cerdas ( sesuatu yang juga menarik perhatian Sherlock, karena ia tak akan tertarik pada wanita cantik berotak kosong ) ... dan sangat manipulatif meski masih berusia muda. 

Sebelum kuakhiri kisah petualangan ini, perlu kuingatkan, dari segala “ocehan” dan keluh-kesah tentang kisah ini ... endingnya sangat aku sukai, memberikan suatu pengharapan positif bahwa Young Sherlock Holmes akhirnya menyadari apa sebenarnya tujuan hidup serta misinya – bukan sekedar mengungkap kejahatan dan mencari ketenaran belaka, so I can’t wait for the next books !!!  

Tentang Penulis :


Shane Peacock lahir di Thunder Bay, Ontario tahun 1957. Ia memulai karir menulisnya sebagai seorang jurnalis dan menerbitakan beberapa hasil tulisannya di Saturday Night, Reader’s Digest dan Sport Illustrated. Karyanya “The Boy Sherlock Holmes”, telah meraih beberapa penghargaan, di antaranya :
·         Booklist “Top Ten in Young Mysteries”
·         Pemenang Arthur Ellis Award for Juvenile Crime Fiction
·         Pemenang Medali Emas dalam Penghargaan Foreward Magazine’s Book of the Year
·         Pemenang Penghargaan IODE’s Violet Downey Book
Saat ini Shane tinggal dengan istrinya, Sophie Kneisel, dan ketiga anaknya di sebuah lahan pertanian dekat Cobourg, Ontario. Di saat senggangnya, Shane suka bermain hoki, membaca buku dan berimajinasi bahwa dirinya adalah pahlawan dalam setiap cerita.  

Best Regards,
* HobbyBuku * 

Friday, March 16, 2012

Books "DEATH IN THE AIR"


Judul Asli : The Boy Sherlock Holmes 2nd Case – DEATH IN THE AIR
Copyright © 2009 by Shane Peacock
Penerbit : Qanita  
Alih Bahasa : Maria Lubis
Editor : Tisa Anggraini
Illustrasi Isi & Sampul : Sweta Kartika
Cetakan I : Januari 2012 ; 352 hlm 
Rate : 4 of 5 

Sinopsis :
Sherlock Holmes berhasil memecahkan kasus pembunuhan di Whitechapel. Namun impian akan penghargaan atas jerih-payahnya, justru diambil dan dimiliki oleh Inspektur Lestrade. Tiada yang tahu keterlibatan Sherlock dalam menangkap sang pembunuh, bahkan kematian ibunya akibat membantu dirinya, justru memperburuk situasi Sherlock saat ini. Ya, dia tidak lagi buronan, tapi akan kemana ia pergi ? Ibunya tewas terbunuh, ayahnya menjauhi dirinya, menyalahkan Sherlock karena melibatkan kekasih hatinya, Irene Doyle yang sempat dekat dengannya pun terpaksa ia jauhi, agar tidak mengalami nasib serupa dengan ibunya … apalagi semenjak percobaan pembunuhan yang dialami oleh Irene sebelumnya. Sherlock tak memiliki siapa pun, ia tak tahu apa yang akan dilakukan kemudian. Tapi satu yang pasti – janjinya pada sang ibu menjelang kematiannya, Sherlock akan mengerahkan segenap kemampuannya untuk mengungkap kejahatan yang ada muka bumi ini.

Dan kesempatan tersebut datang tanpa diduga, bagaikan mendapat “harta jatuh dari langit” maka Sherlock pun mendatangi kasus berikutnya jatuh dari langit ke bawah di dekat kakinya. Seorang pemain trapeze terkenal, tewas jatuh karena luput meraih balok trapeze, namun mata tajam Sherlock mengamati bahwa ada kejanggalan pada potongan balok yang terjatuh itu. Saat Sherlock berusaha melihat balok itu lebih jelas, sang pemain trapeze ‘Monsieur Mercure’ berusaha berbicara, tapi Sherlock hanya menangkap sedikit : “Bungkam …aku”, kemudian ia tergeletak terbaring kaku. Sherlock berdiri, gemetar melihat kejadian nyata di depan matanya, apalagi ia sadar bahwa tubuh yang terbaring kaku itu belum mati, karena ia masih bernapas !!!  Saat itu tanggal 1 Juli 1867, enam minggu setelah peristiwa tragis yang dialaminya, dan kini Sherlock tahu kasus kedua yang harus ditanganinya. 

Sherlock bertekad meningkatkan kemampuannya. Karena itu ia melamar sebagai asisten toko farmasi milik Sigerson Trimegistus Bell – seorang apoteker tua yang eksentrik, bukan sekedar ahli medis belaka namun lebih menjurus sebagai seorang ilmuwan – ahli alkimia – seorang penyihir yang mempelajari hal-hal magis. Keunikan dan keanehan Sigerson itu menarik perhatian Sherlock sehingga ia bersedia menjadi asisten tanpa bayaran, hanya mendapat tempat berteduh dan makanan secukupnya. Dan tentunya ia dapat mempelajari ilmu-ilmu aneh dari si Tua Sigerson lewat penemuan-penemuan yang diciptakan setiap minggunya. Sigerson Bell tidak menyangka bahwa pemuda kurus dengan tampang sedih itu mampu mengimbangi pembicaraan tentang penelitiannya. Lama kelamaan, Sigerson  mulai menaruh perhatian lebih pada Sherlock, ia memberikan pelajaran bahasa, ilmu anatomi, serta teori-teori psikologis pada manusia.

Sherlock, sembari menjalankan tugasnya pada Sigerson, berusaha mencari masukan baru bagi penyelidikannya. Namun polisi pun tidak menemukan petunjuk baru, selain berita tentang kondisi Mercure yang masih hidup namun dalam kondisi tak sadarkan diri karena gegar otak yang parah ( istilah sekarang dalam kondisi koma ). Maka Sherlock berencana menemui sumber beritanya : Malefactor – Pimpinan Anak-Anaka Jalanan. Tapi ketika ia sedang dalam perjalanan mencari Malefactor, Sherlock justru tanpa sengaja melihat Sigerson Bell berjalan dengan langkah-langkah berat seakan-akan beban berat menimpanya, kemudian ia duduk di alun-alun, termenung sedih dengan pandangan jauh. Sungguh belum pernah Sherlock melihatnya seperti itu, karena Pak Tua tersebut senantiasa riang gembira, bahkan setiap pagi ia keluar dari tokonya untuk menemui para langganannya dengan ceria.

Dari ocehan anak-anak di dekat alun-alun, Sherlock tahu bahwa Sigerson Bell sudah berminggu-minggu melakukan hal itu. Kemudian ia teringat peristiwa sekitar tiga minggu sebelumnya, ada seorang tamu datang ke toko, namun keluar dalam kondisi marah dan mengancam Mr. Bell. Sewaktu Sherlock bertanya siapa gerangan orang itu, dijawab bahwa ia adalah Lord Redhorns – pemilik seluruh bangunan di kawasan toko sekaligus tempat tinggal Sigerson Bell. Sepertinya penyelamat Sherlock telah berutang sewa dan hanya dalam tempo kurang dari seminggu pelunasan harus dilakukan, atau mereka berdua tidak akan memiliki tempat berlindung.  

Sherlock berpikir keras bagaimana caranya membantu Mr. Bell. Satu-satunya cara yang bisa ia pikirkan hanyalah segera menemukan jawaban dari misteri ini dan meminta imbalan yang pantas atas informasi yang ia miliki. Maka ia segera bergegas mencari Malefactor, dan sungguh di luar dugaan, ia menemukannya bersama Irene Doyle – yang selama ini berusaha ia hindari. Akibatnya bukan informasi yang ia dapatkan, justru bentrokan kecil antara mereka bertiga terjadi, sehingga Sherlock meninggalkan mereka semua dengan geram. 

Maka Sherlock kembali ke tempat terjadinya perkara, guna mencari bukti-bukti tambahan dan mendapati The Swallow – anak laki-laki Mercure berada di lokasi itu. Tapi The Swallow justru mengucapkan kata-kata yang menambah kebingungan Sherlock. Pertama – ia ternyata bukan anak Mercure sebagai selama ini diberitakan. Kedua – ternyata semua orang membenci Mercure, berarti daftar musuhnya semakin bertambah, dan Sherlock tidak tahu lagi harus kemana mencari petunjuk baru. Satu-satunya yang cukup jelas baginya adalah, di tempat itu sekali lagi ia bertemu Inspektur Lestrade, yang memberikan peringatan keras agar Sherlock tidak mencampuri penyelidikan polisi dan menjauhi tempat kejadian perkara, kecuali ia mau dijebloskan ke dalam tahanan.

Kesan :
Dalam kasus kedua ini penggambaran tentang karakter Sherlock Holmes semakin berkembang. Dalam menghadapi tragedi kematian ibunya, penolakan ayahnya, perselisihan serta persaingan antara dirinya – Malefactor – Irene Doyle semakin memuncak. Sherlock digambarkan sebagai anak muda yang penuh kepahitan serta tekad membalas dendam pada siapa saja yang menghalangi jalannya – terutama dalam mewujudkan permintaan ibunya, bahwa ia : Sherlock Holmes harus mendapat pengakuan atas jerih payahnya mengungkap kebenaran dan keadilan serta menumpas segala jenis kejahatan.

Jika dalam kasus pertama ia dibantu oleh Irene Doyle dan Malefactor, kali ini justru mereka berdua seakan berperan sebagai stimulan kemarahan serta emosi Sherlock … menimbulkan sedikit konflik kepentingan, terutama peran Irene Doyle sedikit membingungkan – apakah ia sekedar ingin membuat Sherlock cemburu atau ingin agar Sherlock memohon kembali kepadanya ???

Namun Sherlock tidak mau dipusingkan oleh hal tersebut – maka aku pun beralih pada sosok-sosok baru yang tampil kali ini. Keberadaan Sigerson Bell sebagai majikan sekaligus mentor dan pelindung Sherlock sungguh menarik dan sangat tepat jika ia muncul sebagai jalan perwujudan nyata tokoh legendaris Sherlock Holmes yang tidak sekedar mengandalkan kekuatan fisik tapi kecerdasan serta kekuatan otak, terutama hal-hal ilmiah serta penemuan-penemuan yang dilakukan. Sosok Sigerson Bell yang eksentrik benar-benar mirip dengan karakter Sherlock Holmes aslinya …. Termasuk kemampuannya menyamar (^_^), sungguh aku tertarik bagaimana penggambaran metode pangajaran yang akan diberikan oleh Sigerson Bell ( sayang dalam kisah ini hanya diceritakan sekilas ).

Dan peran pembantu yang pemberani dan kuat, kali ini ditampilkan lewat karakter El Nino – bocah ajaib, pemain trapeze yang memiliki masa lalu kelam namun mampu bangkit dan menata hidup yang lebih baik, dan ia sangat cocok sebagai partner ‘diam-diam’ yang membantu Sherlock Holmes. Selain itu yang juga menarik, hubungan Sherlock dengan Inspektur Lestrade Senior yang semakin memburuk, tapi justru sang putra Lestrade Junior memberikan penghargaan dan rasa hormat atas kerja keras Sherlock, ini berarti Lestrade Junior inilah yang akan menjadi penghubung Sherlock Holmes di kasus-kasus mendatang di saat ia sudah mulai terkenal ( sesuai dengan karakter dalam kisah aslinya karangan Sir Arthur Conan Doyle ). 

Dengan penataan alur yang lambat kemudian mulai meningkat ketegangan serta konflik yang terjadi, serta masuknya karakter-karakter baru yang mengasyikkan, dan akhirnya menuju klimaks dengan ending yang sekali lagi menggantung … membuat diriku ingin segera membaca kelanjutannya. Penulis memang sengaja membuat serial ini ibarat chapter dalam buku, sehingga penjelasan atau anti-klimaks baru akan terungkap pada episode berikutnya, membuat pembaca kecanduan serta penasaran …. Dan kelihatannya rasa penasaran akan kejanggalan hubungan segitiga Malefactor- Sherlock – Irene Doyle ( terutama cewek satu ini, bikin jengkel atas tindak-tanduknya ) akan terungkap lebih jauh di kasus ke-3 ( lihat ‘sneak-peak’ buku kelanjutannya he..he.. )

Tentang Penulis : 

Shane Peacock lahir di Thunder Bay, Ontario tahun 1957. Ia memulai karir menulisnya sebagai seorang jurnalis dan menerbitakan beberapa hasil tulisannya di Saturday Night, Reader’s Digest dan Sport Illustrated. Karyanya “The Boy Sherlock Holmes”, telah meraih beberapa penghargaan, di antaranya :
·         Booklist “Top Ten in Young Mysteries”
·         Pemenang Arthur Ellis Award for Juvenile Crime Fiction
·         Pemenang Medali Emas dalam Penghargaan Foreward Magazine’s Book of the Year
·         Pemenang Penghargaan IODE’s Violet Downey Book
Saat ini Shane tinggal dengan istrinya, Sophie Kneisel, dan ketiga anaknya di sebuah lahan pertanian dekat Cobourg, Ontario. Di saat senggangnya, Shane suka bermain hoki, membaca buku dan berimajinasi bahwa dirinya adalah pahlawan dalam setiap cerita. 

Best Regards,
* HobbyBuku * 

Books "EYE OF THE CROW"


Judul Asli : The Boy Sherlock Holmes 1st Case – EYE OF THE CROW
Copyright © 2007 by Shane Peacock
Penerbit : Qanita  
Alih Bahasa : Maria Lubis
Editor : Ananta
Illustrasi Isi & Sampul : Sweta Kartika
Cetakan I : Oktober 2011 ; 368 hlm  
Rate : 4 of 5

Sinopsis :
London, 1867, seorang anak muda berusia tigabelas tahun dengan tubuh tinggi kurus dan kulit pucat, berpenampilan rapi dan bersih, mantel panjang hitam dengan dasi serta rompi dan sepatu bot yang disemir mengilap, tatapannya sedih namun jika dilihat dari dekat mata kelabunya tampak selalu siaga. Anak itu seharusnya berada di sekolah saat itu, tapi dia malah berkeliaran di sepanjang jalan, berputar-putar bergerak pada suatu pola tertentu, untuk mengamati keadaan di sekelilingnya, cara dirinya melatih ketangkasan serta kecermatan dalam analisa tentang perilaku seseorang. Anak itu bernama Sherlock Holmes, dan saat ia menekuni surat kabar The Illustrated Police News, sebuah berita tertangkap matanya …telah terjadi pembunuhan brutal semalam di Whitechapel, seorang wanita muda yang cantik ditemukan tewas dalam genangan darahnya, tak diketahui siapa wanita tersebut, mengapa ia berada di bagian kota tua yang terkenal kumuh dan berbahaya pada malam hari, hanya sebilah pisau panjang yang ditemukan di dekatnya – diduga sebagai senjata pembunuh.

Sherlock Holmes tertarik dengan misteri pembunuhan itu, karena wajah sang korban mengingatkan Sherlock akan ibunya ( terutama saat ibunya masih muda ), dan rasa ingin tahu yang sangat besar membuat dirinya bertekad menyelidiki kebenaran akan pembunuhan itu. Namun bukan hal yang mudah untuk memulai penyelidikannya. Pertama, ia masih dianggap anak-anak yang seharusnya bersekolah ( kedua orang tuanya, Rose dan Wilber Holmes, meski dalam keadaan serba kekurangan, tetap berusaha menyekolahkan Sherlock secara layak ), dan Sherlock membolos bukan karena malas, bahkan ia termasuk sangat pandai dan cerdas, kecuali dalam hal pergaulan sosial … membuat dirinya bosan dan tertantang mencari pengalaman lain dari berkeliaran di saat ia seharusnya ada di sekolah. 


Alasan lain Sherlock tidak menyukai sekolahnya, selain ia merasa tidak mendapat tambahan ilmu yang berarti atau menarik perhatiannya, ia sering mendapat gangguan dari anak-anak lain yang iri akan kecerdasannya dan mengoloknya sebagai ‘bocah setengah Yahudi’. Ibunya dulu bernama Rose Sherrinford, putri tunggal keluarga bangsawan dengan campuran Prancis, ahli waris kekayaan yang melimpah, sangat cantik dan menyukai menyanyi di opera. Namun semuanya berubah saat ia bertemu pemuda Yahudi yang genius bernama Wilberforce Holmes – anak imigran miskin, yang mendapat kesempatan langka untuk menempuh ilmu di sekolah ternama, bahkan menjelang masa studinya selesai, ia sudah mendapat penawaran untuk bekerja sebagai tenaga pengajar di salah satu institusi terkenal.
Keduanya bertemu di gedung opera, saling jatuh cinta hingga nekad kawin-lari ke Skotlandia. 

Sekembali mereka ke Inggris, segalanya berubah. Keluarga Rose tak mau mengenal atau mendengar apa pun yang berhubungan dengannya, dan Wilber mendapati masa depannya yang semula cerah, menjadi kosong, semua kesempatan dan tawaran yang pernah ada ditarik kembali. Pasangan muda ini pindah ke wilayah Southwark, menempati flat di atas toko pembuat topi, hidup serba kekurangan namun mereka mampu mempertahankan pernikahan serta keutuhan keluarga. Rose bekerja sebagai guru penyanyi dan juga menerima jahitan, Wilber yang genius namun tak bisa melamar di universitas mana pun akibat pengaruh ayah mertuanya, harus bisa menerima pekerjaan mengajar anak-anak di sekeliling tempat tinggalnya. Mereka memiliki 3 orang anak, yang tertua Mycroft  yang setelah cukup usia memperoleh pekerjaan rendahan di pemerintahan, tidak pernah pulang ke rumah. Kemudian Sherlock, tujuh tahun lebih muda, anak yang eksentrik dengan ketertarikan yang aneh dan Violet – si kecil yang berusia pendek, meninggal sebelum mencapai usia empat tahun.   
    

Saat ia memutuskan untuk mulai kembali ke sekolah, demi kedua orang tuanya, Sherlock menghadapi dilema. Ada kabar bahwa sang pembunuh sudah tertangkap, seorang pria Arab bernama Mohammad Adalji. Sherlock terbawa arus penonton yang berminat melihat wajah sang pembunuh saat dibawa dari tahanan menuju penjara Newgate. Sherlock terkejut melihat bahwa si pembunuh masih sangat muda, dan ketika ia diseret melewati kerumunan massa, ia terjatuh di depan Sherlock … sembari mengangkat wajahnya yang berurai air mata, Mohammad Adalji sempat berucap ada Sherlock : “Bukan aku pelakunya!” – membuat Sherlock terkesan karena ia seakan-akan benar tidak bersalah.   

Maka Sherlock Holmes berusaha mencari jalan untuk mencari tahu lebih banyak tentang pembunuhan itu. Dan satu-satunya cara untuk mendapatkan fakta-fakta yang jelas, ia harus mendatangi tempat kejadian perkara … tempat wanita itu terbunuh, di suatu sudut wilayah London yang kumuh juga berbahaya. Namun Sherlock membulatkan tekad, tak ada yang dapat menghalanginya dalam mengungkap fakta, termasuk menghadapi rasa takutnya … Dan ketika akhirnya ia tiba di tujuan, sekelompok gagak yang seperti mengikutinya, mengelilingi tempat pembunuhan. Di dekat tempat di mana seekor gagak mematuk-matuk paruhnya, di dekat bekas genangan darah wanita itu, Sherlock mendapati sebuah bola mata – menatapnya, membuat dirinya merasa seram, namun tetap dipungutnya benda itu, hingga ada seruan yang menarik perhatiannya … teriakan yang mengundang rasa takutnya, maka Shelock berlari sembari mengantongi bola mata itu.

Ternyata yang berteriak adalah polisi, yang mengawasi tempat kejadian perkara, dan pihak kepolisian mencurigai Sherlock sebagai seseorang yang berkaitan dengan peristiwa pembunuhan. Dan malam harinya, Sherlock mendapati polisi dipimpin oleh Inspektur Lestrade – mendatangi kediaman keluarga Holmes dan menangkap Sherlock dengan tuduhan sebagai konspirator. Sherlock Holmes ditahan dipenjara !!! Berdampingan dengan sang tertuduh utama, Mohammad Adalji. Bagaimana ia dapat mengungkapkan kebenaran jika ia juga ditahan ? Sherlock berusaha memutar otak, memikirkan caranya, namun tak ada yang mampu menyelesaikan masalahnya saat itu. Satu-satunya cara, Sherlock harus keluar dari penjara, tapi bagaimana caranya ??? Sherlock Holmes sungguh tak menduga bahwa kesempatannya akan datang saat kedatangan kunjungan tamu khusus : Mr. Andrew C. Doyle dan putrinya Irene Doyle. 

Sherlock Holmes harus mampu mengarahkan segenap kemampuannya untuk meyakinkan Irene Doyle, agar membantunya lolos dari penjara. Sherlock harus segera menemukan jawabannya, ia berlomba dengan waktu, karena batas eksekusi hukuman bagi Mohammad Adalji telah ditetapkan. Sherlock sadar bahwa ia membutuhkan sekutu, yang bisa membantu percepatan penyelidikannya. Siapa kira-kira yang memiliki informasi luas terutama tentang hal-hal yang brhubungan dengan kejahatan, serta meiliki pengaruh untuk melakukan sesuatu tanpa terdeteksi … hanya satu yang terpikirkan olehnya : Malefactor – pimpinan Anak-Anak Jalanan yang menguasai jaringan luas di London. Hanya ada satu masalah, antara Sherlock Holmes dan Malefactor terbentuk hubungan tidak suka namun menghormati satu sama lain.  Dan Sherlock yakin, Malefactor tidak akan memberikan bantuan jika tidak ada imbalan yang memuaskan, apa yang dapat ia tawarkan  pada Malefactor sedangkan ia sendiri dalam pelariannya …

Kesan :
Sebagai penggemar Sherlock Holmes – karakter unik kreasi Sir Arthur Conan Doyle, rasa ingin-tahu yang besar membuatku memutuskan membaca buku ini, kisah tentang Shelock Holmes sebagai seorang remaja miskin, berbekal hanya pada kecerdasan dan ketajaman pikiran serta tekad membaja, ia berusaha menempuh berbagai jalan yang tidak mudah, guna menyelesaikan tujuannya … memecahkan setiap misteri yang ada di hadapannya sampai tuntas. Dan penulis patut diakui, cukup bagus dalam membangun karakter-karakter sembari tetap menyelipkan dasar kisah riwayat Sherlock Holmes versi asli. Meski semula alur terasa bergerak sangat lambat, namun kemudian mulai bergerak bak film bergerak, sehingga pembaca mulai dapat membayangkan menonton kisah ini lewat pandangan Sherlock Holmes, ikut merasakan kengerian-ketakutan-rasa putus asa- serta perjuangan pemuda Sherlock Holmes dalam setiap langkahnya.

Jangan mengharapkan paparan analisis mutakhir ala Sherlock Holmes, karena penulis berupaya mewujudkan perjalanan Sherlock Holmes jauh sebelum ia terkenal sebagai detekti no. satu di Inggris ( versi Sir Arthur Conan Doyle ). Saat ini, sang tokoh utama justru mengalami banyak jatuh-bangun-jatuh lagi demi tercapainya tujuannya. Sosok Sherlock sebagai remaja muda, yang masih memiliki semangat berapi-api, terutama bersumber dari kesedihan dan kemarahan akan nasib buruk yang menimpanya. Harga dirinya sebagai keturunan bangsawan serta rasa hormat akan dirinya (kemungkinan karena pengaruh cerita-cerita sang ibu – Rose, yang terkadang membawanya pada kisah masa lampaunya sebagai putri bangsawan) menjadi suatu pergulatan tersendiri saat ia dalam pelariannya, sebagai buronan. Terpaksa bekerjasama dan menerima bantuan dari kelompok Anak-Anak Jalanan pimpinan Malefactor – sosok pemuda yang lumayan berperan dalam setiap agenda kegiatan Sherlock.

Bahkan persahabatan serta perseteruan unik antara Malefactor – Sherlock Holmes – Irene Doyle (suatu contoh bahwa penulis berusaha memasukkan versi asli ke dalam karyanya, sang ayah Andrew C. Doyle mungkin persamaan dengan Sir Arthur Conan Doyle (^_^) sedangkan Irene Doyle … well besar kemungkinan  persamaan dengan Irene Adler ) meski terkadang sedikit membingungkan, namun cukup menarik untuk mencari tahu bagaimana perkembangan hubungan di antara ketiganya. 

Dengan ending yang cukup mengejutkan, menurutku kisah ini sangat menghibur dan lumayan menarik, meski tidak luar biasa …mungkin juga karena pengaruh karakter Sherlock Holmes karya Sir Arthur Conan Doyle begitu melekat dibenak-ku, ibarat Hercule Poirot-nya Agatha Christie, sosok karakter unik yang tak ada tandingnya (^_^), maka seringkali diriku tanpa sadar membandingkan kedua karakter Sherlock Holmes yang “sometimes” menimbulkan kontradiksi. Sebagai contoh antara karakter Malefactor yang serba berteka-teki, tidak langsung pada sasaran, justru sedikit mengingatkan akan ke-eksentrikkan Sherlock Holmes versi asli, dan karakter Sherlock Holmes muda yang berapi-api, tanpa tedeng aling, tidak suka berputar-putar justru merupakan mixed karakter Dr. Watson – partner sejati Sherlock Holmes. But anyway, it just my opinion … so far this stories quite interesting to read, enjoy it !!

Tentang Penulis : 

Shane Peacock lahir di Thunder Bay, Ontario tahun 1957. Ia memulai karir menulisnya sebagai seorang jurnalis dan menerbitakan beberapa hasil tulisannya di Saturday Night, Reader’s Digest dan Sport Illustrated. Karyanya “The Boy Sherlock Holmes”, telah meraih beberapa penghargaan, di antaranya :
·     ~    Booklist “Top Ten in Young Mysteries”
·     ~    Pemenang Arthur Ellis Award for Juvenile Crime Fiction
·     ~    Pemenang Medali Emas dalam Penghargaan Foreward Magazine’s Book of the Year
·     ~    Pemenang Penghargaan IODE’s Violet Downey Book
Saat ini Shane tinggal dengan istrinya, Sophie Kneisel, dan ketiga anaknya di sebuah lahan pertanian dekat Cobourg, Ontario. Di saat senggangnya, Shane suka bermain hoki, membaca buku dan berimajinasi bahwa dirinya adalah pahlawan dalam setiap cerita. 

Best Regards,
* HobbyBuku * 

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...